Sejarah Masjid Al-Furqaan: Dari Tanah Wakaf Masyumi hingga Menara Dakwah

Jakarta Pusat (16/9/2025) – Dalam rangkaian kegiatan Pesantren Mahasiswa Masjid Al-Furqaan, para mahasiswa STID Mohammad Natsir berkesempatan mendengarkan pemaparan langsung dari Wakil Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Dr. Imam Zamroji, mengenai sejarah berdirinya Masjid Al-Furqaan – masjid yang menjadi cikal bakal lahirnya Yayasan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia.

Kegiatan diawali dengan tausiah pembuka oleh Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin, M.Sc., selaku Pembina DDII. Seusai tausiah, Dr. Imam Zamroji memaparkan kisah awal berdirinya Masjid Al-Furqaan yang kini berdampingan dengan Gedung Menara Dakwah, kantor pusat DDII.

Dalam penyampaiannya, Dr. Imam Zamroji menjelaskan:

“Tanah wakaf yang kini berdiri Masjid Al-Furqaan dan Menara Dakwah awalnya adalah tanah wakaf milik Partai Masyumi pada masa Orde Lama. Ketika Partai Masyumi dibubarkan oleh Presiden Soekarno, tanah wakaf seluas 4.000 m² tersebut terancam disita negara. Atas usulan KH. Taufiqurrahman, seorang ulama sekaligus guru Mohammad Natsir, didirikanlah masjid di atas tanah tersebut dan warga sekitar diarahkan untuk menghidupkan shalat berjamaah di sana. Kehadiran masjid membuat pemerintah berpikir ulang untuk menyita tanah itu karena harus berhadapan langsung dengan masyarakat. Alhamdulillah, tanah tersebut akhirnya selamat hingga berakhirnya masa pemerintahan Soekarno. Setelah situasi politik kondusif, tanah tersebut diserahkan kepada Yayasan Pembina Umat (YPU) dan kemudian dialihkan ke Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia.”

Sejak saat itu, Gedung Menara Dakwah dan Masjid Al-Furqaan menjadi pusat kegiatan dakwah kaum Muslimin. Berbagai diskusi keilmuan, agenda pergerakan umat, hingga pertemuan organisasi besar seperti HMI, Muhammadiyah, dan NU pernah diselenggarakan di tempat ini.

Pemaparan sejarah ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat juang para kader da’i mahasiswa STID Mohammad Natsir, khususnya mereka yang kini menempuh studi di Gedung Menara Dakwah, Jalan Kramat Raya 45. Dengan memahami sejarahnya, para mahasiswa diharapkan semakin kokoh dalam mengemban amanah dakwah di tengah umat.

(Hafizh Amir Naufal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *