Rasulullah Dihina? Apa Yang Harus Kuperbuat?

Kata Pengantar

الحمدلله فتاح العليم، الذي خلق الإنسان في أحسن تقويم، وأشهد أن لاإله إلا الله الواحد الحكيم، اللهم صلى على نبينا محمد الكريم، المنزل عليهم وإنك لعل خل ق عظيم، وعلى آله وأصحابه أجمعين. أمابعد

Alhamdulillah segala puji syukur akan karunia Alloh ta’ala yang telah dilimpahkan kepada kita semua, semoga kita bisa memanfaatkan dan mengambil barokah dari apa yang alloh titipkan kepada kita semua.

Tak lupa sholawat berhaturkan salam selalu terurahkan kepada baginda Nabi shaallallahu’alaihiwasallam, semoga kita semua mendapat syafa’at diyaumil akhir kelak. Sehubungan dengan dituliskannya E-BOOK ini ,penulis menulis e-book ini dengan tujuan utama yakni mencari keridhoan Alloh ‘Azza Wa Jalla, dan juga untuk memberikan langkah kepada umat Muslim khususnya terkait tindakan saat Rasulullah dihina.oleh karenanya mudah-mudahan pembaca Yang budiman daat mengambil ibroh dan manfaat dari apa yg telah dituliskan penulis ini dengan berawalan bismillah

Adapun kekurangan dan kekhilafan masih terdapat disana sini, mohon untuk dimaklumi. Sebab penulis hanyalah makhluk Alloh yang diselimuti oleh kesalahan dan kekhilafan.
Aazzaniyallahu waiyyakum…
Baarokallaahu fiikum…
Penulis,
Batam, 08 November 2020

Zaki Aqil Nashrullah

Daftar Isi

JUDUL………………………………………………………i
KATA PENGANTAR.…………………………………..…….ii
DAFTAR ISI……………………………………………….iii
BAB I PENDAHULUAN…………………………………4
• Latar Belakang Masalah…………………………………..4
• Rumusan Masalah…………………………………………4
• Tujuan Pembahasan………………………………………4
BAB II PEMBAHASAN………………………………………..5
A. Sikap Nabi kepada Para Pencela Dirinya….….…5
B. Hukum Pencela Islam dan Nabi Muhammad…8
C. Kisah Tentang Para Penghina Nabi …………….…9
D. Sikap Para Ulama Kepada Para Penghina Allah, Islam dan Nabi Muhammad…………….………………12
BAB III PENUTUP…………………………………………….14
Kesimpulan…………………………………………..14
Saran……………………………………………………14
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………..15

Pendahuluan
Latar belakang masalah
Permasalahan mengenai sikap seorang Da’I /para ulama kepada para pencela Nabi صلى الله عليه وسلم .Yakni mengenai permasalahan beberapa hari belakangan terkait hal yang ramai diperbincangkan dikalangan umat beragama didunia khususnya umat Muslim dunia. Yang mana dari jauh hari bukan hanya saat ini saja masalah seperti ini kerap terjadi.

Rumusan Masalah
Bagaimanakah sikap Nabi صلى الله عليه وسلم ketika dirinya dihina?
Bagaimanakah hukumnya orang yang mencela Islam dan Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم?
Bagaimanakah kisah-kisah orang terdahulu sesudah menghina Nabi صلى الله عليه وسلم ?
Bagaimanakah Sikap dan Pendapat Para ‘Ulama terhadap orang-orang yang mencela Nabi صلى الله عليه وسلم?

Latar belakang masalah
Adapun pembahasan ini bertujuan untuk melengkapi nilai tugas di mata perkuliahan TAZKIYATU AN-NAFS dan juga untuk menjabarkan kepada umat Muslim khususnya kepada para Dhu’at tentang sikap yang mesti dilakukan tatkala ada yang mencela Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.

