Halaman ini disusun sebagai ruang inspirasi bagi seluruh civitas akademika STID Mohammad Natsir untuk menggali hikmah, pemikiran, dan keteladanan para tokoh umat. Semoga kumpulan nasihat dan ungkapan bijak ini menjadi penyemangat dalam meneguhkan komitmen dakwah serta memperdalam nilai-nilai Islami dalam kehidupan sehari-hari.
1. Allahuyarham Mohammad Natsir
Pemimpin Mekar Dalam Tekanan Pikulan Tanggung Jawab
PEMIMPIN MEKAR DALAM TEKANAN PIKULAN TANGGUNG JAWAB
Pemimpin tidak bisa dicetak. Ia tidak timbul dengan sekadar diberi pelajaran. Ia tidak bisa sekadar diangkat dengan surat keputusan dari atasan.
Pemimpin mekar dalam tekanan pikulan tanggung jawab. Pribadi kepemimpinan tumbuh dalam tantangan dan ujian di tengah masyarakat.
Pemimpin tidak gembar-gembor, namun tidak diam. Ia tampil dengan ilmu, daya pikir, daya cepat, iman, dan akhlak mulia.
~Mohammad Natsir
Bahaya Mempertuhankan Hawa Nafsu Dalam Kehidupan
Bahaya Mempertuhankan Hawa Nafsu Dalam Kehidupan
اَفَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰىهُ وَاَضَلَّهُ اللّٰهُ عَلٰى عِلْمٍ
“Sudahkah engkau perhatikan orang yang menjadikan hawa nafsunya menjadi tuhannya, dan Allah biarkan dia sesat, padahal ia mengetahui… (Al Jatssiyah : 23)
Satu kali dorongan nafsu sudah dipertuankan, semboyan yang dipakai bukanlah lagi “makan untuk hidup”, tetapi “hidup untuk makan”, kalau sudah begitu, apakah lagi yang dapat meninggikan derajat manusia dari makhluk binatang yang memang sehingga itulah tujuan hidupnya, yang riwayatnya tamat dengan berakhirnya hidup di atas panggung bumi ini.
(M. Natsir, Fiqhud Da’wah, hal. 18)
Memaknai Penyembahan Kepada Allah Dalam Seluruh Aspek Kehidupan
Memaknai Penyembahan Kepada Allah Dalam Seluruh Aspek Kehidupan
“Menyembah Allah SWT berarti memusatkan penyembahan kepada Allah SWT semata-mata, dengan menjalani dan mengatur segala segi dan aspek kehidupan di dunia ini, lahir dan batin, sesuai dengan kehendak Ilahy; baik sebagai orang perseorangan dalam hubungan dengan Khaliq, ataupun sebagai anggota masyarakat dalam hubungannya dengan sesama manusia.”
(M. Natsir, Fiqhud Da’wah, hal. 26)
Zaman beredar, cara dan teknik bisa berubah dengan perubahan dan waktu.
Zaman beredar, cara dan teknik bisa berubah dengan perubahan dan waktu.
إِنَّ ٱلزَّمَانَ قَدِ ٱسْتَدَارَ
Tetapi prinsipnya tetap. Prinsipnya adalah: Masyarakat Islam adalah masyarakat terbaik; masyarakat di mana da’wah amar ma’ruf dan nahi munkar dapat berkembang dan memperoleh saluran sebagaimana mestinya.
📚Fiqhud Da’wah. M. Natsir, hal: 129
Da'i harus Siap Mental
Da’i harus Siap Mental
Da’i harus siap mental baik ketika menghadapi tantangan maupun ketika menemui kebahagiaan karena keberhasilan mengajak umat kepada hidayatul irsyad maupun hidayatut taufiq. Jika da’i tidak siap mental pada dua keadaan tersebut maka ia akan mengalami putus asa dalam kesulitan maupun takabbur dalam keberhasilan. Putus asa dan takabbur hanya terjadi karena hawa ananiyah atau egocentrisme.
📚 M. Natsir, Fiqhud Da’wah: 137
Kekuatan Da'wah
KEKUATAN DA’WAH
“Dalam berda’wah akan senantiasa berhadapan dengan dua hal yakni; kewajiban da’wah yang harus ditunaikan dan kemerdekaan ber-i’tiqad yang harus dihormati. Maka bukan terletak pada alat-alat pemaksa dan teknik-teknik mempesona seorang muballigh harus mencari kekuatannya.
Kekuatannya terletak semata-mata pada kekuatan da’wahnya. Dan kekuatan da’wah seorang muballigh tergantung kepada kekuatan hujjahnya, yang diterima oleh akal sehat, dan daya panggilnya, yang dapat menjemput jiwa dan rasa. Kedua-duanya bergantung kepada: persiapan memahaminya, persiapan ilmunya serta katijah dan adab da’wahnya.”
