Catatan Kecil Mosi Integral Natsir

Oleh : Rizqi Fadillah
(Mahasiswa STID Mohammad Natsir)

Mohammad Natsir lahir pada 17 Juli 1908 di Alahan Panjang, tepat di kaki gunung Talang. Sang ayah bernama Muhammad Idris Sutan Saripado, ia bekerja sebagai juru tulis saat itu. Ayah pak Natsir tinggal di rumah seorang saudagar kopi yang kaya raya bernama Sutan Rajo Ameh. Masa anak-anak ditempuh pak Natsir di berbagai tempat ikut bersama Ayahnya yang bekerja sebagai pegawai kolonial Belanda. Berangkat dari Alahan Panjang kemudian pak Natsir pindah ke Maninjau, kemudian pindah ke Padang, lalu pindah lagi ke Solok. Sementara itu ayahnya bertugas ke Makassar, pak Natsir kembali ke Padang tinggal bersama kakaknya. Di Padang ia menamatkan sekolahnya kemudian melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onder-wijs (MULO) Bandung.

Semasa di Bandung, pak Natsir pernah mengahdiri orasi Soekarno yang terkenal sebagai pemimpin besar Partai Nasional Indonesia (PNI). Ada satu peristiwa dimana pak Natsir merasa janggal saat ia mendengar ejekan terhadap Islam lebih sering disuarakan di tengah kampanye Partai Nasional Indonesia tahun 1920-1930. Dr. Sutomo pernah mengatakan bahwa pergi ke Digul lebih baik daripada pergi naik haji ke Mekah. Bahkan, ada yang mencela poligami dan aturan Islam. Sebagai pemuda Islam, pak Natsir mulai curiga dengan gerakan kebangsaan yang dimotori langsung oleh Soekarno dan rekan-rekannya mulai berani menanam bibit kebencian dan meremehkan Islam (Seri Buku TEMPO : Natsir Politik Santun di antara Dua Rezim).

Pak Natsir banyak bersentuhan dengan A. Hassan untuk belajar Islam di Bandung. Kondisi politik yang memaksa pak Natsir sangat gelisah saat itu. Ia rela melepas kesempatan kuliah hukum di Leiden, Belanda. Pak Natsir yang sempat terpikat pada ajaran nasionalisme yang terus digaungkan Partai Nasional Indonesia. Di sisi lain, ia juga dibenturkan pada perbedaan pandangan politik yang cukup tajam. Paham nasionalisme yang awalnya membuat ia terpikat, justru oleh sekelompok kader partai tesebut “dimanfaatkan” untuk merendahkan Islam.

Untuk membela Islam dari cibiran mereka, pak Natsir dan kawan-kawannya menerbitkan majalah ukuran 12×19 sentimeter bernama Pembela Islam. Pak Natsir mulai bergerak. Ia sangat berani melontarkan tulisan tajam untuk menyerang balik kelompok nasionalis itu. Majalah Pmebela Islam itu bisa disebut media yang isinya sarat dengan berbagai perdebatan dan pemikiran. Bahkan sampai ke tema politik dan kebangsaan. Ancaman dari pemerintah kolonial pun bermunculan, seperti pers delict kepada pengelola dan penulis, sampai ke tingkat penghentian penerbitan selalu menghantui mereka.

Pertengahan tahun 1949, Repbulik Indonesia yang baru lahir harus menghadapi agresi militer dan diplomasi-diplomasi Belanda yang berjalan alot. Sejarah mencatat, Indonesia pernah berada di fase terbentuknya negara-negara bagian tergabung dalam Bijeenkomst voor Federal Overlag. Aktor utama pembentukannya adalah mantan Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Hubertus Johannes van Mook pada perjanjian Linggarjati 1946. Sebanyak 16 negara bagian “dilahirkan” oleh kelicikan van Mook.
27 Desember 1949 lahir Republik Indonesia Serikat. Soekarno-Hatta tetap presiden dan wakil prseiden, Hatta merangkap perdana menteri. Januari 1950 terjadi pergolakan di berbagai negeri. Sampai 30 Januari 1950, Sukabumi mengeluarkan resolusi yang sebelumnya digaungkan juga oleh kaum republiken : lepas dari negara Pasundan dan bergabung kembali ke Republik Indonesia. Gejolak pun menjalar sampai ke Sumatera. Demonstrasi dan kekacauan terjadi dimana-mana.

