Ingin Tingkatkan Geliat Ekonomi Keumatan, Ustadz Husein Gani Maricar Sosialisasikan Gagasan Bisnis Model Kanan

STIDNATSIR.AC.ID – Ustadz Husein Gani Maricar melakukan kunjungan ke Kampus STID Mohammad Natsir untuk memberikan gagasannya mengenai Pemberdayaan Ekonomi Umat, pada Kamis (24/9/20).

Hadir dalam diskusi ini, pimpinan STID Mohammad Natsir, Tim KPZ (Kantor Pelayanan Zakat) Laznas Dewan Da’wah Tambun, dan perwakilan dari masing-masing unit di Pusdiklat Dewan Da’wah Tambun.

Ustadz Husein menerangkan, Dahulu sahabat Umar Bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu mmeberikan perhatian khusus pada sektor ekonomi, ini menjadi bukti bahwa kemerdekaan suatu negara tak hanya di capai dengan invasi-invasi massif saja, namun mengatur regulasi di pasar-pasar merupakan sendi krusial bagi perkembangan suatu negara.

Ia melanjutkan, Masjid bisa menjadi sentralisasi ekonomi umat, berbagai kebutuhan ekonomi dan layanan masyarakat dapat dicari di masjid. Ia melihat, umat justru lebih gemar membelanjakan uangnya kepada unit-unit usaha milik asing dan non muslim, daripada berbelanja di badan usaha milik kaum muslimin.

Tak perlu manajemen yang pelik untuk memulai usaha ini, dahulu memulai usaha memang terkesan ribet, harus tekstual dengan teori ekonomi yang kolot. Namun, di zaman digitalisasi ini, semua hal serba simpel, dengan cara yang praktis relatif memangkas alur kegiatan ekonomi dan menghemat biaya distribusi.

Menurutnya, kas masjid lebih produktif dijadikan modal usaha daripada disimpan ke Bank, “Kas masjid itu mending kita manfaatkan untuk modal usaha, daripada ‘dibisnisin’ sama Bank. Mereka yang untung,” ujar eks jurnalis salah satu media swasta tersebut.

Pria yang pernah menjadi dosen di Kampus STID Mohammad Natsir ini mengatakan, bahwa memulainya bisa bermula dari jama’ah sholat shubuh. Ia menyurvey sejumlah masjid di sekitar Jakarta, sedikitnya 30 jama’ah yang rutin melaksanakan sholat Shubuh berjamaah di Masjid. Jama’ah sholat Shubuh dinilai sebagai jama’ah yang paling konsisten dan miniatur animo suatu masyarakat pada ibadah sholat berjamaah. Selain itu, dimulai dari jama’ah sholat shubuh karena biasanya kaum muslimin yang menunaikan ibadah di waktu tersebut merupakan penduduk mukim di sekitar masjid. 30 orang inilah yang lebih dulu diajak untuk memberdayakan ekonomi berbasis masjid ini, bertahap hingga lingkup jama’ah sholat fardhu lainnya.

Bagi ustadz Husein selain membangun kekuatan ekonomi umat dari hulu ke hilir, ini juga menjadi kans kita untuk membantu kaum muslimin yang kurang mampu. Kaum muslimin yang kurang mampu dapat memperoleh harga ‘miring’ dalam pemenuhan kebutuhannya. Inilah yang beliau sebut dengan bisnis gaya ‘Kanan’.

Membaca peta persaingan dagang juga perlu dicermati oleh pelaku usaha. Produk berkualitas, budget friendly dan pelayanan yang baik menjadi daya tarik konsumen. Lantas, ia bercerita tentang seorang pengusaha asal Amerika Serikat di tahun 1950an bernama Samuel Moore Walton yang mendirikan toko Wallmart dan Sam’s Club di berbagai penjuru Amerika. Tak ada yang mampu menyaingi bisnisnya tersebut. Berbeda dengan pelaku usaha lainnya yang khawatir jika membuka toko di daerah yang telah kompetitif, Sam justru ‘nekat’ membuka tokonya di dekat toko-toko besar yang telah maju. Alih-alih tenggelam oleh pengaruh toko besar, tokonya justru menjadi lebih besar dibanding toko lainnya.

Selain itu, beliau juga memberikan paradigma-paradigma Islam dalam berbisnis dan membeberkan kiat-kiat membangun usaha dari nol lainnya. Selanjutnya, di sesi disukusi para peserta dipersilakan mengajukan pertanyaan kepada pembicara. Acara berjalan dengan lancar, para peserta mengaku mendapatkan motivasi baru dan ide baru untuk diimplementasikan ke depannya. [FR]

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*