Pondok Pesantren Tahfidz Darul Qur’an Lakukan Studi Banding Pengkaderan Da’i STID Mohammad Natsir

STIDNATSIR.AC.ID – Civitas Akademika Pesantren Tahfizh Darul Quran Tangerang berkunjung ke Kampus Putra STID Mohammad Natsir Bekasi dalam rangka melakukan studi banding pengaderan Da’i, pada Senin (29/6/20).

Ustadz H. Saiful Bahri, Lc., Ketua Umum Himpunan Da’i Darul Quran mengungkapkan bahwa dirinya sering mendengar nasihat dari ustadz Syuhada Bahri tentang bekal dai. Ustadz Syuhada juga pernah menceritakan kisah-kisah dai di pedalaman. Tak hanya kagum dengan kiprah da’i alumni STID Mohammad Natsir, ia justru penasaran dengan komitmen kuat yang ditunjukkan para da’i di pedalaman. Apa resep pengaderan da’i di STID Mohammad Natsir dalam mencetak kader yang mampu survive di daerah terpencil. Oleh sebab itu, kedatangannya bersama kolega bertujuan untuk silaturahim dengan sesama murid ustadz Syuhada dan mempelajari pola pengaderan da’i.

Ketua STID M Natsir, Ustadz Dr. Dwi Budiman Assiroji, M.Pd.I menyambut baik kedatangan rombongan Pimpinan Pondok Pesantren Tahfizh Darul Quran dan keinginannya mendirikan lembaga pengkaderan da’i pedalaman. Baginya, sebagai sesama murid Ustadz Syuhada Bahri, ini menjadi momen yang baik untuk bersilaturrahim. Ia juga berharap kedatangan para ahlul Qur’an dari DAQU dapat menjadi keberkahan tersendiri bagi STID Mohammad Natsir dan terjalin hubungan emosional yang baik antar kedua belah pihak.

Ia melanjutkan, Lembaga Pendidikan Dewan Da’wah secara informal telah berdiri sejak Dewan Da’wah berdiri, bernama AKBAR (Akademi Bahasa Arab), karena masih terkendala formalisasi lembaga.

“Kalau kata Ustadz Syuhada, Dahulu lembaga pendidikan ini tidak ‘direstui’ Pemerintah, tapi direstui Allah’,” kenangnya.

Institusi Pendidikan yang didirikan oleh Mohammad Natsir ini bertujuan melahirkan dai ilallah yang Menguasai ilmu dien, Menguasai skill dakwah, dan Ilmu komunikasi. Di usianya yang telah menginjak 21 tahun ini, STID Mohammad Natsir semakin banyak diminati. “Alhamdulillah pendaftar selalu meningkat tiap tahunnya. Tahun ini total pendaftar berjumlah 1.083, namun kuota yang tersedia hanya 250;, 210 ikhwan dan 40 akhwat. ” Lantas ustadz Dwi juga menjelaskan tahapan-tahapan pengkaderan di STID Mohammad Natsir.

Lalu beliau menyampaikan bahwa penguatan komitmen da’i di STID Mohammad Natsir dimulai sejak fase penerimaan mahasiswa baru. Hanya mahasiswa/i yang memiliki komitmen pada dakwah yang memiliki kans untuk diterima. Selain itu, para tenaga pendidik di kampus ini merupakan praktisi dakwah yang telah membersamai umat di pelosok Nusantara. Sehingga, selain menjadi pembimbing, para dosen juga menjadi miniatur figur da’i pedalaman bagi mahasiswa. Bahkan berkembang saat ini, alumni STID Mohammad Natsir menolak jika ditugaskan berdakwah di perkotaan. Berbeda dengan pusat pengkaderan lainnya, Kampus ini mengambil jalan yang tidak populer bagi sebagian da’i lain.

Wakil Ketua I Bidang Akademik, Ustadz Imam Taufik Alkhottob, M.Pd.I menambahkan, di antara yang menguatkan komitmen alumni STID Mohammad Natsir adalah proses pengkaderan di asrama. Di tahap awal pengkaderan inilah tazkiyatun nafs mahasiswa dilatih, menjadi fase yang tak mudah pula bagi mahasiswa. Kegiatan non sks yang cukup padat, bersosialisasi dengan teman yang relatif heterogen, dan makan ala kadarnya.

Kemudian para Civitas Akademika Pondok Tahfizh Darul Quran juga diberikan kesempatan bertanya dan berdiskusi terkait pengkaderan da’i. Ponpes Tahfizh Darul Quran dengan senang hati menerima kunjungan balasan STID Mohammad Natsir di kemudian hari. Pertemuan diakhiri dengan foto bersama. [FR]

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*