eco farming logo
Webstidnatsir.ac.id
-->

Download Brosur

 

Image Hosting by PictureTrail.com

Download Mimbar

 

Image Hosting by PictureTrail.com

Banner
Home Arsip Artikel Artikel STUDI TENTANG KONSEP TUHAN MENURUT TASAWUF FALSAFI
STUDI TENTANG KONSEP TUHAN MENURUT TASAWUF FALSAFI PDF E-mail
Written by Admin   
Thursday, 13 May 2010 11:51

Oleh: Ujang Habibi

 

Pendahuluan

Tasawuf ada beberapa aliran, seperti tasawuf Akhlaqi, tasawuf Sunni dan tasawuf Falsafi. Adapula yang membagi tasawuf kedalam tasawuf 'Amali, tasawuf Falsafi dan tasawuf 'Ilmi.[1] Akan tetapi dalam makalah kecil ini hanya akan dibahas secara lebih fokus tentang tasawuf Falsafi saja.

Secara garis besar tasawuf falsafi adalah tasawuf yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi mistis dan visi rasional. Tasawuf ini menggunakan terminologi filosofis dalam pengungkapannya, yang berasal dari berbagai macam ajaran filsafat yang telah mempengaruhi para tokohnya.[2]

 

 

Beberapa Konsep Tasawuf Falsafi Tentang Tuhan

Pantheisme, adalah ide dasar dari tasawuf falsafi. Pantheisme berasal dari kata yunani, yaitu pan yang berarti semua dan theos yang berarti Tuhan. Jadi pantheisme adalah  paham  yang menganggap Tuhan adalah immanen [ada di dalam] makhluk~makhluk. Dengan kata lain Tuhan dan alam adalah sama.[3]

Kaum sufi falsafi menganggap bahwasanya tiada sesuatupun yang wujud kecuali Allah, sehingga manusia dan alam semesta, semuanya adalah Allah. Mereketidak menganggap bahwasanya Allah itu zat yang Esa, yang bersemayam diatas Arsy.[4] Dalam tasawuf falsafi, tentang bersatunya Tuhan dengan makhluknya, setidaknya terdapat beberapa term yang telah masyhur yaitu ; hulul, wadah al~wujud dan ittihad.

 

1. Hulul

Hulul merupakan salah satu konsep didalam tasawuf falsafi yang meyakini terjadinya kesatuan antara kholiq dengan makhluk. Paham hulul ini disusun oleh Al-hallaj. Didalam sufi termonologi disebutkan ;

Hulul is incarnation this word implies the indwelling of the divine in man which is the entering of one thing into another. Incarnation is considered to be heretical doctrines. They hafe been comdemnedby the man of Allah, those who know that "the slave remains the slave and the lord remains the lord" no mather how close they are to each other "he who islost in Allah, is not Allah himself. The hululis are doctrine of "incarnation".[5]

 

Kata hulul berimplikasi kepada bersemayamnya sifat-sifat ke-Tuhanan kedalam diri manusia atau masuk suatu dzat kedalam dzat yang lainnya. Hulul adalah doktrin yang sangat menyimpang. Hulul ini telah disalah artikan oleh manusia yang telah mengaku bersatu dengan Tuhan. Sehangga dikatakan bahwa seorang budak tetaplah seorang budak dan seorang raja tetaplah seorang raja. Tidak ada hubungan yang satu dengan yang lainnya sehingga yang terjadi adalah hanyalah Allah yang mengetahui Allah dan hanya Allah yang dapat melihat Allah dan hanya Allah yang menyembah Allah.

