STID Mohammad Natsir Selenggarakan Bedah Buku Karya Dosen, Ustadz Syuhada Bahri : Siapa Bilang Istiqomah Berat ?

STIDNATSIR.AC.ID – Bagian Perpustakaan bekerja sama dengan Bidang Penelitian STID Mohammad Natsir menyelenggarakan Bedah Buku ‘Istiqomah dan Realitasnya Dalam Dakwah dan Pendidikan’ yang merupakan karya dosen STID M Natsir, Dr. Anung Al Hamat, Lc di Masjid Wadhah Abdurrahman Al Bahr Pusdiklat Dewan Da’wah Bekasi, Sabtu (16/11/19). Hadir sebagai narasumber, Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Periode 2007-2015, K.H. Syuhada Bahri beserta penulis. Acara ini diadakan agar para kader dakwah Dewan Da’wah dapat mengambil faidah dari faidah yang terkandung dalam buku ini.

Dalam acara yang diikuti oleh ratusan mahasiswa, dosen, staf dan masyarakat umum ini, Dr. Anung mengatakan, di antara yang melatarbelakanginya menulis buku ini adalah fenomena yang terjadi pada sebagian kaum muslimin yaitu istiqomah pada suatu syariat, namun bersikap ekstrem pada sisi lain. Seperti seorang wanita yang istiqomah berpakaian syari, namun melakukan poliandri dengan alasan suami pertamanya merupakan Pegawai Negeri Sipil, sementara wanita tersebut berkeyakinan bahwa PNS tergolong kafir. Belum lagi fenomena lain yang semisal. Hal ini ternyata dahulu juga pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seorang ahli ibadah, Abu Darda berpuasa di siang hari dan sholat malam semalam suntuk sehingga sehingga tidak pernah disentuh. “Maka harus dibedakan antara Islam dengan pelakunya,” simpul Dosen STID Mohammad Natsir tersebut.

Sesempurna apapun seseorang pasti memiliki kesalahan. Sebagaimana Allah mengingatkan Nabi Muhammad Dalam Surat Hud ayat 112 agar senantiasa istiqomah, kemudian mewanti-wanti para sahabat agar tidak berlaku ekstrem dalam melaksanakan syariat Islam. Maka dalam banyak ayat, taubat justru diperintahkan Allah kepada orang beriman, fasik, pelaku maksiat dan sebagainya. Tidak diperuntukkan kepada orang kafir dan munafik.

Dosen alumni Jurusan Hadits Fakultas Ushuluddin Universitas Al Azhar Cairo Mesir tersebut menyatakan, dalam buku ini ditulis pula hambatan-hambatan istiqomah dalam dunia dakwah dan pendidikan. Meski demikian, Dr. Anung mengatakan bahwa buku karyanya itu hanyalah tulisan manusia biasa yang tak luput dari kesalahan.

K.H. Syuhada Bahri mengapresiasi penulisan buku ini. Menurutnya, buku ini ditulis secara akademis dengan gaya bahasa ulama sehingga mudah dipahami dan dicermati. Lantas beliau mengatakan, sedikitnya ada dua faktor yang membuat kaum muslimin menganggap istiqomah sulit diaplikasikan. Pertama, Terperangkap oleh tipu daya setan, sebab setan juga istiqomah dalam menggoda manusia. Kedua, dakwah kita belum mampu memahamkan manusia arti iman kepada Allah. Belum lagi banyak dai yang mengatakan istiqomah di jaman fitnah ini berat, sehingga menjadi pembenaran.

“Kita tidak boleh menganggap istiqomah berat, karena Allah tidak membebani Hamba di luar kemampuannya. Harusnya Quran dan Sunnah menjadi kacamata memandang Islam, namun banyak dari kita berganti-ganti kacamata menyesuaikan dengan realita. Istiqomah gak begitu !, ” ujarnya.

Beliau melanjutkan, seorang da’i tidak boleh mengatakan tantangan dakwah semakin berat, tapi semangat dakwahnya lah yang sedang turun. Istiqomah juga tidak dapat ditunda,” Da’i banyak yang berpikir belum saatnya istiqomah, nanti bisa ‘sujud syahwi’. (Dengan kata lain) sekarang belok (maksiat) dulu nanti taubat. Bisa jadi ketika ‘belok’ Allah wafatkan kita, “. katanya.

Inilah prinsip yang dipegang teguh sejak dahulu oleh Dewan Dakwah, sebagaimana Pak Natsir mengatakan bahwa lebih baik Dewan Da’wah bubar atau dibubarkan daripada ‘belok kanan belok kiri’ mengikuti realita.” tutupnya. [FR]

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*