Film: Imperialisme Modern

Oleh: Haris Zulfikar
(Mahasiswa STID Mohammad Natsir)

Suatu bangsa memiliki keyakinan dan nilai-nilai yang membentuk identitas bangsa tersebut. Identitas inilah yang membedakannya dari bangsa yang lain. Keyakinan dan nilai ini biasanya sudah mengakar kuat di tengah-tengah masyarakat. Maka kedua hal ini pun dipandang sebagai kekayaan spiritual dan tidak akan hilang dengan mudah.

Teori Benturan peradaban yang dipaparkan seorang pemikir Amerika Serikat, Samuel Huntington, mendorong barat untuk menyerang dan menjajah bangsa lain -terutama wilayah timur, dengan serangan budaya dan ekonomi. Menurut Prof. A.M. Saefuddin, barat menyadari kesulitan yang dihadapi karena nilai-nilai yang mengakar di masyarakat pada suatu bangsa akan berperan sebagai unsur penguat perlawanan dalam menghadapi dua serangan tersebut

Untuk mengatasi rintangan tersebut, Prof. Saefuddin dalam bukunya Antologi Islam dan Peradaban menjelaskan, Barat membutuhkan upaya-upaya dalam rangka mengikis dan menghancurkan nilai-nilai tersebut. Rencana dan usaha yang dimaksud disini adalah imperialisme kebudayaan.

Prof. Saefuddin mengutip pendapat James Petras, seorang dosen, sosiolog dan kritikus pemerintas AS, menjelaskan bahwa imperialisme kebudayaan adalah campur tangan secara terprogram dan kekuasaan kebudayaan pihak penguasa barat atas rakyat, dengan tujuan menyusun kembali nilai-nilai, perilaku, lembaga-lembaga dan identitas rakyat yang telah dieksploitasi, dalam rangka menyelaraskannya dengan interes para imperialis.

Untuk menjalankan agenda tersebut, Barat menggunakan metode-metode yang sangat halus, sehingga tidak mudah dirasakan oleh masyarakat pada umumnya. Hal ini dilakukan untuk mengurangi perlawanan besar dari nilai-nilai yang mengakar kuat di masyarakat dan secara perlahan nilai-nilai tersebut tergantikan oleh nilai-nilai yang dipromosikan Barat.

Serangan-serangan terhadap nilai-nilai tersebut dilakukan melalui jaringan global internet, games, lambang dan simbol pada pakaian dan peralatan, iklan-iklan, juga hal-hal lain yang dikemas untuk menggambarkan kemewahan dan gaya hidup kekinian. Cara-cara tersebut dimanfaatkan untuk menyebarkan kebudayaan barat dan mengikis keyakinan serta nilai-nilai bangsa lain.

Dari cara-cara yang disebutkan di atas, Prof. Saefuddin menjelaskan, ada dua hal yang menjadi perhatian istimewa bagi Barat, yaitu hubungan seks bebas dan dekadensi moral. Mengapa demikian? Karena para pengelola media-media mengetahui bahwa agama-agama dan adat istiadat timur menentang kebebasan seks dan amoralisme. Maka melalui budaya negatif ini, akan melemahkan negara-negara kawasan ini.

Melalui film, barat sering menampilkan pahlawan-pahlawan palsu untuk menggantikan pahlawan-pahlawan yang dimiliki setiap bangsa dalam sejarah. Karakter pahlawan palsu tersebut terkadang menampilkan watak-watak negatif, seperti suka kekerasan, pengumbar hawa nafsu seksual dan sebagainya. Jika generasi muda menerimanya sebagai teladan dan model mereka, maka tidak terlalu sulit untuk memusnahkan kebudayaan pribumi dan menyebarkan nilai-nilai destruktif di tengah masyarakat.

Dikutip dari idntimes.com, dari sepuluh film terlaris sepanjang masa, enam diantaranya merupakan film super hero. Sisanya adalah film bergenre romansa ‘bebas nilai’ dan aksi yang didalamnya terdapat banyak kekerasan. Karakter-karakter yang ada di dalam film-film ini akan ditangkap oleh setiap mata yang menonton, khususnya generasi muda sebagai sasaran utamanya.

Mengapa melalui film? Dalam buku berjudul Media Now: Understanding Media, Culture, and Technology yang dikutip dari wikipedia.com, di samping mencapai suatu nilai profit bisnis, film juga berfungsi untuk mentransmisikan suatu pesan dari si pembuat film kepada khalayak luas. Dengan fungsi mentransmisikan pesan, menempatkan film dalam sebuah proses komunikasi. Komunikasi inilah yang digunakan untuk mempromosikan nilai-nilai yang akan menggantikan nilai-nilai yang ada di tengah masyarakat sebagai bagian dari imperialisme kebudayaan.

Penyebaran pemikiran yang disebarkan melalui berbagai media terutama film, disamping memiliki jangkauan yang luas, juga sangat berpengaruh bahkan menguntungkan secara bisnis. Media digunakan untuk mengubah pola pikir dan pandangan seseorang, terutama perilaku anak-anak dan remaja. Oleh karena itu, Prof. Saefuddin mengingatkan, lingkungan anak dan remaja perlu mendapat perhatian khusus. Saat ini, prioritas semua negara adalah memperkuat peran media nasional, mengangkat nilai-niali budaya setempat serta melawan serangan budaya asing yang bersifat imperialisme kebudayaan.

Perlawanan terhadap imperialisme kebudayaan bisa dimulai masyarakat dengan mengenali dengan baik nilai-nilai yang telah mengakar, khususnya yang bersumber dari agama, sehingga mereka mengetahui identitasnya sendiri. Selanjutnya, mengenali tipu daya dan propaganda menyesatkan Barat dalam memerangi kebudayaan negara-negara berkembang.

Oleh karena itu, tugas melawan imperialisme ini mesti dibarengi kesadaran para orang tua terhadap pengawasan tontonan anak-anak yang sangat mempengaruhi cara berpikir mereka. Tanpa disadari, mereka akan menjadi pengikut dan pemuja budaya Barat yang destruktif secara sadar dan sukarela. Tak ada nilai yang kokoh membentengi mereka selain nilai-nilai agama yang mesti ditumbuhsuburkan di tengah-tengah keluarga.

Wallâhu a’lamu bish-shawâb

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*