Apa Yang Salah Dengan Fanatik Terhadap Agama?

Oleh: Maulana Yusuf

Belakangan ini tengah ramai pembicaraan mengenai pernyataan dari salah seorang pejabat negara yang mengatakan bahwa “hindari fanatik yang berlebihan terhadap suatu agama, karena semua agama itu benar di mata Tuhan”.

Dari perkataan pejabat negara tersebut, setidaknya ada dua hal yang perlu kita tekankan, yang pertama ialah kita diminta atau dilarang memiliki sifat fanatik terhadap satu agama, yang kedua ialah beliau menyatakan bahwa semua agama itu benar di mata tuhan.

Untuk yang pertama terkait larangan beliau untuk memiliki sifat fanatik terhadap suatu agama, perlu kita ketahui dahulu apa itu arti fanatik dan maksud dari kata fanatik?. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), makna Fanatik kurang lebih adalah suatu keyakinan untuk meyakini ajaran atau kepercayaan dengan kuat. Atau fanatik secara mudahnya bisa dipahami sebagai keyakinan atau kepercayaan yang terlalu kuat terhadap suatu ajaran baik itu agama, politik dan lain-lainnya.

Dalam konteks fanatik terhadap suatu agama, apakah ia termasuk hal yang tercela, sehingga kita diperintahkan untuk tidak fanatik pada satu agama yang kita yakini kebenarannya?. Pertanyaan sederhananya, apakah salah ketika kita fanatik dengan agama yang kita yakini kebenarannya? , sehingga pejabat negara tersebut sampai melarang kita untuk fanatik terhadap satu agama?. Apakah salah ketika ada orang Katolik fanatik dan meyakini hanya agama Katolik saja yang benar?, apakah salah jika ada orang Kristen Protestan fanatik dan menganggap bahwa hanya agama Kristen Protestan yang benar? , dan apakah salah jika ada orang Islam yang fanatik dan menganggap bahwa hanya Islam agama yang benar?.

Menurut hemat saya, justru fanatik dalam beragama adalah menjadi sebuah keharusan bagi setiap pemeluk agama, dan meyakini hanya agama yang diyakininya adalah satu-satunya agama yang benar. Dan justru sebaliknya sangat janggal dan aneh jika ada salah satu pemeluk agama, lalu dia menganggap bahwa agama yang diyakininya tidak benar dan menganggap agama lain juga benar, jelas orang seperti ini adalah orang yang linglung dan tidak memiliki pijakan yang kuat dalam keimanan.

Anda bisa bayangkan bagaimana galaunya jika ada orang Katolik yang menganggap bahwa agama yang dianutnya bukan satu-satunya agama yang benar dan meyakini bahwa agama lain selain agama katolik adalah agama yang benar, atau ada umat Islam yang menganggap bahwa agama Islam yang dianutnya bukan satu-satunya agama buang benar dan meyakini bahwa agama selain Islam adalah agama yang benar, begitupun dengan umat agama lainnya, orang seperti ini jelas menunjukkan keraguan imannya pada agama yang diyakininya, padahal di dalam ajaran agama manapun, soal keimanan adalah perkara pertama dan utama yang harus ditekankan kepastiannya, dan tidak ada keraguan dalam soal keimanan kita pada kebenaran suatu agama yang kita pilih. Orang Kristen yakin dengan kebenaran agama Kristen, orang Islam yakin dengan kebenaran agama Islam dan begitupun pemeluk agama-agama lainnya.

Lalu mengapa sampai keluar pernyataan dari pejabat tersebut agar kita jangan fanatik terhadap suatu agama tertentu bahkan menyatakan semua agama benar?. Bisa jadi, kalau kita melihat kondisi bangsa kita akhir-akhir ini, polarisasi isu agama dalam konteks sosial dan politik memang sangat kental terasa, aksi 411 dan 212 meskipun sudah berlalu sekian tahun, namun aroma dan nuansa perjuangannya masih sangat kental terasa khususnya dalam kehidupan ummat Islam dan sikap oposisi terhadap pemerintahan yang ada. Dari sinilah kemudian muncul bahwa agama seolah dan terkesan selalu dikambing hitamkan menjadi penyebab dari gejolak sosial dan ketidak harmonisan yang terjadi, sampai-sampai muncul stigma terhadap kelompok Islam yang kemudian dibenturkan dan distigmatisasi sebagai anti NKRI dan anti Pancasila.

