Gelar Kuliah Umum, STID M Natsir Hadirkan Wakil Pemred Republika dan Da’i Enterpreneur

STIDNATSIR.AC.ID – Mengawali masa perkuliahan Semester Genap Tahun Akademik 2019-2020, STID Mohammad Natsir menggelar Kuliah Umum yang diikuti oleh seluruh mahasiswa dan mahasiswi program studi Komunikasi Penyiaran Islam dan Pengembangan Masyarakat Islam pada Senin (10/2/20), di Auditorium Lantai 4 Kampus Putra STID Mohammad Natsir Bekasi dan Auditorium Sakinah Kampus Putri STID Mohammad Natsir Cipayung Jakarta.

Simposium di Kampus Putra dihadiri oleh para pimpinan, dosen dan pengelola kampus STID M Natsir serta mengundang pembicara di antaranya, Nur Hasan Murtiaji, S. Si., Wakil Pemimpin Redaksi Koran Republika dan Uus Mauludin, MA, Mudir Pesantren Mimbar Huffazh dan Da’i Enterpreneur.

Ketua STID M Natsir, Dr. Dwi Budiman Assiroji, M.Pd.I dalam sambutannya menyampaikan berharap keikutsertaan para seluruh hadirin di acara ini dapat semakin meningkatkan keterampilan dan kemampuan dakwahnya di era digital saat ini. “Mudah-mudahan dapat semakin menambah keterampilan dan kemampuan kita dalam berdakwah di era digital ini bagi kita semua,” ucapnya.

Ketua STID M Natsir, Dr. Dwi Budiman Assiroji, M.Pd.I saat memberikan sambutan dalam Kuliah Umum Semester Genap di Kampus Putra STID Mohammad Natsir Bekasi

Beliau juga mengucapkan terima kasih kepada para pembicara yang telah jauh datang ke Bekasi, untuk membagikan ilmunya kepada para mahasiswa dan hadirin. Serta para panitia yang telah menyiapkan penyelenggaraan Kuliah Umum ini, “Semoga ini bukan pertemuan pertama dan terakhir. Sebab salah satu karakter untuk menghadapi era disrupsi adalah kuat dalam kolaborasi,”. STID M Natsir juga telah menjalin kerjasama dengan Republika untuk pemagangan mahasiswa KPI nantinya.

Pembicara pertama, Nur Hasan Murtiaji menyampaikan mengenai Mengungkap Peran Media Islam dalam Membela Kepentingan Umat. Deputy of Editor in Chief Republika itu mengatakan apapun platformnya, pendekatannya adalah konten. Semakin baik kontennya, maka akan makin relate (sesuai) dengan antar generasi. Media bisa memframing suatu berita sesuai dengan visi-misi mereka hanya dengan cover dan headline beritanya. Lantas ia mengomparasikan surat kabar Time dan Newsweek ketika memframing pemberitaan kasus J Simpson dalam kasus pembunuhan mantan istri dan pacar mantan istrinya. Judul Headline dan Karikatur Time secara implisit menuduh Simpson lah dalang di balik tragedi pembunuhan tersebut, namun Newsweek lebih objektif dengan tidak memberikan justifikasi. Begitu pula dengan pemberitaan muslim Uighur, Rohingya, dan Palestina. Media memframing berita di lapangan sesuai visi dan misinya, maka peran media mainstream adalah cover both side. Point of view juga tergantung cara melihat berita dari sisi mana.

Wakil Pemred Republika, Nur Hasan Murtiaji, S. Si saat menyampaikan materinya

Kemudian pembicara kedua, Ustadz Uus menyampaikan mengenai Da’wah Islam di Era Disrupsi. Ia mengatakan, mahasiswa STID M Natsir beruntung bisa kuliah di kampus ini, “Berbahagialah anda yang kuliah di STID, Karena anda yang dibutuhkan umat,” tegasnya.

Pengusaha yang telah melebarkan sayap komoditasnya hingga kancah internasional ini memberikan modal-modal bagi da’i dalam menghadapi era disrupsi. Pertama ialah Cerdas Diri, baginya kemampuan spiritual merupakan modal yang tak bisa ditawar bagi da’i, selain itu kecerdasan intelektual intelektual dengan menguasai 12 cabang ilmu fundamental, serta kemampuan leadership dan enterpreneurship. “Kita ingin yang PMI dan KPI keluar dari STID kompatibel dengan lapangan.” ucapnya.

Ustadz Uus Mauludin, MA saat menyampaikan materinya

Modal kedua adalah Cerdas Sosial. Da’i harus memahami lingkungan sekitar yang dinamis, ini menjadi modal utk bergerak dan kontribusi. Siapa yang memberi manfaat bagi banyak orang, maka orang akan memberi manfaat kepada kita. Alumni STID Mohammad Natsir itu bercerita tentang awal mula mendirikan TPA (Taman Pendidikan Al Qur’an) di sekitar Pusdiklat Dewan Da’wah Bekasi saat dulu masih mahasiswa. Banyak masyarakat yang awalnya menegasikan dakwah, lambat laun akhirnya membuang stigma negatif tersebut hingga sangat mendukung dakwah ini hingga sekarang.

Ia melanjutkan, modal yang ketiga adalah Cerdas Kontribusi, jika jurusan dakwah tidak memiliki kemampuan teknis, namun harus menguasai skill kontribusi untuk survive (adaptasi) dalam masyarakat. Sehingga bisa menyinergikan potensi-potensi di masyarakat, tanpa melupakan identitas da’i dalam diri sendiri, “Jurusan yang paling pas untuk antum sebenarnya Arsitektur. Karena antumlah Arsitek Pradaban.” tandasnya, disambut pekikan takbir para hadirin.

Visi, misi, aksi, kolaborasi dan evaluasi bisa dijadikan role mapping da’i di era disrupsi dan kita harus bergerak cepat atau kita akan terlindas. Masalahnya jaman telah berkembang tapi mental kita yang tertinggal.

Expertise akan menambah kualitas diri. Da’i jangan dipusingkan dengan bisnis, cukup istiqomah menjadi dai, lantas ia akan mendapatkan semuanya. Ubah paradigma pesimisme, bersyukurlah kita menjadi orang muslim karena muslim memiliki Al Qur’an. Ia mengimbau seluruh mahasiswa agar jangan keluar dari STID kalau tidak hafal Al Qur’an. “jika antum expert di bidang antum, uang yang akan mengejar-ngejar antum,” ujarnya. Baginya yang membedakan manusia dengan hewan, adalah meskipun hewan hidup di kota, ia tidak akan mampu mengubah kota menjadi lebih baik, namun apabila manusia tinggal di hutan, ia bisa mengubah hutan itu menjadi kota.

Ketua STID M Natsir menyerahkan cinderamata kepada pembicara
Ketua STID M Natsir menyerahkan cinderamata kepada pembicara
Foto bersama dosen dengan pemateri

Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Di akhir acara, Bapak Nur Hasan menghadiahkan para penanya e-paper Republika gratis langganan selama sebulan. Selain itu, Ustadz Uus juga akan memberikan pelatihan enterpreneurship selama 14 pertemuan bagi para mahasiswa. [FR]

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*