STID Mohammad Natsir kembali menyelenggarakan kegiatan akademik melalui Kuliah Umum bertema “Pentingnya Sinergi dalam Kerja Dakwah” yang berlangsung di Masjid Wadhhah Abdurrahman Al Bahr, Pusdiklat Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, pada Sabtu, 23 Mei 2026.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber utama Tuan Haji Mamat bin Che Chik, seorang tokoh dakwah senior dan akademisi asal Malaysia yang aktif memimpin Pertubuhan Kebajikan Islam Malaysia (PERKIM). Beliau dikenal luas memiliki pengalaman panjang dalam membangun jaringan dakwah lintas negara serta penguatan kerja sama antar lembaga Islam internasional.
Dalam sambutan pembukanya, Wakil Ketua I Bidang Akademik STID Mohammad Natsir, Dr. Imam Al Khattab,M.Pd.I, menegaskan bahwa kuliah umum ini menjadi momentum penting dalam memperkuat jejaring dakwah global dan membangun kolaborasi strategis.

“Pertemuan ini bukan sekadar silaturahim, namun menjadi langkah awal dalam membangun kolaborasi dakwah yang berkelanjutan. Setiap negara memiliki kekhasan dalam berdakwah, namun memiliki visi yang sama dalam menyebarkan nilai-nilai Islam,” ujarnya.
Beliau juga berharap agar kegiatan tersebut mampu membuka peluang kerja sama yang lebih luas dan memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan dakwah umat di masa mendatang.
Dalam pemaparan materinya, Tuan Haji Mamat bin Che Chik menekankan bahwa sinergi merupakan salah satu kunci utama keberhasilan dakwah di era modern. Menurutnya, dakwah tidak dapat berjalan secara individual, melainkan membutuhkan kolaborasi yang terencana antara sumber daya manusia, organisasi, teknologi, serta dukungan finansial yang memadai.

Selain menjelaskan konsep sinergi, beliau juga menguraikan pentingnya strategi dakwah yang terarah dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Dakwah, menurutnya, harus dilakukan secara terencana, berbasis analisis, serta memiliki arah dan tujuan yang jelas agar mampu memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, beliau turut menyoroti karakter yang harus dimiliki seorang dai profesional, di antaranya memiliki pemahaman agama yang kuat, kemampuan komunikasi yang baik, akhlak mulia, kemampuan beradaptasi lintas budaya, serta penguasaan bahasa internasional.
Beliau juga menekankan pentingnya pemanfaatan media digital sebagai sarana dakwah kontemporer. Dai masa kini dituntut untuk melek teknologi, aktif di berbagai platform digital, dan memahami karakter generasi modern agar pesan dakwah dapat diterima secara efektif.
Di samping peluang yang ada, beliau menjelaskan bahwa dakwah saat ini menghadapi berbagai tantangan kompleks, seperti problematika sosial dan mental masyarakat, kecanduan digital, hingga pengaruh ideologi sekularisme, ateisme, dan islamofobia. Oleh karena itu, pendekatan dakwah dinilai harus semakin kolaboratif, strategis, dan adaptif.
Kuliah umum ini juga menegaskan bahwa keberhasilan sinergi dakwah sangat ditentukan oleh niat yang ikhlas, komunikasi yang efektif, kepercayaan antar pihak, kesepakatan kerja sama yang jelas, serta evaluasi yang berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, STID Mohammad Natsir berharap lahir semangat kolaborasi dakwah yang lebih kuat antar lembaga dan generasi dai, sehingga dakwah Islam dapat terus berkembang secara luas serta mampu menjawab tantangan zaman secara bijak dan profesional. (Humas STID Mohammad Natsir)