Pembahasan
Sikap Da’I kepada para Pencela Nabi صلى الله عليه وسلم
Bismillah,
Terkait mengenai permasalahan beberapa orang yang suka mencela Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, disini kita perlu mengetahui terlebih dahulu tentang bagaimana sikap Nabi صلى الله عليه وسلم ketika ada yang mencela dirinya, sikap sahabat رضي الله عنهم ketika ada yang menghina Nabi صلى الله عليه وسلم ,Sikap para ulama juga sikap para dhu’at ketika terjadi penghinaan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم .
Dan apabila kita sudah mengetahui bagaimana sikap para sahabat dan para ‘Ulama terhadap para pencela Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم , barulah kita bisa mengambil kesimpulan dan sikap melalui dasar dari sikap dan pendapat para ‘Ulama tentang hal ini. Dalam tanda kutip yakni, sikap kita kepada para pencela Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم ialah sebagaimana sikap para sahabat dan para ‘Ulama kepada para pencela itu.

Sikap Nabi صلى الله عليه وسلم kepada pencela Islam dan dirinya
Perlu kita ketahui, tentu sikap Nabi صلى الله عليه وسلم berbeda dengan sikap para sahabat ketika ada yang mencela dirinya. Ketika Nabi dihina maka beliau sangat pemaaf dan tidak pernah membalas dengan keburukan barang kecil sekalipun. Hal ini dikarnakan sifat beliau sebagai seorang Nabi,dan juga dikarnakan beliau yang diutus sebagai uswah atau tauladan bagi seluruh alam.

Sebagai mana Salah satu kisah seseorang yang berada hidup dizaman Nabi, yang awalnya pembenci dan pencaci, namun pada akhirnya jadi pembela Islam dan Nabi hingga mati.
Suhayl bin Amru, salah satu tokoh Quraisy zaman Nabi Muhammad saw. Dia memiliki kemampuan orasi yang baik. Setiap kali dia menyampaikan pikirannya, orang yang mendengarnya akan terpukau. Selain itu, dia dikenal cerdik. Sehingga dengan kecerdikan dan kepandaiannya dalam berorasi, Suhayl seringkali menghina Islam dan orang Islam dengan kata-katanya. Setiap kali ada peluang untuk menjelekkan Islam, dia akan berada di barisan terdepan untuk menghina ajaran Islam. Perbuatannya pun membuat banyak sahabat Nabi jengkel.

Ketika terjadi perang Badar, orang-orang Kafir Makkah kalah. Suhayl bin Amru menjadi salah satu tawanan perang. Umar bin Khattab yang sudah lama jengkel kepada Suhayl meminta izin kepada Nabi صلى الله عليه وسلم dan mengatakan, “Wahai Nabi, izinkan aku mencabut gigi serinya, biar dia tak lagi mengatakan hal buruk tentangmu.”
Nabi صلى الله عليه وسلم menjawab, “Jangan, Umar! Biarkan saja dia. Siapa tahu nanti dia berada di posisi kita”.
Karena dilarang oleh Nabi, Umar tak jadi melukai Suhayl.

Beberapa waktu kemudian, apa yang dikatakan oleh Nabi Muhammad benar. Suhayl bin Amru memeluk Islam ketika kota Mekkah berhasil ditaklukkan oleh umat Islam dalam peristiwa Fathul Mekkah. Pribadinya yang kasar dan beringas mendadak berubah menjadi lemah lembut dan mudah menangis ketika mendengarkan Alquran.

Ketika Nabi صلى الله عليه وسلم wafat, banyak sahabat yang bersilang pendapat. Tidak sedikit juga yang murtad. Di saat itulah, Suhayl muncul dan berorasi yang memukau dan menenangkan masyarakat. Di antara yang disampaikan oleh Suhayl waktu itu adalah, “Wahai masyarakat, janganlah kalian menjadi yang terakhir memeluk Islam dan yang pertama murtad. Demi Allah, agama ini akan menyebar luas sejauh jangkauan sinar matahari sedari terbit hingga terbenam. Janganlah ini memperdayai kalian (dalam hal ini yang dimaksud adalah Abu Sufyan sebagaimana riwayat dalam Tarikh Al-Thabari), karena sesungguhnya ia mengetahui yang aku ketahui”.

Selanjutnya, Suhayl terus berjihad di jalan Allah. Ia terbunuh dalam perang Yarmuk.

