Pengabdian Da’wah

Sebelum lulus di STID Mohammad Natsir, mahasiswa wajib melakukan pengabdian da’wah setahun. Mahasiswa ditugaskan ke berbagai daerah pedalaman, perbatasan, terpencil, dan suku terasing. Program ini adalah warisan pendiri Dewan Dakwah, Dr. Mohammad Natsir. Program pengabdian da’wah pedalaman ini sudah tersebar hampir di seluruh Indonesia. Seperti di Kalimatan, Jawa, Sulawesi, Maluku, Sumatera, dan Papua. Untuk wilayah timur, saat ini fokus di NTT dan NTB.

Para dai yang ditugaskan tidak hanya dibekali ilmu agama saja, namun juga ilmu di dalam bersosialisasi dan beriteraksi dengan masyarakat setempat. Tugas para dai juga melakukan pemberdayaan masyarakat guna meningkatkan ekonomi dan pengetahuan masyarakat misalnya di bagian cocok tanam, ternak dan sebagainya. Para dai yang ditugaskan di daerah pedalaman seperti di bagian timur melakukan pemberdayaan ternak sapi. Sedangkan di Mentawai mereka bercocok tanam, terutama padi.

Para da’i juga melakukan sejumlah program pengembangan masyarakat binaan, antara lain: Saatnya Da’i Dibekali, Da’i Datang Desaku Terang, Da’i Datang Desaku Rindang, Da’i Datang Perbatasan Tenang, Ternak Sehat, Bantuan Pertanian, Wakaf Al-Qur’an, Pelatihan Iqra’, Wakaf Sumur buat Sedulur, Respon Darurat Korban Bencana Alam & Kemanusiaan, dan Qurban Multimanfaat.

Masa tugas mereka biasanya satu sampai dua tahun. Lalu, mereka digantikan rekan lainnya. Mereka membuat dan mengaktifkan berbagai kegiatan keislaman melalui majelis taklim serta membina mualaf. Dakwah merupakan salah satu kewajiban utama sesuai tuntutan Al-Quran dan hadis. Itulah tugas mulia umat di dunia, yakni menyebarkan risalah Ilahi.