Bekasi, Rabu, 21 Oktober 2026 Kelas Kepakaran Kristologi Putri STID Mohammad Natsir telah melaksanakan Studi Pengayaan Lapangan ke – 4 di Komisi Nasional Anti Pemurtadan (KNAP). Kegiatan ini menjadi salah satu ikhtiar untuk memperluas wawasan mahasiswi, memperdalam pemahaman tentang persoalan akidah, sekaligus mengenal lebih dekat dinamika dakwah di lapangan.
Sebanyak 11 mahasiswi yang dibersamai oleh Koordinator Kelas Kepakaran Kristologi Putri Ustadzah Dian Kurniaty, S.Sos dari STID Mohammad Natsir hadir dalam kegiatan tersebut. Sementara itu, KNAP diwakili oleh empat orang, yakni Ustadz Abu Al-Izz, Lc., M.A. selaku Sekretaris Jenderal, Ustadz Nanang, Dr. Yudi Kristanto, M.Pd., dan Ustadz Ir. Catur Abdul Aziz yang bertugas sebagai moderator. Turut hadir pula Ustadzah Nevy Amaliyah Nanlohy, S.Th, S.Sos dosen Kelas Kepakaran Kristologi Putri sekaligus bagian dari Bidang Muslimah Benteng Akidah KNAP.

Kegiatan dimulai pukul 13.15 WIB dengan pembukaan dan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh salah seorang perwakilan mahasiswi, Ukhti Hasanah Zuhri Tanjung. Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Koordinator Kelas Kepakaran Kristologi Putri.
Dalam sambutannya, beliau memperkenalkan secara singkat Kelas Kepakaran Kristologi Putri serta menjelaskan tujuan kunjungan ke KNAP. Menurutnya, pengayaan lapangan merupakan bagian dari ikhtiar untuk menguatkan kapasitas keilmuan kader dengan mempertemukan mereka secara langsung dengan para pelaku dakwah. Melalui kegiatan ini, mahasiswi diharapkan tidak hanya memahami persoalan melalui teori yang dipelajari di kelas, tetapi juga mampu melihat realitas dakwah secara langsung, memahami tantangan yang dihadapi, dan belajar dari pengalaman para praktisi di lapangan.
Sesi materi pertama disampaikan oleh Ustadz Abu Al-Izz, Lc., M.A. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan latar belakang berdirinya KNAP yang berangkat dari kekhawatiran sejumlah lembaga terhadap berbagai upaya yang dinilai dapat melemahkan akidah umat Islam, termasuk gerakan kristenisasi dan pemurtadan di Indonesia. Beliau juga menjelaskan bahwa KNAP berada di bawah Yayasan Ahlu Sunnah wal Jamaah. Dalam pemaparannya, beliau menyampaikan pernyataan, “Tidak ada seorang Kristen yang memiliki kedudukan yang tidak memiliki misi.” Pernyataan tersebut menjadi pengingat bagi peserta tentang pentingnya memahami gerakan keagamaan dan tantangan dakwah secara kritis, disertai penguatan ilmu serta keteguhan akidah.
Materi berikutnya disampaikan oleh Dr. Yudi Kristanto, M.Pd., yang menguraikan tujuh langkah dalam menghadapi persoalan pemurtadan. Ketujuh langkah tersebut meliputi penguatan akidah umat, pembangunan kerja sama dan kemitraan, pemahaman terhadap aturan yang berlaku, penguatan ekonomi, pendekatan vertikal, pendekatan humanis, serta penguatan literasi digital.
Ustadz Nanang turut menjelaskan sejumlah modus kristenisasi yang menurut pemaparannya ditemukan di Indonesia. Beberapa hal yang dibahas antara lain pendekatan melalui hiburan, penggunaan figur atau tokoh yang berpindah agama, rekayasa aliran keagamaan, hubungan asmara lintas agama, hingga pembangunan gereja yang dinilai tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Pembahasan ini mengajak para mahasiswi untuk lebih mengenali persoalan yang berkembang di masyarakat. Namun, pengenalan terhadap berbagai tantangan tersebut juga perlu disertai kemampuan memeriksa informasi, memahami konteks, dan membedakan fakta dari dugaan agar langkah dakwah yang diambil tetap tepat sasaran.
Persoalan kerentanan akidah, khususnya di kalangan perempuan dan orang tua, menjadi perhatian dalam materi yang disampaikan Ustadzah Nevy Amaliyah Nanlohy selaku bagian dari Bidang Muslimah Benteng Akidah KNAP.
Dalam pemaparannya, beliau mengangkat sejumlah kasus yang berkaitan dengan kehidupan perempuan, di antaranya hubungan asmara lintas agama dan kehamilan yang tidak direncanakan. Kasus-kasus tersebut memperlihatkan bahwa persoalan akidah tidak selalu berdiri sendiri, tetapi dapat berkaitan erat dengan relasi personal, kondisi keluarga, lingkungan sosial, dan persoalan kehidupan lainnya.

Karena itu, beliau menekankan pentingnya melakukan analisis menggunakan pendekatan 5W+1H sebelum menentukan langkah penanganan. Dengan memahami apa yang terjadi, siapa yang terlibat, kapan dan di mana peristiwa berlangsung, mengapa hal itu terjadi, serta bagaimana prosesnya, solusi yang dirumuskan diharapkan lebih sesuai dengan data dan fakta.
Antusiasme mahasiswi terlihat sepanjang penyampaian materi, terutama saat sesi tanya jawab. Beragam persoalan yang dibahas membuka ruang bagi peserta untuk memperdalam pemahaman dan menghubungkan teori yang dipelajari dengan tantangan dakwah di lapangan. Namun, karena keterbatasan waktu, kesempatan bertanya hanya diberikan kepada tiga orang peserta. Kegiatan berakhir pada pukul 17.50 WIB. Acara ditutup dengan penyerahan cenderamata dari STID Mohammad Natsir yang di serahkan oleh Koordinator Kelas Kepakaran Kristologi Putri Ustadzah Dian Kurniaty, S. Sos. kepada KNAP, kemudian dilanjutkan dengan sesi foto bersama.
Studi Pengayaan Lapangan keempat ini menjadi bagian dari proses belajar para mahasiswi Kelas Kepakaran Kristologi Akhwat STID Mohammad Natsir untuk memperluas wawasan dan menguatkan kesiapan dalam berdakwah. Sebab, memahami persoalan umat tidak cukup hanya dengan membaca teori atau menguasai dalil. Dibutuhkan pula keberanian untuk turun langsung, ketelitian dalam membaca keadaan, dan kepedulian untuk memahami persoalan manusia secara utuh.
Yasma/KelasKristologi