Begitu pula dengan kisah pengemia yahudi buta yang masuk Islam.
Salah satu sudut di dekat pintu kota Madinah menjadi tempat seorang pengemis buta. Dia memiliki kepercayaan Yahudi. Setiap kali ada orang yang mendekatinya, dia selalu berpesan, “Jangan pernah engkau dekati Muhammad. Dia itu orang gila, pembohong, dan tukang sihir.”
Seandainya dia tidak buta, tentunya cepat berubah sikap dan perangai. Sebab, adalah Rasulullah Muhammad SAW yang gemar mendatanginya. Bukan untuk menghardiknya atau sekadar meminta klarifikasi atas hasutannya itu. Nabi SAW justru rajin datang kepadanya dengan menenteng makanan.
Tanpa bicara sepatah kata pun, beliau lantas duduk di sebelah pengemis Yahudi buta itu. Setelah meminta izin, Rasulullah SAW pun menyuapi orang tadi dengan penuh kasih sayang. Hal itu dilakukannya rutin, bahkan kemudian menjadi kebiasaan setiap pagi.
Seiring waktu, Allah SWT memanggil beliau. Rasulullah SAW wafat, menyisakan duka yang teramat dalam di tengah para keluarga, sahabat, dan kaum Muslimin pada umumnya.
Sementara itu, kepemimpinan umat sudah berada di tangan Abu Bakar ash-Shiddiq. Sang khalifah ini memang sudah bertekad untuk mengikuti tradisi dan kebijakan-kebijakan peninggalan Rasulullah SAW. Bahkan termasuk rutinitasnya sehari-hari.
Suatu hari, Abu Bakar berkunjung ke rumah putrinya, Aisyah. Abu Bakar bertanya kepada anaknya yang juga istri Nabi SAW itu.
“Wahai putriku, adakah satu sunnah kekasihku (Rasulullah SAW) yang belum aku tunaikan?” tanya Abu Bakar.
Aisyah pun menjawab, “Wahai ayahku, engkau adalah seorang ahli sunnah, dan hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum engkau lakukan kecuali satu saja”.
“Apakah itu?”
“Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang sering duduk di sana,” ungkap Aisyah.
Maka keesokan harinya, Abu Bakar pergi ke pasar dengan membawa makanan. Dia pun bergegas menuju titik lokasi yang dimaksud, supaya berjumpa dengan si pengemis.
Betapa gembira Abu Bakar mendapati adanya seorang pengemis buta yang duduk di dekat sana. Setelah mengucapkan salam, Abu Bakar lalu duduk dan meminta izin kepadanya untuk menyuapinya.
Namun, di luar dugaan pengemis tadi malah murka dan membentak-bentak, “Siapakah kamu!?”
Abu Bakar menjawab, “Aku ini orang yang biasa menyuapimu.”
“Bukan! engkau bukan orang yang biasa mendatangiku,” teriak si pengemis lagi, “Jikalau benar kamu adalah dia, maka tidak susah aku mengunyah makanan di mulutku. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menghaluskan makanan terlebih dahulu dengan mulutnya sendiri. Barulah kemudian dia menyuapiku dengan itu,” terang si pengemis sambil tetap meraut wajah kesal.
Abu Bakar tidak kuasa menahan deraian air matanya, “Aku memang bukan orang yang biasa datang kepadamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, Abu Bakar. Orang mulia itu telah tiada. Dia adalah Rasulullah Muhammad SAW.”
Mendengar penjelasan Abu Bakar, pengemis tadi seketika terkejut. Dia lalu menangis keras. Setelah tenang, dia bertanya memastikan, “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghina, memfitnah, dan menjelek-jelekan Muhammad. Padahal, belum pernah aku mendengar dia memarahiku sedikit pun. Dia yang selalu datang kepadaku setiap pagi dengan membawakan makanan. Dia begitu mulia.”
Maka di hadapan Abu Bakar ash-Shiddiq, pengemis Yahudi buta itu mengucapkan dua kalimah syahadat. Demikianlah, dia masuk Islam karena menyadari betapa mulianya akhlak Rasulullah SAW.

Namun perlu kita ketahui, bahwa sikap seperti itu ialah sikap rosulullah tatkala ada yang menghina dirinya. Berbeda dengan sikap para sahabat dan para ‘ulama ketika ada yang menghina Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم . Bahkan ketika ada seorang sahabat Yang membunuh orang yang menghina Nabi صلى الله عليه وسلم,maka Nabi tidak menyalahkan pelakunya dan tidak memberlakukan hukum qishas tergadapnya, hal ini dikarnakan ialah sikap yang tepat bagi selain Nabi jika ada yang menghina Islam dan Nabi صلى الله عليه وسلم.

