Dr. Adian Husaini Klaim STID Mohammad Natsir Kampus Terbaik SeJabodetabek

STIDNATSIR.AC.ID – Mendapat kesempatan menyampaikan orasi ilmiah dalam acara Wisuda Sarjana ke IX STID Mohammad Natsir, Dr. Adian Husaini mengulas seputar sepak terjang Universitas Islam di era disrupsi, Sabtu (26/10/19).

Dalam sebuah kesempatan menghadiri forum diskusi ilmiah di salah satu Universitas Islam di Yogyakarta, Dr. Adian menarik kesimpulan bahwa belum ada konsep yang matang mengenai Kampus Islami terbaik, serta masih menjadi PR besar mengintegrasikan unsur keilmuan dan keagamaan di dunia kampus.

Saat ini masih lekat pola pikir bahwa sekolah terbaik adalah yang dapat membantu anak didiknya diterima di kampus favorit. Jika paradigma ini terus dirawat, maka bukan tidak mungkin akan timbul masalah. Ia menemukan data bahwa 30,5 % mahasiswa banyak yang serius untuk bunuh diri karena depresi. Menurutnya ada kekeliruan dalam memaknai tujuan pendidikan. “Tidak semua mahasiswa pinter, tapi dia terbaik sesuai kemampuan dia,” ujarnya.

Prosesi wisuda sarjana IX STID Mohammad Natsir

Dalam acara yang berlangsung di Auditorium Masjid Al Furqon Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, Jakarta ini Dr. Adian menyatakan, STID Mohammad Natsir adalah Kampus Terbaik seJabodetabek, “Saya berani jamin kampus terbaik seJabodetabek adalah STID Mohammad Natsir. Saya bisa jamin, versi Adian Husaini,” tegasnya. Menurutnya, secara definitif Kampus terbaik adalah yang menghasilkan manusia terbaik (Da’i) sebagaimana yang tertuang dalam QS. Fushilat ayat 33. STID Mohammad Natsir memang selalu komitmen dalam mencetak da’i yang kompeten dan berkontribusi bagi bangsa dan agama. “Kita memang harus mengacu pada Al Qur’an dan Sunnah (dalam mendefinisikan).

Dr. Adian melanjutkan, Kini kita berada di era disrupsi. Sekarang sudah berkembang Mass Open Online University atau Kuliah Online. Alumni STID M Natsir tak perlu khawatir karena memiliki kompetensi IT dan Pemikiran, Bahasa, Aqidah, dan Akhlaq untuk bersaing di luar.

Dr. Adian juga mengatakan, sekarang yang diperlukan bukan spesialisasi, namun yang memiliki soft skill karena dapat dikembangkan. Oleh sebab itu, menurut para pakar siswa harus dididik menjadi seorang pembelajar.

Foto bersama wisudawan dan Dewan Senat Akademik STID Mohammad Natsir

Berita terkait : STID Mohammad Natsir Selenggarakan Wisuda 79 Kader Da’i dan Da’iyyah

Selain itu, Dakwah butuh pelaporan yang intens. Kita masih kurang dalam segi publikasi, serta teknik menulis yang baik. Padahal publikasi memegang peranan penting dalam mempengaruhi opini masyarakat. Seperti halnya masyarakat Amerika dahulu sangat menolak hubungan sesama jenis (homoseksual & Lesbian), namun orang yahudi di Amerika yang hanya 3% jumlahnya bisa mempengaruhi opini mayoritas masyarakat Amerika lewat Film dan Media Sosial, sehingga kini Amerika sangat menerima dan membela LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender).

“Perlu di STID fokus masalah ini. Harus kita lahirkan penulis-penulis yang unggul dengan menggunakan media sosial,” ujarnya.

Turut hadir Mantan Penasehat KPK, Abdullah Hehamahua

Dalam acara Wisuda Sarjana ke IX STID M Natsir ini, sebanyak 79 da’i dan da’iyah mengikuti prosesi wisuda. Sebelum berangkat ke pedalaman, mereka akan mengikuti pembekalan da’i pada 29-31 Oktober mendatang di Gedung Menara Da’wah Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Jakarta. [FR]

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*