Bekal Berlibur Bagi Kader Da’i

Oleh : Dr. Dwi Budiman Assiroji, M.Pd.I

Ketika datang waktu libur, maka seseorang yang berlibur itu akan mendapatkan dua hal, pertama waktu luang dan kedua kesehatan. Termasuk juga kader da’i yang sedang berlibur, akan mendapatkan dua hal itu. Maka seorang kader da’i harus mengingat peringatan Nabi Saw. terkait dua hal itu, sebagaimana sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

”Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu olehnya, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”.  (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas)

Dalam hadits di atas, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan peringatan bahwa banyak orang yang tertipu oleh dua kenikmatan, yaitu kesehatan dan waktu luang. Kenapa sampai tertipu? Karena orang yang sedang mendapatkan kesehatan dan waktu luang, dia akan cenderung menjadi malas. Dalam kemalasan itu dia akan mencari-cari kesibukan yang cenderung negatif. Sementara di sisi lain, dia pun akan cenderung malas untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah Swt. Akhirnya dia akan meninggalkan ketaatan kepada Allah Swt. dan mengisi waktunya dengan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat, bahkan perbuatan terlarang.

Di sinilah letak tertipunya, pertama ia tertipu karena menjual kenikmatan dengan harga yang murah, dengan perbuatan yang sia-sia dan bahkan perbuatan terlarang. Kedua, dia tertipu karena sudah merugi, sebab dengan modal yang sangat besar, yaitu berupa kesehatan dan waktu luang, dia tidak bisa mendapatkan keuntungan berupa amal sholeh dan pahala yang berlimpah. Malah sebaliknya, dia mendapatkan dosa. Karena itulah Ibnu Mas’ud pernah mengatakan:

إنِّي لَأَبْغَضُ الرَّجُلَ فَارِغًا لَا فِي عَمَلِ الدُنْيَا وَلَا فِي عَمَلِ الْآخِرَةِ

“Aku sangat membenci orang yang menganggur, yaitu yang tidak punya amalan untuk penghidupan dunianya ataupun akhiratnya”

Karena itu, agar waktu libur yang akan dijalani oleh seorang kader da’i tidak menjadikannya sebagai orang yang merugi, maka ia harus mempersiapkannya dengan tiga hal, yaitu:

Luruskan niat

Agar liburan yang akan dijalani itu mendatangkan kebaikan, harus dimulai dengan niat yang benar, niat karena Allah Swt. Jangan ampai ada niat untuk bermalas-malasan, bersenang-senang, hura-hura dalam mengisi liburan. Niatkan bahwa liburan ini akan tetap diisi dengan ibadah dan amal sholeh. Meluruskan niat ini penting karena segala sesuatu sangat tergantung kepada niat. Apa yang akan dilakukan dan apa yang akan didapatkan sangat bergantung kepada niat ini.

Ingat selalu status sebagai thullab (penuntut ilmu) dan du’at (seorang da’i)
Seorang kader da’i yang sedang menuntut ilmu di STID Mohammad Natsir misalnya, ketika dia berlibur, maka dia hanya berlibur dari statusnya sebagai mahasiswa STID Mohammad Natsir. Namun dia tidak pernah bisa berlibur dari statusnya sebagai thullab (penuntut ilmu) dan du’at (seorang da’i).

Karena itu, sekalipun dalam keadaan libur dia harus tetap menjalankan kewajibannya sebagai thullab, dia harus tetap mengisi waktunya dengan menuntut ilmu. Banyak jalan yang dapat diambil untuk tetap menuntut ilmu saat perkuliahan libur. Bisa dengan membaca buku, bisa dengan menghadiri majlis ilmu, bisa dengan mengikuti kursus bahasa Arab atau camp tahfidz al-Qur`an. Sebagai seorang da’i, dia pun harus tetap melaksanakan kewajibannya. Tetap menegakkan al-amru bil ma’ruf dan an-nahyu ‘anil munkar. Karena itu selama berlibur dari perkuliahan, kebiasaan-kebiasaan sebagai da’i harus terus dilakukannya. Menjaga sholat wajib dan sholat sunnah rawatib, melaksanakan sholat malam, membaca dan menghafal al-Qur`an, membaca dzikir pagi dan petang dan kewajiban-kewajiban lainnya.

Demikian juga jika ia berlibur di rumah, maka da’wah harus tetap dijalankan, terutama kepada kedua orangtua dan saudara. Ajak keluarga untuk semakin memahami dan mencintai ajaran Islam.

Jangan sampai, sebagai da’i kita sibuk menda’wahi ummat di luar, sementara keluarga sendiri kita lupakan. Ingatlah perintah Allah Subhanahu wa ta’ala . untuk menjadikan keluarga sebagai prioritas dalam da’wah kita. Allah Subhanahu wa ta’ala . berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (at-Tahriim: 6)

Namun demikian, bukan berarti seorang kader da’i tidak boleh bersenang-senang, berjalan-jalan atau melakukan aktifitas untuk refreshing (penyegaran) lainnya. Aktifitas seperti itu boleh-boleh saja, bahkan pada kondisi tertentu sangat dianjurkan. Namun yang perlu diingat adalah, kegiatan penyegaran itu harus tetap memperhatikan aturan-aturan Islam. Tidak boleh dengan alasan penyegaran kita melakukan satu kegiatan yang justru bertentangan dengan ajaran Islam.

Rencanakan liburan yang bermanfaat
Karena itu, agar waktu liburan dapat termanfaatkan secara baik, harus ada perencanaan yang baik sebelum liburan itu datang. Persiapkan kegiatan-kegiatan bermanfaat yang akan dilakukan selama liburan. Agar lebih efektif dan efisien, lakukan evaluasi, kira-kira apa saja yang harus diperkuat agar perkuliahan di semester selanjutnya dapat berjalan lebih baik. mislanya bagi mahasiswa yang merasa masih kurang dalam penguasaan bahasa Arab, waktu liburan ini dapat digunakan untuk memperkuat penguasaan bahasa Arabnya. Bagi yang merasa masih lemah dalam hafalan al-Qur`an bisa merencanakan untuk ikut camp tahfidz al-Qur`an. Demikian aspek lainnya.

Perencanaan ini sangat penting agar kita tidak gagal dalam memanfaatkan waktu liburan. Seorang ahli manajeman mengatakan “who fail to plan, plan to fail”, artinya siapa yang gagal dalam membuat perencanaan, maka sesungguhnya dia sedang merencanakan kegagalan. Apalagi jika tidak ada perencanaan, maka pasti akan menemui kegagalan. Kecuali bagi orang yang diberikan hidayah oleh Allah Subhanahu wa ta’ala .

Baca juga : Berikan Pembekalan Liburan kepada Mahasiswi, Ketua STID M Natsir Sampaikan Hal Ini

Jika ketiga hal itu dilakukan maka kita in syaa Allah dapat memanfaatkan liburan ini dengan maksimal. Ingatlah pesan Allah Swt. dalam surat Al-Insyirah ayat 7:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.”

Tidak ada waktu luang bagi seorang muslim, apalagi bagi seorang kader da’i, kecuali harus dia isi dengan kegiatan yang bermanfat. Agar tidak menjadi orang yang merugi. Wallahu ‘alam

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*