Hukum tentang pencela Islam dan Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم .

Menghina Nabi ﷺ adalah tindakan kekafiran, dapat menyebabkan pelakunya keluar dari Islam. Baik dilakukan serius maupun dengan bercanda. Allah ﷻ berfirman,

وَلَئِن سَأَلۡتَهُمۡ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلۡعَبُۚ قُلۡ أَبِٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمۡ تَسۡتَهۡزِءُونَ

Jika kamu tanyakan kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanya bersenda-gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah, “Mengapa kepada Allah, dan ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” (QS. At-Taubah: 65)

Saat orang-orang munafik yang menghina Nabi itu menyanggah, bahwa mereka melakukan itu hanya sekedar bercanda, Allah menjawab,

لَا تَعۡتَذِرُواْ قَدۡ كَفَرۡتُم بَعۡدَ إِيمَٰنِكُمۡۚ

Tidak perlu kalian mencari-cari alasan, karena kalian telah kafir setelah beriman. (QS. At-Taubah : 66)

Syekh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menjelaskan makna ayat ini dalam kitab tafsir karyanya,

فإن الاستهزاء باللّه وآياته ورسوله كفر مخرج عن الدين لأن أصل الدين مبني على تعظيم اللّه، وتعظيم دينه ورسله، والاستهزاء بشيء من ذلك مناف لهذا الأصل.

Menghina Allah, ayat-ayat dan Rasul-Nya, adalah penyebab Kekafiran, pelakunya keluar dari agama Islam (murtad). Karena agama ini dibangun di atas prinsip mengagungkan Allah, serta mengagungkan agama dan RasulNya. Menghina salah satu diantaranya bertentangan dengan prinsip pokok ini.

Apa Hukuman Bagi Penghina Nabi?
Para ulama sepakat (ijma’), bahwa orang yang mengina Nabi, layak mendapat hukuman mati.

Mari kita simak keterangan Syaikhul Islam al-Harrani dalam kitabnya as-Sharim al-Maslul,

وقد حكى أبو بكر الفارسي من أصحاب الشافعي إجماع المسلمين على أن حد من سب النبي صلى الله عليه و سلم القتل كما أن حد من سب غيره الجلد

Abu bakr al-Farisi, salah satu ulama syafiiyah menyatakan, kaum muslimin sepakat bahwa hukuman bagi orang yang menghina Nabiﷺ adalah bunuh, sebagaimana hukuman bagi orang yang menghina mukmin lainnya berupa cambuk.

Selanjutnnya Syaikhul Islam menukil keterangan ulama lainnya,

قال الخطابي : لا أعلم أحدا من المسلمين اختلف في وجوب قتله؛

Al-Khithabi mengatakan, “Saya tidak mengetahui adanya beda pendapat di kalangan kaum muslimin tentang wajibnya membunuh penghina Nabi ﷺ.”

وقال محمد بن سحنون : أجمع العلماء على أن شاتم النبي صلى الله عليه و سلم و المتنقص له كافر و الوعيد جار عليه بعذاب الله له و حكمه عند الأمة القتل و من شك في كفره و عذابه كفر

Sementara Muhammad bin Syahnun juga mengatakan, “Para ulama sepakat bahwa orang yang mencela Nabiﷺ dan menghina beliau statusnya kafir. Dan dia layak untuk mendapatkan ancaman berupa adzab Allah. Hukumnya mennurut para ulama adalah bunuh. Siapa yang masih meragukan kekufurannya dan siksaan bagi penghina Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, berarti dia kufur.”

Kisah Tentang Para Penghina Nabi صلى الله عليه وسلم

Juga terdapat beberapa kisah yang semoga dapat menjadi ibroh bagi kita khususnya kaum muslimin tentang hal penghinaan kepada islam dan Nabi صلى الله عليه وسلم. . Diantaranya :

1. Bumi Tidak Menerima Mayat Penghina Nabi

Imam Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Anas bahwa beliau mengatakan, “Dahulu ada seorang Nasrani yang masuk Islam dan membaca al-Baqarah dan Aali Imraan dan menulis untuk Nabi, lalu dia murtad kembali ke agama Nasrani dan menghina Nabi seraya mengatakan, ‘Muhammad itu tidak tahu kecuali apa yang dituliskan untuknya saja.’ Allah lalu mematikannya dan mereka pun menguburnya, namun esok harinya ternyata dia tergeletak di atas bumi.

