Dosen STID Mohammad Jadi Pembicara dalam Seminar Da’wah Internasional

STIDNATSIR.AC.ID – Dosen STID Mohammad Natsir menjadi Pembicara dalam Seminar Da’wah Internasional yang diselenggarakan pada Sabtu (25/7/20) lalu dan disiarkan secara langsung dari Gedung Kampus Universitas Islam Asy Syafi’iyah Jakarta melalui aplikasi pertemuan daring, Channel Youtube Dakho TV dan UIA.

Selain Ketua STID Mohammad Natsir, Ustadz Dr. Dwi Budiman Assiroji, M.Pd.I, beberapa Dosen STID Mohammad Natsir juga turut menyampaikan materi dan hasil penelitiannya pada seminar daring ini. Ustadz Syaroni Tohir, Lc, MA di sesi kedua seminar da’wah ini menyampaikan Konsep Pendekatan Da’wah Global. Beliau mengatakan bahwa, pendekatan da’wah senantiasa berkembang dari zaman ke zaman. Jika dahulu melalui kesenian, syair, pendidikan non formal tradisional, sekarang pendekatan da’wah dapat melalui fashion, olahraga, perdagangan, dan lainnya.

Dosen Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam tersebut, mengkasifikasikan pendekatan – pendekatan yang umum digunakan para da’i dalam berda’wah. Yaitu Pendekatan Kultural, Individual, Struktural dan Kolektif. Pendekatan Kultural ialah pendekatan melalui Seni, Budaya dan lembaga non formal. Pendekatan Individual adalah pendekatan orang ke orang (person to person), Pendekatan Struktural ialah pendekatan melalui jalur politik, kekuasaan, undang-undang, dan sebagainya (Top down). Sementara, Pendekatan Kolektif adalah pendekatan melalui organisasi besar.

Kemudian, Ustadz Salman Al-Farisi, M.Kom.I menjelaskan hasil observasinya mengenai Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Masjid oleh Kampus STID Mohammad Natsir melalui program Komunitas Pecinta Masjid. Menurutnya, salah satu solusi penyimpangan sosial di masyarakat adalah melakan pemberdayaan masyarakat melalui kelompok dan komunitas. Sebagaimana yang diimplementasikan oleh Rasulullah 14 abad yang lalu. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mampu merubah masyarakat musyrik menjadi bertauhid, pun merubah masyarakat yang bodoh menjadi berilmu.

Program KPM yang digagas sejak tahun 2006 di Kampus STID M Natsir ini merupakan pengejawantahan salah satu dari Tiga Pilar Pembinaan dan Kekuatan umat menurut Allah yarham Mohammad Natsir. Program yang dilaksanakan oleh mahasiswa semester 5 hingga 8 ini bertujuan untuk menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan masyarakat. Kini sudah ada sekitar 61 masjid yang dibina oleh mahasiswa STID Mohammad Natsir.

Mengutip perkataan Ibnu Khaldun, pemberdayaan mencakup aspek Ruhaniyah, Intelektual dan Ekonomi. Ketiga aspek ini dinilai sangat krusial bagi kelanjutan proses da’wah. STID M Natsir berkontribusi pada pemenuhan aspek tersebut, “STID Mohammad Natsir secara tidak langsung berkontribusi pada pembinaan aspek matra Ruhaniyah & Intelektual melalui program KPM,” simpul Ketua Program Studi Pemberdayaan Masyarakat Islam STID M Natsir tersebut.

Di sesi terakhir, Wakil Ketua I Bidang Akademik, Ustadz Imam Taufik Alkhottob, M.Pd.I mempresentasikan gagasannya mengenai mengenai Studi komparasi Moderasi Diplomasi Islam & Barat dalam Tinjauan Sejarah. Beliau menjelaskan bahwa dahulu pemilihan diplomat pada zaman pemerintahan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam setidaknya harus memenuhi 4 kriteria; pertama, penampilan yang bagus, kedua, fasih dalam berbicara, ketiga, memilih nama/keturunan yang baik, keempat, memiliki kecerdasan dan kewibawaan. Tak ayal Raja Muqauqis takjub dengan hikmah Hatib bin Abi Baltaah (utusan Rasul) dan hikmah pengutusnya.

Bahkan, di zaman Rasul pun sudah ada regulasi dan hak-hak diplomat, seperti tidak boleh membunuh dan atau menawan diplomat, memberikan jaminan ruang ibadah bagi diplomat kafir (contoh utusan Kaum Nasrani dari Bani Najran)

Terakhir, Ketua Prodi Komunikasi Penyiaran Islam, Ustadz Lukman, M.Pd.I menyampaikan mengenai Nilai-Nilai Toleransi dalam Da’wah Mohammad Natsir. Beliau menyebutkan problematika yang kerap terjadi di tengah masyarakat, yaitu menguatnya intoleransi dan tuduhan intoleransi, hilangnya keteladanan di tengah umat dan menguatnya redefinisi toleransi yang menyesatkan.

“Konsep toleransi Mohammad Natsir adalah Toleransi Islam itu sendiri, Islam bukan hanya cara ibadah, tapi jalan hidup.” ungkapnya.

Ia melanjutkan, M Natsir adalah Da’i Ilallah, maka pergerakan dalam politik pun dalam rangka berda’wah. Di antara contoh toleransi da’wah politik beliau adalah saat menjadi Ketua Masyumi selama 8 tahun. Beliau memimpin banyak golongan lintas pemikiran di dalam masyumi. Selain itu, beliau juga memperjuangkan dasar negara dalam sidang-sidang konstituante, serta menggagas Mosi Integral.

Web Seminar Da’wah Internasional ini merupakan hasil kerjasama STID Mohammad Natsir dengan Universitas Islam Asy Syafi’iyah (UIA), Sekolah Tinggi Agama Islam At Taqwa Bekasi, Sekolah Tinggi Agama Islam Indonesia (STAIINDO) dan Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM).

Berita Terkait : STID Mohammad Natsir Bersama Beberapa Perguruan Tinggi Bekerjasama Selenggarakan Seminar Da’wah Internasional

Sebanyak 31 pembicara yang berasal dari Mancanegara yaitu Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Pakistan, India dan Thailand. serta tidak kurang dari 1000 peserta berpartisipasi dalam Webinar ini. Acara berjalan dengan lancar, meskipun terkadang mengalami gangguan teknis jaringan. [FR]

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*