70 TAHUN MOSI INTEGRAL NATSIR, Mengenal Sosok Bapak NKRI

Oleh: Rusdiyadi Masang (Ketua DEMA STID Mohammad Natsir 2019/2020)

Natsir berkata: ” Setelah MOSI INTEGRAL berhasil, saya dipercaya jadi perdana menteri, satu hal yang semula tidak saya pikirkan. Saya juga heran. ”

Ketika seorang wartawan dari harian _Merdeka_ bertanya kepada (Presiden) Sukarno tentang siapa yang akan menjadi perdana menteri dalam Negara Kesatuan yang baru saja berdiri. Dengan enteng Sukarno menjawab: “Ya, siapa lagi kalau bukan Natsir dari Masyumi. Mereka punya konsepsi untuk menyelamatkan Republik melalui konstitusi. ”

Natsir, adalah seorang anak bangsa berdarah Minang. Di Alahan Panjang, Sumatera Barat pada Hari Jum’at Jumadil Akhir 1326 H. Bertepatan dengan 17 Juli 1908 M. Mohammad Natsir dilahirkan sebagai salah satu tokoh bangsa dan agama.

Dalam dunia pendidikannya, ia berpendidikan tidak pada satu tempat seperti biasanya banyak orang. Tokoh berdarah Minang ini berpindah-pindah tempat dalam sejarah pendidikannya.

Pada tingkat Sekolah dasar (SD), Natsir belajar di Sekolah Rakyat (SR) Maninjau Sumatera Barat, lalu pindah ke _Holland Inlander School_ (HIS) Adabiyah Swasta di kota Solok, lalu Ia pindah ke HIS Padang saat masuk di kelas V. Disanalah Natsir menyelesaikan pendidikannya di tingkat Sekolah dasar (saat itu).

Pada tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), Natsir melanjutkan pendidikannya di _Meer Uitgebreid Lager orderwijs_ (MULO) Padang. Disini lah Natsir mulai aktif dalam Organisasi. Diantara organisasi yang ia ikuti (saat itu) adalah _Jong Sumatranen Bond_ (Serikat Pemuda Sumatera), _Jong Islamieten Bond_ (Serikat Pemuda Islam), dan juga menjadi anggota _Pandu Nationale Islamietische Pavinderij_ (Nantipi), sejenis Pramuka sekarang.

Pada tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), Natsir memilih untuk melanjutkan pendidikannya di _Alagememe Midelbare School_ (AMS) Bandung. Di kota inilah ia mempelajari agama secara mendalam serta berkecimpung dalam bidang politik, da’wah dan pendidikan. Di tempat ini pula Natsir berjumpa dengan A. hasan (1887-1958), seorang peniaga dari Singapura yang mengembangkan pemikiran Islam secara modern dan merupakan salah satu tokoh Persatuan Islam (PERSIS).

Salah satu keinginan setiap orang tua adalah ingin melihat anaknya sukses dimasa depan. Begitu juga dengan seorang anak, ingin menjadi orang besar yang terpandang, berwibawa, disegani dan bermanfaat untuk sesama. Dan salah satu dari langkah untuk meraihnya adalah dengan melanjutkan pendidikan ke Perguruan tinggi.

Natsir mengerti akan hal itu. Namun karena minat dan perhatiannya terhadap persoalan keislaman dan kemasyarakatan, natsir menolak tawaran untuk melanjutkan studinya ke bidang Hukum di Rotterdam, Belanda, atau menjadi pegawai pemerintah Belanda dengan gaji yang besar. Yang mana kedua tawaran itu diberikan oleh pemerintah Belanda sebagai hadiah atas keberhasilannya menyelesaikan studi di AMS dengan nilai yang tinggi. Padahal bisa menempuh pendidikan di luar negeri dengan beasiswa merupakan angan-angan dan harapan hampir semua anak bangsa. Demikian juga dengan menjadi pegawai pemerintah Belanda.

Setelah penolakan itu dilakukan, Natsir membina dan mengembangkan wawasan bagi masyarakat melalui pendidikan. Realisasi dari semua itu adalah keaktifannya dalam dunia pendidikan. Natsir merintis kegiatan studi Islam yang dilaksanakan oleh PERSIS di Bandung sejak tahun (1927-1632) yang dipimpin oleh A. Hasan serta mengembangkan pemikiran Islam melalui majalah _Panji Islam_ saat usianya masih sekitar 19 tahun.

Ketika meletus perang Asia Timur Raya (Perang Dunia ke-2) dan kekuasaan negara Indonesia beralih ke tangan Jepang (1942-1945), minat Natsir untuk memajukan pendidikan warga Pribumi terus meningkat.

Melalui rapat MASYUMI pada 1945, menghasilkan 2 keputusan penting yang salah satunya adalah mendirikan perguruan tinggi Islam dengan nama Sekolah Tinggi Islam (STI) yang bertujuan untuk memberikan pendidikan tinggi tentang agama Islam, sehingga bermanfaat bagi masyarakat dikemudian hari.

Dewan Ketua Kurator STI adalah Mohammad Hatta dan Natsir sebagai sekretarisnya. Sedangkan Rektor Magnificus dijabat oleh K. h Kahar Muzakkir dan Natsir juga duduk sebagai sekretaris nya. STI kemudian hari berubah nama menjadi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

Selain itu, pada saat yang bersamaan, Natsir juga menjabat sebagai kepala biro pendidikan Kodya Bandung dan pada tahun 1932-1942, ia memimpin Lembaga Pendidikan Islam (PENDIS) yang menjadi cikal bakal lahirnya Universitas Islam Bandung (UNISBA).