Padahal jika kita runut segala macam aspek munculnya gerakan oposisi terhadap posisi pemerintah, itu bukan hanya soal gerakan ummat Islam semata, tapi juga muncul dari luar kelompok Islam yang merasa terusik rasa keadilan di tengah masyarakat luas pada umumnya, termasuk kalangan sekular dan pegiat HAM. Kita ambil contoh misal kasus gelombang penolakan masyarakat terhadap UU Cipta Kerja, UU KPK, Tes Wawasan Kebangsaan KPK, Penanganan Korupsi Jaksa Pinangki dan Korupsi Bansos Juliari Batubara, serta berbagai macam kebijakan lainnya yang tengah dirasakan merugikan oleh masyarakat, sehingga menghasilkan feedback kepada pemerintah berupa tuntutan dan gerakan oposisi.

Secara teori ilmu politik, sebenarnya rezim harus paham bahwa dalam teori sistem politik yang dicetuskan David Easton, disebutkan bahwa kebijakan yang dilakukan pemerintah pasti akan memunculkan dua reaksi dari rakyat, yakni berupa dukungan atau tuntutan (oposisi), dukungan dari rakyat muncul jika kebijakan pemerintah itu dirasakan manfaat kebaikan serta keadilan di tengah masyarakat, dan sebaliknya sikap tuntutan masyarakat kepada pemerintah itu muncul karena kebijakan pemerintah yang dirasa merugikan atau bahkan tidak adil di tengah masyarakat. Jadi problem gejolak terhadap pemerintah yang terjadi akhir-akhir ini harus dilihat dari aspek kebijakan pemerintah itu sendiri, kenapa gerakan oposisi hingga detik ini terus terjadi kepada pemerintah? , apakah kebijakan yang dilakukan pemerintah itu sudah dirasakan kebaikan dan manfaatnya oleh masyarakat? Atau justru hanya menguntungkan segelintir elit ologarki dan merugikan masyarakat?. Jadi bicara soal gejolak politik dan sosial di negeri kita dalam kaitan instabilitas politik yang terjadi, jangan selalu agama yang dijadikan kambing hitamnya. Sikap aparat dan pejabat negara yang justru selalu memainkan isu agama sebagai sumber instabilitas sosial dan politik, hanya akan semakin memperbutruk citra pemerintahan itu sendiri. Apalagi berupaya membenturkan agama tertentu dengan Keindonesiaan dan Kebangsaan, tentu ini bukanlah sikap yang bijak dalam mengelola negara.

Tidak ada kaitan antara fanatisme agama dengan instabilitas politik yang terjadi. Justru agama-lah salah satu instrumen penguat kehidupan sosial politik dalam suatu bangsa. Jadi apakah fanatisme terhadap satu agama itu memunculkan efek negatif dalam bermasyarakat? Dalam konteks beragama Islam maka Jawabannya tentu tidak sama sekali, justru dengan masyarakat semakin fanatik terhadap Islam, maka akan muncul sikap toleran yang sangat luar biasa yang terjadi di tengah kehidupan sosial beragama kita. Dalam ajaran Islam contohnya, sangat menganjurkan ummatnya agar memiliki fanatisme yang utuh terhadap Islam (lihat Qs. Ali Imron ayat 19 dan ayat 85). Namun di satu sisi Islam sangat toleran terhadap keberadaan agama lain (Lihat Qs. Al-Kafirun), bahkan dalam Islam memiliki prinsip tidak memaksa penganut agama lain untuk masuk agama Islam (Lihat Qs. Al-Baqarah ayat 256), Islam juga melarang umatnya untuk menghina sesembahan-sesembahan orang-orang di luar agama Islam ( lihat Qs. Al-An’am ayat 108). Itu menunjukkan ajaran Agama juga mengatur soal toleransi dan keberagaman masyarakat. Jadi jangan ajari Islam soal bagaimana cara bertoleransi apalagi sampai mencurigai fanatisme beragama khususnya meyakini kebenaran hanya ada pada Islam sebagai sumber instabilitas.