Sebagai salah satu bentuk tasawuf falsafi, paham hulul memiliki landasan filosofis tertentu sebagai tempat pijakannya. Tuhan menurut pandangan Al-Hallaj adalah yang Maha Cinta dan Maha Kasih, dan cinta kasih terhadap dirinya sendiri menjadi menjadi sebab adanya semua makhluk, termasuk bani Adam adalah sebagai jelmaan Tuhan yang menciptakan semua makhluk-makhluknya itu....Atas dasar inilah kemudian Al-Hallaj meyakini bahwa dalam diri Tuhan ada sifat kemanusiaan yang disebut Nasut, dan pada manusia terdapat sifat Tuhan yang disebut Lahut. Dengan demikian pada dasarnya Al-Hallaj mengakui adanya dualisme, yaitu Tuhan memiliki sifat Lahut sekaligus sifat Nasut (sifat kemanusiaan). Begitu pula manusia memiliki sifat Nasut sekaligus memiliki pula sifat Lahut (sifat keTuhanan)...Dengan kerangka berfikir tersebut maka persatua antara makhluk dengan khaliq dapat terjadi.[6]

Beberepa ungkapan Al-Hallaj yang terdapat makna Hulul adalah sebagai berikut: Al-Hallaj pernah ditanya" Siapakah anda?, ia menjawab 'aku adalah Allah".[7]

Diantara sya'ir Al-Hallaj yang terkenal adalah sebagai berikut:

Aku adalah Allah

Dan aku benar-benar Allah

Aku menyandang Dzat-Nya

Hingga tiada beda antara aku dengan-Nya[8]

 

Aku adalah orang yang menitis

Dan yang menitis itu adalah aku

Kami adalah dua ruh yang menempati satu jasad

Ruh-Nya adalah ruhku

Dan ruhku adalah ruh-Nya

Siapakah yang melihat dua ruh

Yang menempati satu jasad[9]

 

Gejala pemikiran Al-Hallaj yang berupa hulul sehingga terucap dalam ungkapan-ungkapannya tersebut diatas telah ada tanda-tandanya sejak ia melaksanakan ibadah haji pertama kali ke Makkah…Ketika melaksanakan haji ia berjanji pada dirinya akan menyelesaikan umrah selama satu tahun di Masjidil Haram dengan berpuasa dan berzdikir. Pada kesempatan ini Al-Hallaj berusaha menurut caranya sendiri untuk menyatu dengan Allah SWT., dan mulai sejak itu pula Al-Hallaj menyerukan konsep hululnya itu.[10]

2. Wahdah Al-wujud

Istilah wahdah Al-wujud sangat dekat dengan pribadi Ibnu Arabi, sehingga ketika menyebut pemikiran Ibnu Arabi seakan-akan terlintas tentang doktrin wahdah Al-wujud. Oleh karena itu dalam sub bab ini akan difokuskan pada teori Ibnu Arabi.

Wahdah Al-wujud this tem carries different meanings. It may indicate the unity of existence and the oneness of  being and the oneness of finding. At the end of the peth only Allah is found. This is the unity of existence, the oneness of being, the oneness of finding.[11]

 

Wahdah Al-wujud dapat berarti; penyatuan eksistensi atau penyatuan dzat. Sehingga yang ada atau segala yang wujud adalah Tuhan [Tuhan telah bersatu dengan alam\segala sesuatu].

Wahdah Al-wujud adalah faham yang disusun oleh Ibnu Arabi. Aliran ini pada dasarnya berlandaskan pada perasaan, sebagaimana Ibnu Arabi pernah berkata;"maha suci dzat yang menciptakan segala sesuatu dan dia adalah sesuatu itu".[12]

Dalam mengomentari pernyataan tersebut, harun nasution mengatakan bahwa Wahdah Al-wujud berarti kesatuan wujud, unity of  existence. Faham ini adalah kelanjutan dari faham hulul yang dibawa oleh muhyiddin Ibnu Arabi.[13] Dalam teori tentang wujud, Ibnu Arabi mempercayai terjadinya  emanasi, yaitu Allah menampakkan sesuatu dari wujud materi…….berikut ini adalah beberapa pernyataan Ibnu Arabi yang mengandung  ide wahdah al-wujud.[14]

?????? ??? ??? ??? ???? ??? ?? ?????? ??? ????