Selain itu Natsir juga menggagas Perikatan Perguruan-perguruan Muslim (PER-MUSI). Natsir juga tercatat sebagai penggagas dibalik berdirinya Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Islam Swasta (BKS PTIS) yang kini memiliki anggota lebih dari 500 PTIS se-Indonesia. Dari sinilah lahirlah kampus-kampus Islam yang memiliki nama besar, seperti UII Yogyakarta, UISU Medan, UMI Makasar dan yang lainnya.

Disamping kontribusi nya di bidang pendidikan, Natsir juga tercatat sebagai tokoh yang menorehkan jejak-jejak politik di tanah air.

Pasca kemerdekaan, pada 29 Desember 1949 Belanda secara resmi mengakui kedaulatan RIS (Republik Indonesia Serikat), kecuali Irian Barat. Dalam RIS, tergabung lah 16 negara bagian, termasuk Republik Indonesia di Yogyakarta. Karena Irian tidak termasuk yang diserahkan, maka Natsir yang saat itu menjabat sebagai Menteri Penerangan, bersama Menteri Luar Negeri H. Agus Salim, menolak Konferensi Meja Bundar (KMB) dan enggan untuk bergabung dalam kabinet RIS dan berkonsentrasi dalam memimpin Fraksi MASYUMI di parlemen RIS.

Berselang satu tahun kedaulatan RIS diakui, pada 4 Januari 1950, DPR Malang dari Negara Bagian Jawa Timur mencetuskan resolusi untuk melepaskan diri dari Negara Bagian Jawa Timur. Pada 30 Januari di tahun yang sama, DPRD Kabupaten Sukabumi di Negara Bagian Pasundan juga mengeluarkan resolusi yang sama. Peristiwa yang sama juga terjadi di beberapa negara bagian lainnya. Bahkan di Sumatera Timur terjadi demonstrasi besar-besaran.

Sebagai ketua Fraksi MASYUMI, Natsir mencermati keadaan yang berkembang dengan keyakinan bahwa hal yang demikian akan berdampak buruk bagi negara yang baru merdeka ini.

Sebagai wujud kekhawatiran nya, Natsir menemui para Ketua Fraksi dan mengadakan diskusi, dari yang paling kiri seperti Ir. Sukirman dari PKI, sampai Fraksi yang paling kanan seperti Sahetapy Engel dari BFO.

Sepanjang 2½ bulan Natsir melakukan _lobby_ yang diakuinya tidak mudah, lebih-lebih dengan Negara Bagian yang berada di luar Jawa seperti Sumatera dan Madura.

Setelah merasa semuanya mantap, Natsir mengajukan Mosi Integral di Parlemen RIS pada 3 April 1950. Yang kemudian dikenal dengan Mosi Integral Natsir.

Mosi Integral Natsir diterima dengan baik oleh pemerintah. Perdana Menteri RIS, Mohammad Hatta, mengumumkan bahwa pemerintah akan menggunakan Mosi Integral Natsir sebagai pedoman dalam memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi.

Dengan pendekatan yang baik, Natsir berhasil memulihkan negara federal RIS ke NKRI dengan tidak ada satu orang dan satu pihak pun yang merasa malu dan tanpa pertumpahan dara, walau setetes.
Lalu kemudian, pada tanggal 17 Agustus 1950 Presiden Sukarno memproklamirkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

Setelah di proklamirkan, Masyumi bersikukuh pada kabinet presidensial, namun 2 partai besar pada saat itu yaitu PNI (Partai Nasional Indonesia) dan PSI (Partai Sosialis Indonesia) tegas mendukung kabinet parlementer. Namun dengan itu, dan atas peran Natsir, maka ia ditunjuk sebagai Perdana Menteri NKRI yang pertama.
*****
Sumber: Mohammad Natsir; Islam Sebagai Dasar Negara
*****
Islam dan Politik tidak bisah dipisahkan sebagai elemen yang independen, sebab Islam hadir sebagai agen of control pada setiap komponen kehidupan, dan politik adalah salah satu diantaranya.

Namun kondisi saat ini, terjadi pergerakan yang masif bahkan terang-terangan dilakukan sebagai upaya mengeluarkan agama dari rana perpolitikan yang pada hakikatnya “politik lah yang berada dalam bagian dari balutan Islam itu sendiri”

Bruce Lawrence menyebutkan bahwa Natsir merupakan politisi yang paling menonjol mendukung pembaruan Islam. Sebagai buktinya adalah; Natsir memperoleh gelar doktor kehormatan di bidang politik Islam dari Universitas Islam Libanon pada tahun 1967. Dan pada tahun 1991, ia memperoleh dua gelar kehormatan dari negeri Malaysia, yaitu dalam bidang sastra dari Universitas Kebangsaan Malaysia dan dalam bidang pemikiran Islam dari Universitas Sains Malaysia.

Sedangkan di kancah nasional, Natsir merupakan negarawan yang memiliki jasa besar dalam lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan mosi nya yang dikenal dengan Mosi Integral Natsir. Sehingga ketika saat ini ada yang mengaku paling NKRI namun menuduh para ulama dan tokoh-tokoh Islam yang mengkritik kebijakan pemerintah sebagai kelompok yang anti terhadap NKRI ataupun kelompok yang ingin menghancurkan NKRI, maka seharusnya kita katakan kepada mereka bahwa yang menyatukan NKRI adalah tokoh dari umat Islam itu sendiri.

Akhirnya, tulisan kecil ini bukan bertujuan untuk menggarami lautan yang luas, bukan juga mengajarkan ikan untuk berenang, dan burung untuk terbang, melainkan tulisan ini adalah setetes tinta yang tergores dalam mengenang jasa seorang Pahlawan Nasional yang terlupa. Dan penulis juga menguvapkan permohonan maaf jika terdapat kekeliruan dalam penulisan ini.

Wassalam

#Al-Fakiir_Rusdi

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*