📚 M. Natsir, Fiqhud Da’wah, hlm. 130
Yang Dapat Diusahakan Sekarang
“Yang Dapat Diusahakan Sekarang”
Timbul pertanyaan apakah yang dapat diusahakan sekarang ini, untuk mencapai idaman-idaman kesatuan Ummat islam itu?
Kita harus sederhana dalam menentukan apa yang hendak kita capai dalam jangka pendek dan dalam jangka panjang. Kalau kita belum bisa mengerjakan semua, jangan kita tinggalkan semua.
Para pemimpin Islam tua dan muda, harus memulai masing-masing dengan introspeksi, meninjau diri pribadi sendiri, meninjau lubuk hati diri sendiri dengan kejujuran. Masing-masing berusaha memberantas bila bertemu segala bibit tafarruq yakni antara lain penyakit Ananiyah dalam bermacam bentuknya sebagaimana yang diperingatkan dalam Sunnah Rasul: Ibda bi Nafsika!
M. Natsir, Mempersatukan Umat. 15
Tidak ada bangsa terbelakang menjadi maju melainkan?
Tidak ada bangsa terbelakang menjadi maju melainkan?
“Maju atau mundurnya salah satu kaum bergantung sebagian besar kepada pelajaran dan pendidikan yang berlaku dalam kalangan mereka itu.”
Tak ada satu bangsa yang terbelakang menjadi maju, melainkan sesudahnya mengadakan dan memperbaiki didikan anak-anak dan pemuda-pemuda mereka. Bangsa Jepang, satu bangsa Timur yang sekarang jadi buah mulut orang seluruh dunia lantaran majunya, masih akan terus tinggal dalam kegelapan sekiranya mereka tidak mengatur pendidikan bangsa mereka.”
📚Capita Selecat 1. M. Natsir : 79
Tujuan Pendidikan
Tujuan Pendidikan
“Pertanyaan Apakah tujuan yang akan dituju oleh didikan kita? Sebenarnya tidak pula dapat dijawab sebelum menjawab pertanyaan yang lebih tinggi lagi, yaitu: Apakah tujuan hidup kita di dunia ini? Kedua pertanyaan ini tidak dapat dipisahkan, keduanya sama (identik), tujuan didikan ialah tujuan hidup.”
📚Mohammad Natsir, Capita Selecta, Jakarta: Bulan Bintang, 1973, Cet. Ke-3
Da'wah Merangkul : Menyatuhkan Umat, Bukan Memisahkan
Da’wah Merangkul : Menyatuhkan Umat, Bukan Memisahkan
Dikotomi itu merupakan tantangan bagi yang santri untuk merelakan teman-teman kita yang abangan, dan bukan menjauhkan atau memusuhi. Jangan mereka dijauhi atau disudutkan, sesat, atau bahkan musuh. Itu menyakitkan, karena pada dasarnya mereka adalah muslim, dan tiap muslim adalah saudara. Itu mengembangkan pendekatan integrasionis bukan pendekatan yang antagonis.
Da’i yang unggul tidak menciptakan banyak musuh, melainkan mencari teman sebanyak mungkin.
📚 Perbincangan Antar Generasi. M.Natsir :132-133
Ketika Kebenaran Di Bungkam
Ketika Kebenaran Di Bungkam
Dan bagaimana pula satu masyarakat, akan selamat, bila para anggotanya sama-sama bungkem, bersikap masa bodoh, bila melihat sesama anggota masyarakat melakukan kemungkaran! Juga tiap-tiap bibit kemungkaran mempunyai daya geraknya sendiri. Di waktu masih kecil dia ibarat sebutir bara yang tidak sukar mematikannya. Akan tetapi bila dibiarkan besar, dia membakar apa yang ada di sekelilingnya, payah akan memadamkannya.
📚 Fiqhud Da’wah. M.Natsir : 122
Menghidupkan Risalah Dengan Akhlak
Menghidupkan Risalah Dengan Akhlak
Rasulullah s.a.w. sendiri pernah menyimpulkan tujuan da’wah itu:
“Sesungguhnya aku tidak diutus melainkan untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia.”
Risalah keseluruhannya ditujukan kepada penyempurnaan akhlaq yang mulia. Bagaimana akan melanjutkan Risalah itu dengan da’wah tanpa akhlaq pada sisi orang yang membawakan da’wah itu?
Akhlaqul karimah adalah tiang tengahnya da’wah! Tidaklah pula suatu masyarakat itu menuntut supaya muballigh-nya harus seperti seorang malaikat. Mereka pun maklum, bahwa muballigh mereka bukan seorang Nabi, yang ma‘ṣūm.
📚 Fiqhud Da’wah. M.Natsir : 289