"….wujud tidak lain adalah dari al-haq karena tidak ada sesuatu yang berwujud kecuali dia",

??? ??? ?? ?????? ??????? ??? ???? ??????? ?????

"tiada yang tampak dalam wujud melalui wujud kecuali al-haq, karena wujud itu adalah al-haq….."

 

Pernyataan-pernyataan Ibnu Arabi diatas menunjukan bahwa semua yang tampak, yang ada di alam semesta ini bukanlah wujud yang hakiki, bukanlah wujud yang independent, akan tetapi alam semesta iniadalah sebagai perwujudan dari wujud Allah, karena bagi Ibnu Arabi yang berwujud hanyalah kholiq.

Dalam teori wahdah  al-wujud ini, jika diri Allah terdapat wujud yang setera  hal itu akan menimbulkan dualitas wujud. Dan hal itu akan membawa pada kesyirikan. Bagi yang meyakini faham wahdah al-wujud, semua yang ada di alam semesta inisesungguhnya hanyalah sebuah ilusi atau bayangan yang ditangkap oleh indra manusia, dimana manusia itu juga merupakan ilusi.

Pemahaman tersebut diatas ibarat seseorang yang melihat bayangannyadalam cermin. Gambar yang terlihat dalam cermin itu meskipun ada dan tampak jelas, namun sebenarnya ia hanyalah ilusi atau bayangan dari orang yang bercermin tersebut. Dan apabila seseorang bercermindengan menggunakan beberapa cermin, maka bayangannya orang yang bercermin itupun menjadi banyak. Padahal hakikatnya adalah satu. Hal ini sebagaimana di jelaskan didalam fusush Al-hikmah ;

??? ????? ??? ???? ??? ??? ?????? ?????? ??????? ?????

"wajah sebenarnya satu, tetapi jika engkau perbanyak cermin maka ia akan menjadi banyak".[15]

 

Dari uraian diatas  dapat disimpulkan bahwa teori wahdah Al-wujud, yang dipelopori oleh Ibnu Arabi adalah faham yang meyakini tidak ada yang wujud kecuali Tuhan yang Esa, sedangkan alam semesta hanyalah bayangan dari Tuhan. Dengan kata lain antara kholiq dengan makhluk adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Konsep wahdah Al-wujud dari Ibnu Arabi ini ditentang oleh Ibnu Taimiyah dengan ungkapan nya; "Ibnu Arabi berkeyakinan bahwa wujud hanyalah satu, wujud alam adalah wujud Allah, wujud makhluk adalah wujud kholiq dan segala sesuatu adalah perwujudan-Nya. Oleh karena itu ia zindiq.[16]

Adalah tepat yang dikemukakan oleh ibnu taimiyah diatas, sebab Rasululloh SAW. Tidak pernah mengajarkan bahwa tidak ada yang wujud kecuali Allah, akan tetapi beliau menyerukan bahwa tidak ada Tuhan [yang berhak diibadahi]kecuali Allah.

Hal ini sesuai dengan sabda Rasululloh SAW. Dari ibnu umar r,a sebagai berikut;

"aku diutus untuk memerangi manusia sampai mereka mengakui bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah, dan mendirikan shalat, dan mengeluarkan zakat, maka apabila mereka mengerjakan itu, terpelihara dari padaku darah dan harta mereka, kecuali menurut hukumislam dan perhitungan amal mereka terserah kepada Allah SWT.".[HR.Bukhari-Muslim][17]

 

Hadist ini secara jelas menjelaskan bahwa Rasululloh sSAW. Mewajibkan seorang hamba Allah bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia [laailaha illalahi] dan bukan tidak ada yanh wujud kecuali Allah [laa wujuda illalah].