Apakah Semua Agama Benar?

Selanjutnya pejabat negara tersebut menyatakan bahwa “semua agama benar di mata Tuhan”. Ada beberapa hal yang harus kita dudukan dahulu dari pernyataan ini.

1. Apa standar kebenaran yang dipakai pejabat tersebut sehingga mengatakan bahwa semua agama benar? Dalam konsep Islam, terkait masalah keimanan dan pilihan beragama, kebenaran adalah sesuatu yang sudah pasti dan dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, bukan berdasarkan perasaan atau pendapat masing-masing atau menurut adat istiadat tertentu. Salah satu ayat yang coba kita jadikan pedoman dalam soal prinsip kebenaran dalam Islam ini adalah apa yang Allah terangkan dalam Al-quran surat Al-Baqarah ayat 177, di ayat tersebut Allah memberikan batas yang jelas bahwa yang dimaksud kebajikan/ kebenaran itu bukanlah engkau mengarahkan ke timur dan ke barat (mencari pendapat selain ketentuan yang Allah tetapkan) tapi barometer kebenaran itu adalah Iman, iman kepada Allah, malaikat, rasul-rasul dan kitab-kitabnya serta hari akhir, inilah barometer kebenaran yang hakiki dalam Islam, yakni barometer Tauhid. Jadi apakah agama selain Islam itu benar? Tentu dalam Islam harus ditimbang dengan barometer yang telah ditetapkan yakni Tauhid (Iman kepada Allah, malaikat, rasul dan kitab-kitabNya), adakah Tauhid dalam agama selain agama Islam? Jika tidak ada, maka syarat kebenaran ini saja sudah gugur, dan tidak bisa kita sebagai Muslim mengatakan bahwa semua agama benar, karena barometer yang kita pakai jelas menyalahi pedoman hidup kita sendiri yakni Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam.

2. Ungkapan “Semua agama benar di mata Tuhan” Ini maksudnya Tuhan yang mana? Apa barometer nya? Dari mana dia tau bahwa Tuhan menyatakan bahwa semua agama benar? Padahal dalam prinsip aqidah/keimanan ummat Islam sangat jelas bahwa Allah menegaskan satu-satunya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam (Lihat Qs. Ali-Imron ayat 19) bahkan Allah Ta’ala menegaskan bahwa barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam maka ia tertolak (lihat Qs. Ali Imron ayat 85), Di dalam Surat Al-Bayyinah Allah juga menerangkan keadaan orang-orang kafir yang tidak beriman kepada Allah dan kerasulan Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam di akhirat kelak tempatnya adalah neraka jahannam bahkan mereka orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasulullah Muhammad SAW digelari sebagai “Hum Syarrul Bariyyah” ( mereka adalah seburuk-buruk makhluk). Artinya apa? Ungkapan sang pejabat negara yang mengatakan “Semua agama benar di mata Tuhan” Tentu kita bertanya Tuhan siapa yang dimaksud? Dan tahu dari mana dia bahwa Tuhan itu menganggap semua agama benar?, Apakah “Tuhan” memberitahu secara langsung kepada dia?, apakah dia menerima wahyu? Atau cuma asumsi belaka?. Karena faktanya Tuhan / Allah Ta’ala sendiri menyatakan bahwa hanya Islam agama yang benar dan diridhai di sisi Allah, selain Islam adalah agama bathil/salah dan tempatnya di neraka Jahannam.

Wallahu A’lam Bish Showab.

*Ditulis saat perjalanan pulang di KRL CommuterLine Rabu, 15 September 2021

________
Disclaimer: Semua tulisan dan postingan yang ada di akun saya ini adalah murni fikiran dan sikap saya pribadi, tidak ada sangkut pautnya terhadap lembaga yang saya beraktivitas di dalamnya. Barokallahu fiikum

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*