Bersama Kak Sinyo, STID Mohammad Natsir Gelar Seminar Bahaya LGBT

STIDNATSIR.AC.ID – Berdasarkan data yang ditemukan Yayasan Peduli Sahabat, 14 juta dari 250 juta penduduk Indonesia terindikasi kuat merupakan nonheteroseksual (memiliki orientasi seksual sesama jenis kelamin). Namun yang mencengangkan, pelaku tindakan homoseksual dari kalangan heteroseksual (memiliki orientasi seksual pada lawan jenis) mencapai 28 juta orang. Dengan kata lain, jumlahnya dua kali lipat dari jumlah pengidap nonheteroseksual.

Klien yang direhabilitasi oleh Yayasan Peduli Sahabat berasal dari berbagai kalangan. Ironisnya, 60% pasien peduli sahabat merupakan aktivis muslim di beberapa organisasi Islam. Ketika ditanya mengapa bergabung dalam organisasi Islam, mereka memberikan jawaban mengejutkan, “Karena saya tidak akan dicurigai mengidap orientasi homoseksual jika berada di lingkungan aktivis muslim,” jawab mereka.

Timbulnya orientasi nonheteroseksual dapat disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal antara lain; didikan orang tua yang memperlakukan anak lelaki seperti perempuan, dan anak lelaki yang jarang berinteraksi dengan lelaki.

Faktor biologis juga dapat menjadi faktor internal timbulnya orientasi nonheteroseksual pada seseorang, namun persentasenya sangat kecil sekali yang mengalaminya, dan bukan termasuk DNA dan gen. “Oleh sebab itu, kaum aktivis LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) menyerah memperjuangkan pengakuan pemerintah (Indonesia) untuk melegalkan LGBT dari asas biologis, sekarang mereka menggunakan asas Hak Asasi Manusia,” urai Kak Sinyo pada seluruh mahasiswa STID Mohammad Natsir yang memadati Auditorium Kampus Putra STID M Natsir, Selasa (12/3).

Dalam seminar tentang bahaya LGBT tersebut, konsultan Yayasan Peduli Sahabat tersebut melanjutkan, faktor eksternal yang dapat mempengaruhi seseorang adalah gempuran (blow up) media sosial dan teman (lifestyle).

Meme-meme di media sosial yang memperlihatkan gambar tak senonoh antara sesama jenis, awalnya risi dilihat oleh anak-anak. Namun jika terus digempur dengan gambar-gambar demikian, lama kelamaan anak-anak akan menganggap biasa hal tersebut. Sialnya, anak sekarang lebih dekat dengan handphone dan waktunya banyak dihabiskan di dunia maya. Diperparah dengan teman-temannya yang kerap menonton sinema korea yang mempertontonkan adegan vulgar sesama jenis yang seakan menjadi hal biasa. Semua ini tentu akan menjadi bahaya laten nantinya, dan akan menjadi bom waktu bagi orang tua.

Meskipun birokrasi di negeri ini sedang bobrok, kata Kak Sinyo, namun rakyat Indonesia patut bersyukur dan bangga terhadap kebijakan mereka. “Meskipun anggota DPR banyak yang korupsi, Alhamdulillah mereka menolak pengakuan terhadap LGBT, padahal PBB sendiri sudah mendukung hak LGBT,” ujarnya.

Ia juga berpesan, apabila ada seseorang yang diketahui memiliki orientasi homoseksual, maka tidak boleh dicaci melainkan harus dinasehati dan diarahkan bersama ke jalan yang benar. Ia menilai, seseorang heteroseksual memiliki kemungkinan mengalami “bisikan” berperilaku nonheteroseksual, karena setan dan iblis akan terus menyesatkan manusia, sebagaimana kaum Nabi luth yang merupakan heteroseksual digoda untuk melakukan hubungan sesama jenis.

Oleh sebab itu, seorang muslim harus terus mempelajari agamanya, menjaga adab dan auratnya, serta bergaul pada lingkungan yang baik untuk terhindar atau mereduksi serta menghilangkan bisikan negatif tersebut.

“Orientasi seksual yang normal hanya ada satu di dunia, yaitu heteroseksual (orientasi seksual pada lawan jenis),” ucap konsultan yang memiliki nama asli Agung Sugiarto itu.

Namun karena beberapa sebab tadi, timbul lah bermacam orientasi seksual seperti homoseksual/lesbian (hasrat seksual sesama jenis), Biseksual (hasrat seksual pada laki-laki dan perempuan), Aseksual (tidak memiliki hasrat seksual pada apapun dan siapapun, populasinya hanya 0,01% di dunia dan biasanya perempuan), Firgid (ketakutan untuk berhubungan seksual karena sebab, terjadi para perempuan), dan Fetish (tertarik pada benda tertentu sehingga menimbulkan orientasi seks).

Awalnya kaum penyuka sesama jenis hanya ada di kalangan lelaki saja (homoseksual), namun karena “kecemburuan” kaum wanita, akhirnya mereka membuat gerakan serupa lalu menamainya dengan kaum “Lesbian”. Nama lesbian sendiri diambil dari nama sebuah pulau di Sisilia, Italia yang bernama pulau Lesbos. Di pulau tersebut, terdapat seorang wanita penyair yang kerap membuat syair cinta sesama perempuan.

Yayasan Peduli Sahabat adalah yayasan yang bergerak pada penanganan pengidap orientasi nonheteroseksual, maniak game, pecandu pornografi, pecandu zat adiktif, dan lainnya. Untuk berkonsultasi seputar hal tersebut dapat melalui online tanpa dipungut biaya. []

Reporter : Faris Rasyid

Editor : Saeful R

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*