 

3. Ittihad

Pengertian ittihad sebagaimana disebutkan dalam sufi terminologi adalah;;

Ittihad is unificatioisme or the coming together of two thinhs. Ittihad is considered to be an heretical doctrine in that it presupposes the existence of two independent beings, and this is in contradictionto the concept of oneness of  being [wahdah al-wujud]. When taken to mean "union" then itthad is used in the sense that things are non-existence is Allah's. it may also refer to the experience of oneness whith Allah.

 

Ittihad adalah penggabungan antara dua hal yang menjadi satu. Ittihad merupakan doktrin yang menyimpang dimana didalamnya terjadi proses pemaksaan antara dua ekssistensi. Kata ini berasal dari kata wahd atau wahdah yang berarti satu atau tunggal. Jadi ittihad artinya bersatunya manusia dengan Tuhan.

Tokoh pembawa faham ittihad adalah Abu Yazid Al-busthami. Menurutnya manusia adalah pancaran Nur Ilahi, oleh karena itu manusia hilang kesadaranya [sebagai manusia] maka pada dasarnya ia telah menemukan asal mula yang sebenarnya, yaitu nur ilahi atau dengan kata lain ia menyatu dengan Tuhan.[18]

Ketika Abu Yazid sedang dalam keadaan ittihad, ia berkata ;"Aku adalah Allah, tidak ada Tuhan selain aku. Karena itu sembahlah aku. Maha suci aku, maha besar aku, aku keluar dari diri Abu Yazid sebagaimana ular keluar dari kulitnya. Tampaknya olehku bahwa sang pecinta  [al-Asyiq] dan yang dicinta [al-ma'syu] serta cinta [al-isyq] adalah satu kesatuan".[19]

 

Dalam ungkapan yang lain Abu Yazid berkata ; "maha suci aku, maha suci aku, alangkah maha agungnya aku ".[20]

 

Dan ia beliau pula di waktu yang lain ;

"Pernah Tuhan mengangkat aku dan ditegakkannya aku dihadapan-Nya sendiri. Maka berkatalah Dia kepadaku ; " hai Abu Yazid! Makhluk-ku ingin melihat engkau. Lalu aku berkata : Hiasilah aku dengan wahdaniat-Mu, pakaikanlah kepadaku pakaian ke-akuan-Mu, angkatlah aku kedalam ke-satuan-mu. Sehingga apabila makhluk-Mu melihat aku. Mereka akan berkata ;Kami telah melihat engkau. Maka Engkaulah itu dan aku tidak ada disana".[21]

 

Itulah kaum sufi falsafi, mereka meyakini bahwasannya alam semesta ini hanyalah bayangan fatamorgana dan biasan dari zat Allah. Semua yang ada ini adalah wujud Allah, jelmaan Allah. Sehingga bagi mereka [kaum sufi falsafi] manusia, jin, pepohonan, bebatuan, cacing, hewan melata, burung-burung, atau bahkan anjing dan babipun, semuanya adalah jelmaan Allah.

 

Analisa kritik terhadap pantheisme

 

Didalam kritik ini akan dikomparasikan antar pendapat-pendapat dan perkataan para tokoh sufi falsafi dengan Ayat-ayat Al-qur'an dan pendapat para ulama salafush-shalih, apakah sesuai atau tidak sesuai sehigga dapat diambil sebuah kesimpulan tentang pendapat kaum sufi falsafi tersebut.

Pantheisme yang diyakini oleh kaum sufi falsafi adalah bertolak belakang dengan firman Allah SWT. Yang telah menetapkan bagi diri-Nya itu tidak ada sesuatu pun yang menyamai-Nya. Allah berfirman;

??? ????? ??? ??? ?????? ?????? (??????: 11 )

"Tidak ada sesuatupun yang menyamai-Nya. Dan Dialah yang maha mendengar dan maha melihat".[QS  Asy-syura ; 11]

Ibnu Katsir dalam mentafsirkan ayat ini menyebutkan bahwa tidak ada yang serupa dengan dia dalam penciptaan dan sifat-Nya yang maha tinggi. Dan Allah SWT. Adalah zat yang tidak ada sesuatupun yang setara dengan-Nya.

