Dosen STID Mohammad Natsir Ikuti Short Course Said Nursi di Turki

STIDNATSIR.AC.ID – Kegiatan Short Course di Turki pada 14-29 November 2019 diikuti oleh Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah Mohammad Natsir sekaligus Kepala Biro Pendidikan Tinggi Bidang Pendidikan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, Dr. Ujang Habibi, M.Pd.I. Kegiatan semacam ini , terselenggara atas kerjasama Istanbul Foundation yang beralamat di Kalenderhane Mah Dedeefendi Cad Cuce Cesmesi Vefa/Fatih Istanbul Turkiye dengan Darunnajah Jakarta, dan rutin dilaksanakan setiap tahun sejak 2016 lalu. Acara Short Course dilaksanakan di markas Istanbul Fondation di Turki. Short Course ini fokus mengkaji pemikiran seorang tokoh Islam terkemuka di Turki yaitu Badiuzzaman Said Nursi, yang menjadi simbol perlawanan umat Islam pada kediktatoran Musthafa Kemal At-taturk.

Kegiatan dilaksanakan setiap hari dari pukul 10.00 sampai 15.30 waktu setempat dan dilanjutkan dengan muraja’ah (mengulang pembahasan) pada malam harinya. Narasumber utama dalam short course ini adalah para pakar dan bahkan murid langsung Said Nursi di antaranya;  ustadz Muhammad Faranji (90) salah seorang murid Said Nursi yang telah menginjak manula namun masih sehat, ustadz Ihsan Qosim, penerjemah/pengalih bahasa kitab monumental Risalah Nur dari bahasa Turki ke bahasa Arab, dan ustadz Dr. Ma’mun Jaror, pakar pemikiran Sa’id Nursi dari Kurdi serta dosen di Universitas Muhammad Saud Saudi Arabia dan beberapa Universitas di Turki.

Dr. Ujang Habibi memberikan Buku karyanya kepada Dr. Ma’mun Jaror, Pakar Pemikiran Said Nursi dari Kurdi

Dalam kesempatan ini, peserta diberikan sebuah modul untuk dikaji selama acara berlangsung yang dipandu oleh tiga orang narasumber tersebut. Acara dikemas dengan format talaqqi/baca modul yang berisi beberapa judul penting atau pokok-pokok pikiran Said Nursi yang dinukilkan dari kitab Risalah Nur, juga diperdalam dengan model tanya jawab dan diskusi langsung dengan para pakar tersebut.
Poin penting yang dikaji dalam modul tersebut memuat bab-bab tentang Hakikat Iman/Tauhid kepada (Rububiyah, Uluhiyyah, dan Asma dan Sifat) Allah Subhanahu wa Ta’ala, Kemukjizatan Al Qur’an dari sisi Tanziliyah dan Kauniyah, Hakikat Rasulullah Muhammad sebagai manusia dan ma’nawi (Haqikatu Ar Rasul Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam al-Basyariyah wa al-Ma’nawiyah), Kehidupan dan kematian (al-Maut wa al-Hayat). Dari keempat hal tersebut, Said Nursi menda’wahi ummat untuk meningkatkan iman dan qurbah/kedekatan diri kepada Allah subhanahu wata’ala, meninggalkan pemikiran ilhad/sekuler, mengajak manusia untuk berfikir, berzikir dan bersyukur atas segala bentuk kenikmatan yang telah Allah berikan kepada semua makhluknya tanpa terkecuali.

Demikian pula ia mengajak manusia untuk dapat merenungi dan mengambil ibrah dari seluruh penciptaan manusia dan alam ini sebagai dalil adanya Dzat yang Maha Kuasa dan Maha menghendaki atas segala sesuatu, antara lain beliau menukilkan ayat-ayat Al-Qur’an, wa fii anfusikum afalaa tubshirun (QS. Adz Dzariyat : 21), wallahu ‘ala kulli syai-in qodiir (QS.  Ali Imran : 189), Idza aroda syayan ay yaqula lahu kun fayakun (Yasin : 82), Qul innamaa ana basyarun mitslukum yuwha ilaya annamaa ilahukum ilahuw wahid (Al Kahfi : 110), dan ayat-ayat lain yang telah Allah wahyukan kepada Nabi Muhammad Saw adalah menjadi petunjuk bagi orang yang beriman dan seluruh umat manusia. Menuntut orang yang beriman untuk meningkatkan keimanan dan ketauhidannya, menuntut agar bersikap zuhud terhadap dunia, karena semua makhluk akan mati dan kembali menghadap Allah untuk menentukan bagiannya apakah di surga-Nya atau di neraka-Nya.