Mereka pun mengatakan, “Ini pasti perbuatan Muhammad dan para sahabatnya, mereka menggali kuburan kawan kita ini lalu membuangnya begitu saja.”

Akhirnya mereka menggali lagi kuburan sedalam mungkin yang mereka mampu, namun esok harinya ternyata mayatnya tergeletak lagi di atas bumi.’ Maka mereka pun menyadari bahwa ini bukan perbuatan manusia, sehingga mereka akhirnya membuang mayatnya.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkomentar, “Lihatlah orang terlaknat ini, ketika dia berdusta tentang Nabi dengan ucapannya bahwa beliau tidak mengerti kecuali apa yang dituliskan untuknya, maka Allah membinasakannya dan membongkar kedoknya dengan memuntahkan mayatnya dari kuburannya setelah beberapa kali dikubur. Sungguh ini di luar kebiasaan!

Hal ini menunjukkan bagi setiap orang bahwa ini adalah hukuman dari kedustaannya, sebab kebanyakan mayat tidak tertimpa kejadian seperti ini. Dan dosa ini lebih keji daripada kemurtadan, sebab kebanyakan orang yang murtad juga tidak tertimpa hal serupa.”

2. Anjing dan Penghina Nabi

Para ahli fiqih Qairawan dan para sahabat Suhnun memfatwakan untuk menghukum mati Ibrahim al-Fazari, dia adalah seorang penyair dan ahli dalam berbagai disiplin ilmu.

Ungkapan-ungkapan penghinaannya kepada Allah dan Nabi dilaporkan kepada al-Qadhi Abul Abbas bin Thalib, maka beliau lalu menghadirkan al-Qadhi Yahya bin Umar dan para ahli fiqih lainnya lalu memutuskan untuk menghukumnya dengan hukuman mati. Akhirnya, dia pun dihukum mati dan disalib terbalik lalu diturunkan untuk dibakar (Tapi ini tidak benar dan tidak boleh -pent) .

Sebagian ahli sejarah menyebutkan bahwa tatkala kayunya ditancapkan, bisa berputar sendiri dan membelakangi kiblat sehingga menjadi tanda menakjubkan bagi manusia yang membuat mereka bertakbir. Lalu ada seekor anjing yang menjilat darahnya. Melihat hal itu al-Qadhi Yahya bin Umar berkata dan dia menyebutnya sebagai hadits Nabi (kami belum tahu keshahihan hadits ini), “Anjing itu menjilat darah seorang muslim.”

3. Menang Setelah Musuh Menghina Nabi

Syaikhul Islam bercerita, “Banyak kawan saya yang tepercaya dari kalangan ahli fiqih bercerita tentang pengalaman mereka beberapa kali ketika mengepung para musuh di benteng pinggiran kota Syam pada zaman ini.”

Katanya, “Kami sering mengepung musuh sebulan atau lebih namun belum juga berhasil mengalahkan mereka sehingga kami hampir saja putus asa, sampai ada di antara mereka yang mencela Rasulullah dan menodai kehormatan beliau maka kemenangan segera datang menghampiri kami sehari atau dua hari setelahnya.”

Kata mereka, “Kami menyambut gembira dengan kemenangan jika kami mendengar celaan mereka kepada Nabi sekalipun hati kami penuh amarah dengan ucapan mereka tersebut.”

5. Akibat Mencela Hadits Nabi

Imam Muhammad bin Isma’il menyebutkan dalam kitabnya, Syarh Shahih Muslim, “Saya mendengar dalam sebagian hikayat bahwa ada sebagian ahli bid’ah ketika mendengar sabda Nabi :

إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ مِنَ اللَّيْلِ فَلَا يَغْمِسْ يَدَهُ فِي الإِنَاءِ حَتَّى يَغْسِلَهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَإِنَّهُ لَا يَدْرِى أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ

“Apabila salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya maka janganlah dia memasukkan tangannya ke bejana sehingga dia mencucinya terlebih dahulu, sebab dia tidak tahu di mana tangannya bermalam.” (HR Muslim: 103)

Ahli bid’ah itu dengan nada mencela berkomentar, “Saya tahu kok di mana tanganku bermalam, ya di atas kasur!” Maka tatkala (terbangun) di pagi hari, ternyata dia memasukkan tangannya ke duburnya hingga sampai siku-sikunya!”