Mujahid mengatakan tidak ada sesuatupun tandingan dari makhlik-Nya yang akan menyaingi-Nya atau yang mendekati-Nya.

Perkataan Abu Yazid ; "Aku adalah Allah......"adalah sebuah ungkapan syirik akbar[22] yang nyata (tidak membutuhkan pemikiran yang mendalam bagi akal sehat atas kesyirikan perkataan tersebut).

Perkataan yang menganggap bahwa "segala sesuatu yang ada di alam semesta ini adalah Allah" adalah bertentangan dengan salah satu ayat:

??????? ???? ???? ??? ??? ?????? (??????? : 191 )

"Patutkah mereka berbuat syirik [dengan menyembah kepada selain Allah] yang tidak dapat menciptakan apa-apa ? padahal sesuatu selain Allah itu adalah ciptaan-Nya"[QS Al-a'raf [7] : 191 ]

Kaum tasawuf falsafi dalam usahanya mengenal Allah SWT. lebih mengedepankan pendapat akal dan dengan mengesampingkan nash-nash yang shahih. Hal ini sangat memungkinkan untuk terjadinya kesalahan dan menyimpang dari yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya SAW. didalam Al-qur'an dan as-sunnah.

Disamping itu pula, didalam konsep tasawuf  falsafi lebih mengutamakan Riyadhoh Rohaniyah sampai mencapai fana'[23] sehingga mengenal  Allah diluarkesadaran mereka. Dan sudah pasti, mengenali sesuatu, terlebih lagi mengenal Allah di luar alam sadar maka akan tersesat.

Konsep Al-ittihd. Al-hulul dah wahdah Al-wujud jika dipandang dari sudut ilmu tauhid maka termasuk syirik. Karena ketiga konsep tersebut mensekutukan sesuatudengan Allah SWT. dikatakan zat diri telah bersatu dengan wujud Tuhan, atau jiwa telah tenggelam, lebur menjadi satu kedalam hadhirat Tuhan atau bahkan alam semesta adalah jelmaan Tuhan. Ininjelas kesyirikan yang nyata.

Menurut aqidah islamiyah yang murni, Tuhan adalah maha Esa, bersifat dengan sifat-sifat-Nya yang sempurna, tidak dapat disekutui oleh sesuatupun. Zat,  sifat dan perbuatan Allah adalah maha Esa, tidak menerima persekutuan. Jika Allah dapat bersatu dengan manusia atau alam semesta sebagaimana anggapan dan keyakinan dalam tasawuf falsafi, maka berarti hilanglah ke-maha  Esaan-Nya, dan ini adalah mustahil bagi Allah SWT.

Allah semata-mata berlainan denga dunia real ini secara hakiki. Ia adalh pencipta makhluk. Antara Tuhan dan makhluk adalah berbeda.

Oleh sebab itu, bagaimana kedudukan Al-qur'an dan As-sunnah, jika konsep ini dibiarkan berkembang didalam Islam? Kafir disamakan dengan mukmin, fasik sama dengan taat dan bahkan hewanpun sama hakikaynya dengan Tuhan. Sungguh sangat berbahaya ketiga konsep tersebut bagi umat islam dan benar-benar sesat-menyesatkan. Ketiga konsep tersebut adalah merupakan aliran filsafat yang berasal dari agama hindu yang dimasukkan kedalam tasawuf, guna merusak Islam dari dalam.

Amat berbahaya jika kaum muslimin memandang bahwa konsep ittihad, hulul dan wahdah Al-wujud sebagai metode mendekatkan diri kepada Tuhan.[24]

Oleh karena itu Rasulullah Saw diutus ke dunia ini untuk menghancurkan  keyakinan-keyakinan semacam itu [anggapan bahwa Allah bersekutu dengan makhluk ciptaan-Nya] dan meluruskannya dengan tauhid  la ilaaha illallah, Tiada  Tuhan yang berhak disembah selain Allah.

