Bekasi, 19 Juli 2025 – Dalam momentum bersejarah Wisuda XV Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah (STID) Mohammad Natsir, Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Dr. KH. Romo H.R. Muhammad Syafi’i, SH,. M.Hum,, hadir memberikan orasi ilmiah yang menggugah dan sarat makna kebangsaan. Di hadapan ratusan hadirin, beliau menyampaikan pesan kuat tentang pentingnya peran dakwah dalam membangun bangsa, menjaga persatuan, dan merawat nilai-nilai spiritual di tengah tantangan zaman.
“Pembangunan tidak akan berhasil tanpa pondasi spiritual yang kokoh. Dakwah adalah pekerjaan besar yang sangat menentukan masa depan Indonesia,” ujar Wamenag di awal pidatonya.

Dakwah Bukan Sekadar Ceramah
Membedakan antara pendakwah dan penceramah, Wamenag menjelaskan bahwa dai adalah sosok yang terpilih, dengan kualifikasi khusus yang tidak dimiliki semua orang. Ia mengutip firman Allah dalam QS. Ali Imran:104, bahwa dari umat ini harus muncul kelompok yang menyeru kepada kebaikan.
“Mubaligh bisa siapa saja. Tapi pendakwah adalah mereka yang dipilih Allah untuk tugas mulia, bukan sekadar menyampaikan, tapi membangun peradaban,” tegasnya.
Ancaman Perpecahan dan Peran Strategis Dai
Lebih jauh, beliau menyoroti bahaya politik pecah belah (devide et impera) yang terus mengancam Indonesia, khususnya lewat isu agama.
“Isu agama adalah alat paling efektif untuk memecah belah bangsa. Di sinilah pentingnya dai—bukan hanya sebagai penyampai pesan agama, tapi sebagai penjaga harmoni kebangsaan,”.
Beliau juga menyinggung berbagai tantangan global dan kepentingan geopolitik yang menuntut Indonesia untuk mandiri dan kuat dari dalam, salah satunya melalui ketahanan pangan, pendidikan, dan spiritualitas umat.

Komitmen untuk STID Mohammad Natsir
Sebagai bentuk dukungan penuh terhadap STID Mohammad Natsir, Wamenag menyatakan kesiapan membuka pintu lebar-lebar untuk kolaborasi dan pengembangan kampus dakwah ini.
“Saya sampaikan di sini, di wilayah kerja saya, jadikan saya pesuruh STID Mohammad Natsir. Apa yang menjadi kebutuhan STID yang bisa difasilitasi oleh Kemenag, insyaAllah kami bantu,” ujarnya disambut takbir para hadirin.
Penutup Penuh Haru dan Semangat
Di akhir orasi, Wamenag membagikan kisah pribadi sebagai pendidik Al-Qur’an sejak muda, perjuangan mendidik generasi tanpa pamrih, hingga kenangan keluarga yang menyentuh. Ia menutup dengan ajakan penuh semangat kepada para wisudawan:
“Teruslah berdakwah. Jangan silau oleh dunia. Wabtaghi fima atakallahu daral akhirah. Jadikan dakwahmu sebagai jembatan menuju surga,”.

Sambutan yang Meninggalkan Jejak
Sambutan Wakil Menteri Agama Republik Indonesia tidak hanya menjadi pidato biasa, melainkan manifestasi semangat dakwah kontekstual yang menjembatani antara nilai-nilai Islam dan tantangan kebangsaan. STID Mohammad Natsir berbangga menjadi bagian dari perjuangan mencetak kader-kader dakwah untuk negeri. (HUMAS STID Mohammad Natsir)