Imam at-Taimi mengomentari kisah di atas, “Maka hendaknya seorang takut dari merendahkan sunnah Nabi. Lihatlah kesudahan mereka yang sangat mengenaskan di atas.”

Imam Nawawi berkata setelah membawakan kisah di atas, “Mirip dengan kasus ini adalah apa yang fakta terjadi pada zaman kita sekarang ini dan beritanya mutawatir serta telah shahih menurut para hakim bahwa ada seorang yang beraqidah jelek dari kota Bushra pada awal tahun 665 H. Dia punya seorang anak yang shalih. Suatu hari, anaknya datang dari gurunya yang shalih membawa siwak. Ayahnya mengatakan dengan nada mengejek, “Gurumu memberimu apa?” Jawab sang anak, “Siwak ini.” Lalu sang ayah mengambil siwak tersebut dan meletakkan di duburnya sebagai penghinaan.

Selang beberapa hari, ayah tersebut mengeluarkan dari duburnya sejenis ikan. Lalu setelah itu atau selang dua hari berikutnya orang itu meninggal dunia. Semoga Allah melindungi kita dari bala-Nya dan memberikan taufik kepada kita untuk mengagungkan sunnah dan syi’arnya.”

6. Tidak Bisa Berjalan Akibat Menghina Hadits

Abu Yahya Zakaria as-Saji berkata, “Pernah kami berjalan di kampung kota Bashrah menuju rumah sebagian ahli hadits. Kami pun tergesa-gesa berjalan cepat menuju rumahnya. Dalam rombongan kami ada seorang yang tertuduh agamanya berkomentar dengan nada mengejek, ‘Angkatlah kaki kalian dari sayap para malaikat, janganlah kalian memecahkannya!’ Ternyata, dia seketika itu juga tidak bisa berjalan, dia tetap di tempatnya sampai kedua kakinya kering dan jatuh.” Al-Hafizh Abdul Hafizh berkata, “Sanad kisah ini sangat nyata (keshahihannya) karena semua perawinya adalah para imam dan ulama besar.”

Kisah semisal juga diceritakan oleh ad-Dainawari dari Ahmad bin Syu’aib, Abu Dawud as-Sijistani berkata, “Suatu saat ketika kami belajar kepada seorang ahli hadits, ketika guru kami menyampaikan hadits Nabi : ‘Para malaikat meletakkan sayapnya untuk para penuntut ilmu.’ Di dalam majelis ada seorang Mu’tazilah yang melecehkan hadits ini seraya mengatakan, ‘Demi Allah, besok saya akan mengenakan sandal yang berpaku lalu akan kuinjakkan ke sayap para malaikat!’ Dia pun melakukannya, dan kedua kakinya langsung keras sehingga dimakan oleh rayap.”

Sikap Para Ulama kepada para Penghina Allah تعالى, Islam dan Nabi صلى الله عليه وسلم

Semua orang yang mencela Allah subhanahu wa ta’ala, apapun bentuk celaannya, atau mencela Rasulullah Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam, atau para Rasul yang lainnya, apapun bentuk celaannya, atau mencela Islam, atau merendahkan Allah atau Rasul-Nya, maka ia kafir dan murtad dari Islam. Walaupun orang tersebut mengaku Muslim. Ulama ijma’ (sepakat) akan hal ini. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ۝ لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

“Katakanlah: apakah dengan ayat-ayat Allah dan Rasul-Nya, kalian berolok-olok? Tidak perlu minta maaf, kalian telah kafir setelah sebelumnya beriman” (QS. At Taubah: 65-66).

Al Allamah Abul Abbas Ibn Taimiyyah rahimahullah telah berpanjang lebar membahas masalah ini dalam kitab beliau berjudul Ash Sharimul Maslul ‘ala Syatimir Rasul. Siapa yang ingin mempelajari masalah ini lebih banyak beserta dalil-dalilnya, silakan merujuk pada kitab tersebut. Karena kitab ini agung dan penulisnya juga mulia, serta sangat luas ilmunya, rahimahullah.