 

Penutup

Dari awal terjadinya manusia sampai hari ini tidaklah punah kemusyrikan. Kemusyrikan apapun bentuknya adalah sebuah kezhaliman yang paling zhalim, Innasy-syirka lazhulmun 'azhim. Tasawuf falsafi yang meyakini atas bersatunya makhluk dengan khaliq, menyamakan Tuhan dengan alam semesta dengan konsepnya pantheisme adalah merupakan tindakan keji. Adakah kekejian yang lebih tinggi lagi dari pada kekejian orang yang menganggap dirinya adalah Tuhan atau bisa bersatu dengan Tuhan!

Begitulah sampai hari ini pemahaman-pemahaman yang menyimpang dan keji ini berkembang dengan berbagai model, ada yang berkedok liberal, nabi-nabi palsu, kerajaan Tuhan, dan lain-lain serta bentuk gerakan yang teratur dan biaya yang cukup, tentunya tidaklah kita hanya cukup diam.

 

REFERENSI

  1. Abdurrahman Abdul Kholiq, Penyimpangan-penyimpangan Tasawuf, terj., Jakarta: Robbani Press, 2001
  2. Amatullah Amstrong, Sufi Terminology (Al-Qamus Al-sufi), Kualalumpur: A.S. Noordeen, 1994, Cet. I
  3. Ali Mudofir, Kamus Teori Dan Aliran dalam Filsafat Dan Teologi, Yogyakarta: UGM Press, 1996, Cet. 1
  4. Atang Abd. Hakim dan Jaih Mubarok, Metodologi Studi Islam, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2000, Cet. III (Ed. Revisi)
  5. Gilani Kamran, Ana Al-Haq (Menyingkap Teosofi Al-Hallaj), Surabaya: Risalah Gusti, 2001, Cet. I
  6. Hamka, Tasawuf- Perkembangan dan Pemurniannya, Jakarta: Panjimas, 1993, cet. VIII
  7. Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1995
  8. Ibnu Arabi, Al-Futuhat Al-Makkiyah, ditahqiq oleh usman Yahya, Kairo: al-Hayat al-Misriyah, 1972
  9. Ibrahim Hilal, at-Tashawwus al-islami Baina ad-Din wa al-Falsafah, terj. Ija Suntana dan E. Kusdin, Bandung: Pustaka Hidayah, th. 2002, cet. 1
  10. Ihsan Ilahi Zdahir, Dirasat Fit Tasawuf, terj., Jakarta: Dar al-Haq, 2001, Cet I
  11. Kaida, Abu Yazid Al-Busthami, Nuqtoh, II, 01, Maret 2003
  12. M. Kholis Nafis, Konsep Wahdatul Wujud Ibn 'Arabi, th. 2002
  13. M. Sobirin dan Rosihan Anwar, Kamus Tasawuf, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2000
  14. Muniron, Pandangan Al-Ghazali Tentang Ittihad Dan Hulul, Jurnal Pemikiran Islam Paramadina, Jakarta: paramadina, 1999, Vol I, No. 2
  15. Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Iman dan Shahih Muslim dalam Kitab Al-Iman
  16. Syeikh Hafidzh Hakami, 200 Sual Wa Jawab Fil 'Aqidah al-Islamiyah, terj. Jakarta: GIP, cet.2
  17. Yunasril Ali, Membersihkan Tasawuf dari Syirik, Bid'ah dan Khurafat, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1987, cet. 2

 

 

 

 

 


[1] Atang Abd. Hakim dan Jaih Mubarok, Metodologi Studi Islam, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2000, Cet. III (Ed. Revisi), hlm. 63

[2] M. Sobirin dan Rosihan Anwar, Kamus Tasawuf, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2000, hlm. 224

