BEM Bina Anak-Anak Punk Mengaji

STIDNATSIR.AC.ID – Divisi Da’wah BEM Ikhwan STID Mohammad Natsir menyelenggarakan program “Punk Kajian”, Senin (23/9/19). Kegiatan rutin pekanan ini fokus mengajar dan membina anak-anak Punk, kali ini bertempat di Cileungsi Bogor.

Kegiatan “Punk Kajian” ini diadakan di Mushola Al Amin, Cileungsi Bogor. Dimulai pukul 14.00 sampai pukul 16.00 WIB. Adapun teknis pelaksanaannya, BEM mengirim tim pengajar berjumlah 3 orang, para mahasiswa mengajarkan Tahsin Baca Iqro, Talaqi (Dikte) surat Al Fatihah dan surat-surat pendek sekaligus diskusi, acara ini diawali dengan nasehat singkat dari ustadz Reza selaku pemateri utama. Beliau menyampaikan tentang Urgensi Pentingnya Membaca dan Mempelajari Al Qur’an, memotivasi para anak Punk untuk berhijrah dan berubah ke arah yang lebih baik. Selepas shalat Ashar dilanjutkan dengan tahsin iqro dan talaqi surat-surat pendek bersama rekan-rekan mahasiswa BEM STID M Natsir,  “Biasanya materi yang disampaikan seputar Aqidah dan Tauhid, Fiqih, bacaan sholat serta motivasi hijrah,” tutur Ali Imran yang sering membersamai sekaligus mengisi kajian Punk Kajian Bekasi

Tim BEM STID Mohammad Natsir saat mengajarkan anak-anak Punk mengaji

Anak anak Punk yang berada di sekitaran Ramayana Cileungsi ini menyambut baik program ini, salah satu koordiantor lapangan, Iwan mengatakan, “Kami berharap dengan diadakannya Punk Kajian ini semoga bisa mengubah mereka dan memberantas buta hurup Al Qur’an, sekaligus bisa memberikan pembinaan spiritual.

Baca juga : Sambangi Kampung Melayu, BEM Akhwat Berikan Bantuan pada Kaum Duafa

Mungkin sepintas tersirat di benak kita bahwa kehidupan anak punk yang serba bebas, pemalak, hidup di sembarang tempat, kurang menghargai kebersihan dan lainnya, namun mereka menjadi demikian tentu ada sebab musababnya, kita sebagai da’i mesti paham keadaan mereka, mereka sejatinya sama seperti manusia yang lainya butuh sentuhan dan ilmu pengetahuan.

BEM ‘Ngeliwet’ bersama anak-anak Punk setelah belajar mengaji

Bang Iwan, Korlap Punk Kajian menceritakan, dahulu ia pernah memiliki usaha jasa pasang tato yang omsetnya mencapai belasan juta, namun setelah hijrah ia memilih berjualan mie ayam yang keuntungan tak seberapa asalkan halal, “Awal mula hijrah kemiaman saya mulai goyah, namun Alhamdulillah saat ini saya syukuri” ungkapnya.

Ia juga berharap semoga ke depan, anak-anak punk tidak hanya diberikan pembinaan spiritual, namun ada pembinaan ekonomi sehingga tidak mengandalkan ‘ngamen’ di jalanan. Acara ini diakhiri dengan ‘ngeliwet’ bersama. [Irfan Mulyafoh]

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*