Dr. Ujang Habibi memberikan buku karyanya kepada Ustadz Ihsan Qosim, Pengalih Bahasa Risalah Nur

Disamping itu, dalam kesempatan short course ini juga terjadi diskusi tentang pemikiran Said Nursi tentang persatuan ummat Islam sedunia, tentang ahlus sunnah dan tentang syi’ah. Bagi Said Nursi sebagaimana dijelaskan dalam kitab khutbah syamiyah, beliau menyerukan agar umat Islam bersatu dalam ikatan Imaniyah karena sejatinya setiap mukmin adalah bersaudara (Al Hujurat : 100) dan perintah Allah Tabaroka wa ta’ala (Ali Imron: 103). Bagi sa’id nursi ahlus sunnah adalah maa ana ‘alaihi wa Ashhabi (yang aku dan para sahabatku berada di atasnya, siapapun yang berpegang teguh kepada al Qur’an dan Sunnah yang benar maka ia adalah Ahlus Sunnah, bahkan ia adalah Ahlul Bait Nabi secara maknawi. Adapun jika ada Ahlul Bait dalam /keturunan/nasab tetapi tidak berpegang kepada sunnah ash-shahihah maka ia bukan ahlus sunnah. Adapun tentang syi’ah, Said Nursi lebih melihat hal itu dilatarbelakangi oleh intrik politik,sehingga timbangan nya adalah tetap dikembalikan kepada sejauh mana ia berpegang kepada as-sunnah an-nabawiyah, dan tidak dapat dihukumi secara generalisir (tidak dapat dikafirkan secara umum, tetapi harus dihukumi secara pribadi masing-masing oleh mahkamah).

Dari berbagai data dan maklumat umum tentang Badiuzzaman Said Nursi di atas, semangat juang dan semangat da’wah Said Nursi patut untuk diteladani. Bagi para akademisi dan para peneliti dapat kemudian menggali pemikiran-pemikiran dari seorang Badiuzzaman/Keajaiban Zaman tentang berbagai sisi keilmuan, baik dari sisi ulum syar’i seperti ilmu Al-Qur’an, tafsir, hadits, tazkiyatun-nafs dan lain-lain, maupun bahkan dari sisi sains dan teknologi. Semoga Allah berikan keberkahan kepada beliau dan diampuni segala kesalahanya sehingga memperoleh derajat yang mulia disisi Allah Subhanahu wa ta’ala. Bagi kita yang masih diberikan kesempatan umur semoga dapat pula meninggalkan amal jariyah untuk menjadi bekal kelak di akhirat memperoleh syurga-Nya.

Dr. Ujang Habibi memberikan buku karyanya kepada Ustadz Muhammad Faranji

Disela-sela acara short course ini para peserta juga diajak untuk melakukan perjalanan napak tilas ke berbagai tempat bersejarah yang menghiasi khazanah peradaban umat Islam di turki bahkan bagi umat Islam se dunia. Diantara tempat yang dikunjungi ialah Museum Aya Sofya yang hampir 1.000 tahun adalah berfungsi sebagai gereja, dan kemudian menjadi masjid dan dipakai hampir selama 500 tahun oleh umat Islam,yang kemudian sejak tahun 1935 difungsikan sebagai museum sampai hari ini, kemudian Masjid Sultan Ahmed, Masjid Sulthan Muhammad Al Fatih, Masjid Sulaimaniyah dan Istana Top Kape, kesemua tempat tersebut berada di kota Istanbul bagian Eropa, kemudian diakhiri dengan menyeberangi Selat Bosphorus lintas benua Eropa-Asia berkunjung ke Masjid Camlica Jami di kawasan Istanbul bagian Asia yang baru diresmikan oleh Presiden Erdogan pada bulan April 2019 lalu.

Ziarah ke Masjid Jamlija Jami’ Istanbul

Gerakan dakwah pemikiran dakwah said nursi ini telah dikembangkan sampai saat ini di 55 negara tersebar di 5 benua. Oleh karenanya, salah satu poin penting bagi pergerakan dakwah kita, kita perlu mencontoh betapa Thulabun Nur (Anak ideologis Said Nursi) sangat ingin mengembangkan dan menyebarkan ide-ide inspiratif Said Nursi. Kita patut mencontoh cara geraknya, yaitu dengan menyebarkan tidak mesti dalam bentuk formal, namun bisa dengan bentuk halaqoh (Thulabun Nur).

Baca juga : Anomali Turki, Catatan Dr. Ujang Habibi dalam Shortcourse Said Nursi di Turki

Pengaderan adalah sebuah keniscayaan jika suatu ide ingin dikembangkan, sebagaimana gagasan pemikiran Said Nursi yang hingga saat ini dapat menyebar dan berkembanglintas benua hinngga mencapau 55 negara yang didalamnya terdapat kajian Risalah Nur. Semua itu tidak lain disosialisasikan dan dikembangkny oleh kader-kadernya yang biasa dikenal dengan sebutan Thulabun Nur. [Ujh]

Ditulis pada Ahad 24 November 2019 di atas kapal menyeberangi selat Bosphorus dari Pelabuhan Eminonu Istanbul menuju Pelabuhan Bursa.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*