[3] Ali Mudofir, Kamus Teori Dan Aliran dalam Filsafat Dan Teologi, Yogyakarta: UGM Press, 1996, Cet. 1, hlm. 177

[4] Abdurrahman Abdul Kholiq, Penyimpangan-penyimpangan Tasawuf, terj., Jakarta: Robbani Press, 2001, hlm. 59

[5] Amatullah Amstrong, Sufi Terminology (Al-Qamus Al-sufi), Kualalumpur: A.S. Noordeen, 1994, Cet. I, hlm. 76

[6] Muniron, Pandangan Al-Ghazali Tentang Ittihad Dan Hulul, Jurnal Pemikiran Islam Paramadina, Jakarta: paramadina, 1999, Vol I, No. 2, hlm. 145

[7] Ihsan Ilahi Zdahir, Dirasat Fit Tasawuf, terj., Jakarta: Dar al-Haq, 2001, Cet I, hlm. 387

[8] Ihsan Ilahi Zdahir, Dirasat Fit Tasawuf , hlm. 388

[9] Ihsan Ilahi Zdahir, Dirasat Fit Tasawuf , hlm.390

[10] Gilani Kamran, Ana Al-Haq (Menyingkap Teosofi Al-Hallaj), Surabaya: Risalah Gusti, 2001, Cet. I, hlm. 3

[11] Amatullah Amstrong, Sufi Therminology, hlm. 254

[12] M. Kholis Nafis, Konsep Wahdatul Wujud Ibn 'Arabi, th. 2002, hlm. 3

[13] Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1995, hlm. 92

[14] Ibnu Arabi, Al-Futuhat Al-Makkiyah, ditahqiq oleh usman Yahya, Kairo: al-Hayat al-Misriyah, 1972, hlm. 516-519

[15] Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, hlm. 93

[16] M. Kholis Nafis, Konsep Wahdatul Wujud Ibn 'Arabi, hlm. 6

[17] Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Iman dan Shahih Muslim dalam Kitab Al-Iman

[18] Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, hlm. 82

[19] Ibrahim Hilal, at-Tashawwus al-islami Baina ad-Din wa al-Falsafah, terj. Ija Suntana dan E. Kusdin, Bandung: Pustaka Hidayah, th. 2002, cet. 1, hlm. 23

[20] Kaida, Abu Yazid Al-Busthami, Nuqtoh, II, 01, Maret 2003, hlm. 34

[21] Hamka, Tasawuf- Perkembangan dan Pemurniannya, Jakarta: Panjimas, 1993, cet. VIII, hlm 94.

[22] Syirik Akbar adalah menjadikan sesuatu selain Allah sebagai sekutu yang disamakan dengan Allah Tuhan semesta alam. (Syeikh Hafidzh Hakami, 200 Sual Wa Jawab Fil 'Aqidah al-Islamiyah, terj. Jakarta: GIP, cet.2, hlm. 44

[23] Fana' menurut bahasa berarti lenyap atau lebur. Bagi para sufi fana' dapat berarti: pertama. Fana' fish-shifat ; hilang-lenyapnya sifat kemanusiaan dari diri seseorang yang menuju Tuhannya. Sifat-sifat yang ada pada dirinya saat itu hanyalah sifat-sifat Tuhan semata. Kedua, fana fil af'al, yaitu hilanglah perbuatan kemanusiaan pada sufi, yang ada hanyalah perbuatan-perbuatan yang bersifat Ilahiyah. Dan yang ketiga ialah fana an_nafs, yaitu lenyapnya perasaan atau kesadaran sufi dan melebur kedalam Kemahakekalan Tuhannya.

[24] Yunasril Ali, Membersihkan Tasawuf dari Syirik, Bid'ah dan Khurafat, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1987, cet. 2, hlm. 41.

 


Powered by Joomla!. Designed by: download drupal themes  Valid XHTML and CSS.