Jakarta — Para da’i dan da’iyah yang dilepas dalam rangkaian Tasyakur 55 Tahun Dakwah Pedalaman dan Pelepasan Da’i Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia merupakan kader yang telah melalui proses pendidikan dan pembinaan intensif di Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah (STID) Mohammad Natsir.
Ketua STID Mohammad Natsir, Dr. Dwi Budiman Assiroji, M.Pd.I., menjelaskan bahwa para da’i yang dilepas telah mengikuti pendidikan selama empat tahun dengan sistem kaderisasi yang dirancang untuk membentuk kesiapan mereka sebelum terjun ke tengah masyarakat.
“Para da’i yang hari ini akan kita kirim ke seluruh penjuru negeri adalah para alumni Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Mohammad Natsir yang sudah mengikuti pendidikan selama empat tahun,” .
Menurutnya, kesiapan untuk menjalani proses kaderisasi dan ditugaskan ke berbagai daerah menjadi salah satu syarat utama bagi calon mahasiswa STID Mohammad Natsir. Sejak awal, mahasiswa telah diarahkan untuk memiliki kesiapan mental dan komitmen pengabdian.

Dua Tahun Pertama Ditempa di Asrama
Proses kaderisasi dimulai dengan dua tahun pertama pembinaan intensif di asrama. Selama masa tersebut, mahasiswa menjalani kehidupan yang teratur dengan berbagai program pembinaan untuk membentuk karakter dan kesiapan sebagai kader da’i.
“Dua tahun pertama itu tinggal di asrama, tidak boleh pegang handphone, hanya waktu-waktu tertentu saja. Kemudian diberikan bimbingan dan pengkaderan yang intensif sehingga mereka siap menjadi seorang kader da’i,”.
Pola pembinaan tersebut dirancang agar mahasiswa tidak hanya mendapatkan bekal keilmuan, tetapi juga terbiasa menjalani kehidupan disiplin, mandiri, dan memiliki kedekatan yang kuat dengan lingkungan pembinaan.
Dua Tahun Berikutnya Hidup Bersama Masyarakat Masjid
Setelah menyelesaikan dua tahun pertama di asrama, mahasiswa memasuki tahap kaderisasi berikutnya dengan tinggal di masjid-masjid yang telah bekerja sama dengan STID Mohammad Natsir.
Saat ini terdapat sekitar 120 masjid yang menjadi mitra STID Mohammad Natsir dalam program tersebut. Para mahasiswa tinggal di masjid, sementara kegiatan perkuliahan tetap berlangsung di kampus.
“Pagi ke kampus, nanti sore atau siang kembali ke masjidnya lagi. Terus begitu, karena kami ingin mereka menjadikan masjid ini sebagai pusat dakwahnya di mana pun nanti mereka berada,” jelasnya.
Menurut Dr. Dwi, pola tersebut menjadi bagian penting dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi medan dakwah. Dengan terbiasa hidup di masjid, para kader diharapkan tidak merasa asing ketika nantinya ditempatkan di daerah yang memiliki keterbatasan fasilitas.
“Bagi da’i kami, dikirimkan ke mana pun tempat tinggal tidak jadi masalah. Asalkan ada mes dan ada masjid, itu sudah aman,” ujarnya.

Kafilah Dakwah Menjadi Laboratorium Pengabdian
Selain pendidikan dan kehidupan berbasis masjid, mahasiswa STID Mohammad Natsir juga mendapatkan pengalaman langsung melalui program Kafilah Dakwah.
Program tersebut merupakan pengiriman mahasiswa untuk berdakwah selama satu bulan penuh pada bulan Ramadan. Menurut Dr. Dwi, kegiatan ini menjadi sarana latihan bagi mahasiswa untuk mengenal karakter masyarakat dan medan dakwah yang beragam.
Program Kafilah Dakwah umumnya dilaksanakan ketika mahasiswa memasuki semester keenam. Melalui program tersebut, mahasiswa mendapatkan pengalaman langsung dalam berinteraksi dan membina masyarakat di berbagai daerah.
Pada Ramadan sebelumnya, mahasiswa STID Mohammad Natsir juga telah dikirim ke berbagai wilayah, termasuk Timor-Leste. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses kaderisasi sebelum mereka memasuki tahap pengabdian yang lebih luas.

Dari Kaderisasi Menuju Pengabdian
Setelah melalui rangkaian pendidikan, pembinaan asrama, kehidupan berbasis masjid, serta pengalaman Kafilah Dakwah, para mahasiswa kemudian memasuki tahap pengabdian berbasis masyarakat.
Tahap tersebut menjadi bagian dari proses kaderisasi yang mempersiapkan alumni untuk benar-benar hadir di tengah masyarakat, khususnya di wilayah yang membutuhkan pendampingan dakwah.
“Jadi mereka akan mengikuti program yang ketiga hari ini, yakni program pembinaan berbasis masyarakat di daerah pedalaman,”.
Rangkaian kaderisasi tersebut menunjukkan bahwa pengabdian para alumni STID Mohammad Natsir tidak dimulai ketika mereka dilepas menuju daerah penugasan. Proses tersebut telah dipersiapkan sejak mereka menjadi mahasiswa melalui pendidikan, pembinaan karakter, kehidupan di masjid, hingga pengalaman berdakwah secara langsung.
Melalui proses tersebut, STID Mohammad Natsir berupaya melahirkan kader da’i yang tidak hanya memiliki bekal keilmuan, tetapi juga siap hidup bersama masyarakat, beradaptasi dengan berbagai kondisi, dan menjalankan amanah dakwah di berbagai pelosok negeri.
Dari empat tahun kaderisasi, menuju medan pengabdian. Dari masjid, belajar membina umat; dari pedalaman, melanjutkan estafet dakwah.