Demikian juga hukum bagi orang yang menentang satu saja dari perintah yang Allah wajibkan, atau menghalalkan apa yang Allah haramkan yang termasuk perkara ma’lum minad diin bid dharurah (perkara yang secara gamblang diketahui oleh orang Muslim). Seperti menentang wajibnya shalat, menentang wajibnya zakat, menentang wajibnya puasa Ramadhan, menentang wajibnya haji bagi orang yang mampu, menentang wajibnya berbakti kepada orang tua, dan semisalnya, atau menghalalkan minum khamr, menghalalkan durhaka kepada orang tua, menghalalkan harta dan darah orang lain tanpa hak, menghalalkan riba, dan semisalnya, yang termasuk perkara ma’lum minad diin bid dharurah, berdasarkan ijma ulama ia kafir murtad dari Islam, walaupun mengaku Muslim.

Para ulama telah berpanjang lebar dalam pembatal-pembatal keislaman ini, khususnya dalam bab tentang murtad. Mereka telah menjelaskan dalil-dalilnya. Siapa yang ingin mempelajarinya lebih lanjut, silakan merujuk kepada kitab-kitab para ulama dalam bab ini. Baik ulama dari kalangan Hanabilah, Syafi’iyyah, Malikiyyah, Hanafiyyah dan yang selain mereka. InsyaAllah akan didapatkan penjelasan yang memuaskan dari kitab-kitab mereka.

Dan tidak boleh memberikan udzur bil jahl kepada mereka. Karena ini perkara-perkara yang sudah gamblang diketahui oleh kaum Muslimin. Dan hukumnya sudah jelas dalam Al Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahu’alaihi Wasallam.

PENUTUP
Kesimpulan
Mempermainkan atau mengolok-olok Allah تعالى, Islam dan juga Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم merupakan hal yang amat fatal, dapat merusak ‘Aqidah seseorang dan juga dapat menyebabkan keluar keluarnya dari islam(murtad) meskipun bercanda. Karna hal ini berkaitan langsung dengan syahadatain. Dan darahnya halal.
Terdapat banyak kisah yang bisa dijadikan ibroh(pelajaran) bagi kita sekarang tentang kejadian para pelaku penghina Nabi صلى الله عليه وسلم sesudah menghina islam atau diri Nabi صلى الله عليه وسلم.
Kita tidak bisa menjadikan sikap Nabi sebagai panduan bagi kita tatkala islam dan Nabi dihina. Sebagai mana perbedaan sikap antara Nabi dan para sahabat. Yakni Nabi tetap lembut tatkala dihina ,namun para sahabat sangat marah tatkala Nabi dihina.
Sikap dan pendapat para ‘Ulama telah sangat jelas mengenai apa yang mesti kita lakukan kepada para penghina Nabi صلى الله عليه وسلم sesuai kadar kedudukan kita.
Saran
Hendaknya kita selaku Muslim yang mengaku umat Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم lebih mendalami dan mengamalkan Alquran serta Sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم .
Memiliki sikap yang tegas kepada para pengolok islam dan penghina Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم . Dan bersikap lembut kepada sesama Muslim.

Daftar Pustaka
Al-Quran Al-Karim.
kitab Sirah Ibni Hisyam.
Sirah Ibni Katsir.
Kitab Sirrah Nabawiyah, karya Abdul Hasan ‘Ali al Hasani an-Nadwi.
Taisir Al Karim Ar Rahman.
Kitab As-Sharim al-Maslul, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
Kitab Asy-Syifa’ bi Ta’rif Huquqil Musthafa, oleh al-Qadhi Iyadh.
Kitab Hayatul Hayawan al-Kubra oleh ad-Damiri.
Kitab Bustanul ’Arifin oleh Imam Nawawi, cet. Dar Ibnu Hazm.
Al-Bidayah wan Nihayah oleh Ibnu Katsir.
Kitab Dzammul Kalam wa Ahlihi oleh al-Harawi.
Kitab Miftah Dar Sa’adah oleh Ibnul Qayyim Al-Jauzi.
Majmu Fatawa wal Maqalat Mutanawwi’ah, oleh Syaikh Ibnu Baaz.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*