Melihat situasi ini, pak Natsir bermanuver. Saat itu ia sebagai ketua Fraksi Masyumi di parlemen Republik Indonesia Serikat. Ia berinisiatif untuk berdialog dengan pemimpin fraksi lain. Kesepakatan-kesepakatan telah dicapai dengan Kasimo dari Partai Katolik dan A.M Tambunan dari Partai Kristen Indonesia. Dialog berjalan alot dengan kekuatan politik ekstrem yaitu, Partai Komunis Indonesia (sayap kiri) dan Bijeenkomst voor Federal Overlag (sayap kanan).

Pak Natsir terus melakukan lobi dengan ketua fraksi lain, juga pemimpin negara-negara bagian. Si anak juru tulis itu, mengutarakan gagasan yang kompromistis. Dia mengajukan gagasan bahwa semua negara bagian bersama-sama mendirikan negara kesatuan melalui prosedur parlementer. Bisa dipastikan bahwa tidak ada satu negara bagian menelan negara bagian lainnya. Gagasan itu diterima fraksi lain, puncaknya pada tanggal 3 April 1950, pak Natsir berpidato di depan parlemen Republik Indoneisa Serikat. Yang kemudian ia menutup isi pidatonya dengan mosi, intinya : Dewan Perwakilan Rakyat Sementara Republik Indonesia Serikat dalam rapatnya tanggal 3 April 1950 menimbang sangat perlunya penyelesaian yang integral dan pragmatis terhadap akibat-akibat perkembangan politik yang sangat cepat jalannya pada waktu akhir-akhir ini. Mosi ini yang dikenal sebagai “Mosi Integral Natsir”. Dalam jurnal EL-FURQANIA, vol.4 no.2, 8/2018 bahwa mosi inilah yang menyatukan republik Indonesia yang telah terpecah jadi beberapa negara bagian, akibat dari Konferensi Meja Bundar (KMB), kemudian kembali pada Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Mosi Integral Natsir” mengajarkan kepada generasi bangsa Indonesia perihal pentingnya berdialog. Melalui dialog secara intensif dilakukan ke seluruh pihak, pak Natsir berhasil mencapai kesepakatan-kesepakatan. Terlihat ketika ia berbeda pandangan politik dengan sayap kiri (PKI) dan sayap kanan (Bijeenkomst voor Federal Overlag), hasilnya semua mendukung gagasan beliau.

Melihat sosok Mohammad Natsir sangat erat kaitannya dengan perjuangan. Ia tidak rela jika Islam dilecehkan oleh orang lain. Bahkan pak Natsir lebih rela jika ia melepas kesempatan studinya ke negeri Belanda, dibanding meninggalkan kondisi Islam yang semakin diremehkan oleh kaum nasionalis ketika masih di Bandung. Kondisi politik yang tidak menentu, Indonesia menjadi negara serikat, terpecah menjadi beberapa negara bagian. Pak Natsir tampil dengan berdialog lintas tokoh, baik yang berlainan agama, partai, bahkan ideologi seperti kaum komunis yang sempat berjalan alot. Akhirnya pak Natsir berhasil berdiri di tengah-tengah. Melalui mosi integral Natsir, semua pihak tidak ada yang merasa dirugikan, semua menerima Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pak telah pergi meninggalkan anak cucu biologisnya tahun 1993. Di dalam jiwa pak Natsir ada kegigihan untuk mempertahankan sikap meski dipenuhi tantangan. Belakangan ini, sosok pak Natsir yang menjadi teladan, rasanya sangat jauh. Oleh sebab itu, menuliskan rangkaian perjuangannya dalam banyak paragraf atau bahkan buku biografinya menjadi sebuah alasan yang sangat pantas. Semoga catatan kecil ini bermanfaat.

Jumat, 3 April 2020

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*