Anomali Turki, Catatan Dr. Ujang Habibi dalam Shortcourse Said Nursi di Turki

STIDNATSIR.AC.ID  – Masjid-masjid di Negeri Turki terbilang banyak dan megah. Azan juga berkumandang saat waktu shalat tiba. Tepatnya saat waktu Isya saya berada di sekitaran Alun-Alun yang dikelilingi oleh Masjid Sultan Ahmed dan Museum Haghia Sophia (dalam ejaan Turki biasa disebut Aya Sofya-ed).

Namun banyaknya Masjid dan kumandang azan tersebut tidak diiringi dengan hadirnya masyarakat berbondong-bondong ke Masjid. Sebaliknya, sebagian besar mereka bahkan masih tetap asyik bercengkerama menikmati kopi di kedai-kedai dan meramaikan destinasi-destinasi wisata maupun pusat perbelanjaan.

Sedangkan Masjid justru nampak sunyi, hanya sedikit sekali dari mereka yang ikut shalat berjamaah. Ironisnya, sisa-sisa implementasi prinsip sekularisme Attaturk masih eksis di banyak Masjid.

Saat masuk waktu shalat, sebagian masjid mengumandangkan azan bukan dikumandangkan langsung oleh muadzin, melainkan berasal dari alat MP3 (format audio-ed). Fenomena ini masih kontroversial di meja diskusi kalangan ulama, namun ulama di negeri transkontinental tersebut belum sepenuhnya berdaya mereformasi total budaya azan MP3 ini.

Begitu pula cara berpakaian wanitanya, cenderung tidak menutup aurat dengan sempurna, bahkan masih banyak yang nampak dari mereka tren berpakaian ala wanita barat (terbuka auratnya). Jilbab besar dan burka (pakaian yang menutupi seluruh tubuh serta wajah-ed) agaknya jarang terlihat. Ikhtilat (bercampur-ed) antara laki-laki dengan perempuan begitu kental di berbagai tempat-tempat umum, seperti di Terminal, Angkutan Umum, Pasar dan Restoran/Kedai Kopi. Rasanya sudah lazim berdesakan antara laki-laki dengan perempuan.

Demikian pula suasana di Perguruan Tinggi, kata Tour guide kami, saudara Fajar dan Radi, tak ada pemisahan antara ikhwan (laki-laki-ed) dan akhwat (perempuan-ed). Semua campur dalam satu ruang kelas dan mereka bebas bergaul tanpa ada aturan ketat yang menghalangi hubungan kedekatan antara pria dan wanita.

Saya sendiri (Ujang Habibi) melihat langsung saat malam pertama di Istanbul, muda-mudi tidak canggung berjalan sambil berpelukan di jalan protokol Istanbul.

Baca juga : Dosen STID Mohammad Natsir Ikuti Short Course Said Nursi di Turki

Selain yang kasat mata seperti di atas, di hari pertama kedatangan kami, kami dijemput oleh saudara Radi dan Fajar di Istanbul. Mereka memberikan warning kepada kami agar jangan terlalu vulgar berbicara politik, apalagi membandingkan antara zaman Attaturk berkuasa dengan rezim saat ini di bawah kepemimpinan Presiden Erdogan.

Bagi masyarakat Turki, topik itu merupakan hal yang sensitif. Sebagian besar masyarakat Turki justru masih sangat menghormati Attaturk, ia dielu-elukan sebagai tokoh yang merubah Turki menjadi negara sebagaimana hari ini, terjadi kebebasan.

Di setiap hari kematiannya yakni tanggal 10 November, secara otomatis di tempat-tempat umum dan di seluruh jalan-jalan utama negara beribukota Ankara tersebut, akan ada bunyi alarm otomatis selama 2 menit sebagai penghormatan pengingat kematian Attaturk serta sebagai peringatan Hari Berkabung. Maka ketika alarm berbunyi, warga wajib/otomatis akan menghentikan segala aktifitasnya dan mengheningkan cipta selama 2 menit. [Ujh]

Istanbul, Turki 15 November 2019

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*