Jakarta — Ketua Umum AQL Islamic Center, Ustadz K.H. Bachtiar Nasir, Lc., M.M., memberikan tausiah kepada para da’i yang akan menjalankan tugas pengabdian dalam rangkaian Tasyakur 55 Tahun Dakwah Pedalaman dan Pelepasan Da’i Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia.
Dalam pesannya, Ustadz Bachtiar Nasir mengajak para da’i untuk memandang tugas dakwah bukan sekadar sebagai profesi, tetapi sebagai jalan perjuangan yang membutuhkan kesiapan untuk menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan.
Ia mengawali tausiah dengan menyampaikan kedekatannya dengan Dewan Dakwah. Menurutnya, berada di lingkungan Dewan Dakwah merupakan sebuah bentuk kembali kepada “rumah” perjuangan dakwah.
“Ke Dewan Dakwah ini sebetulnya kalau kita kembali ke rumah kita yang sesungguhnya.”
Da’i sebagai Investasi bagi Bangsa
Ustadz Bachtiar Nasir juga mengajak masyarakat untuk memberikan dukungan terhadap program dakwah pedalaman yang dijalankan Dewan Dakwah. Menurutnya, keberadaan para da’i di berbagai daerah memiliki peran penting, bukan hanya dalam pembinaan keagamaan, tetapi juga dalam menjaga kehidupan masyarakat dan keutuhan bangsa.
Ia menyebut dukungan terhadap para da’i sebagai salah satu bentuk investasi besar bagi Indonesia.
“Kalau Anda cinta pada Indonesia dan menginginkan Indonesia terus pada kedaulatannya secara pangan juga secara wilayah di perbatasan, maka dukunglah para da’i-da’i Dewan Dakwah ini.”
Menurutnya, para da’i yang dikirim ke berbagai daerah bukanlah generasi yang dipersiapkan untuk mengejar popularitas ataupun kenyamanan dunia. Mereka merupakan generasi muda yang dipersiapkan untuk hadir dan berkontribusi di tengah masyarakat.
Ia menyebut para da’i tersebut sebagai “tunas-tunas bangsa” yang memiliki peran penting dalam melanjutkan perjuangan dakwah di Indonesia.

“Saya Pernah Seperti Kalian”
Kepada para da’i yang akan berangkat, Ustadz Bachtiar Nasir juga membagikan pengalaman pribadinya ketika menjalani masa awal pengabdian.
Ia mengisahkan bahwa dirinya pernah berada dalam kondisi serba terbatas ketika pertama kali terjun ke lapangan. Bahkan, untuk melaksanakan shalat, ia harus mencari tempat yang cukup layak di tengah kondisi masjid yang masih sederhana.
Pengalaman tersebut, menurutnya, justru menjadi bagian penting dalam proses pembentukan karakter.
“Saya pernah seperti kalian,” ujarnya.
Ia mengajak para da’i untuk tidak melihat keterbatasan sebagai sesuatu yang harus ditakuti. Sebaliknya, masa-masa sulit dalam pengabdian hendaknya dinikmati sebagai proses untuk membentuk pribadi yang lebih kuat.
“Nikmati perjalanan ini. Inilah permulaan kalian menjadi pribadi-pribadi yang tangguh ke depan.”
“Pilih Kesulitanmu”
Salah satu pesan utama yang disampaikan Ustadz Bachtiar Nasir kepada para da’i adalah keberanian untuk memilih medan yang tidak mudah.
Ia mendorong para kader agar tidak selalu mencari tempat yang nyaman dalam menjalankan dakwah. Justru, daerah-daerah yang jauh dan penuh tantangan dapat menjadi ruang terbaik untuk menempa diri.
“Ambil wilayah paling jauh. Pilih kesulitanmu. Mendakilah. Memang lelah, tapi kamu pasti sampai ke puncak.”
Menurutnya, semakin seseorang berani menghadapi kesulitan dalam perjuangan, semakin banyak pelajaran dan kemudahan yang akan diperoleh.
Ia juga mengingatkan agar ketika menghadapi kesulitan, seorang da’i tidak hanya berfokus pada beratnya ujian. Setiap kesulitan, selalu disertai dengan kemudahan yang telah Allah siapkan.
Pesan tersebut menjadi bekal penting bagi para da’i yang akan meninggalkan kenyamanan kampus dan memasuki medan pengabdian di berbagai daerah.

Belajar dari Perjalanan Nabi Ibrahim
Dalam tausiah tersebut, Ustadz Bachtiar Nasir mengaitkan perjalanan dakwah dengan kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Menurutnya, perjalanan dakwah memang tidak selalu ditempuh melalui jalan yang mudah.
Ujian dan kesulitan merupakan bagian dari perjalanan seorang pejuang dakwah. Karena itu, para da’i diminta untuk memiliki keteguhan hati dalam menjalankan amanah.
Ia juga mengingatkan para kader agar menyadari bahwa keberadaan mereka sebagai da’i merupakan bagian dari doa dan harapan orang tua.
“Barangkali kamu adalah buah dari doa ibumu, buah dari doa bapakmu,” tuturnya.
Karena itu, perjalanan pengabdian hendaknya dijalani dengan sungguh-sungguh dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan.
Berdakwah Sampai Akhir Hayat
Menutup tausyiahnya, Ustadz Bachtiar Nasir mengajak para da’i untuk memilih jalan dakwah sebagai jalan perjuangan sepanjang hayat.
Menurutnya, dakwah bukan sekadar tahapan karier yang dijalani dalam waktu tertentu. Dakwah adalah jalan pengabdian yang terus dilanjutkan selama kehidupan.
“Tidak ada karier sehebat jalan dakwah ini. Berdakwahlah sampai mati.”
Pesan tersebut menjadi penguatan bagi para da’i yang akan diberangkatkan ke berbagai wilayah pengabdian. Di hadapan para kader muda, Ustadz Bachtiar Nasir menegaskan bahwa medan dakwah yang penuh tantangan justru dapat menjadi tempat lahirnya pribadi-pribadi tangguh.


