Bekasi — Yayasan Mimbar Al-Tauhid melaksanakan kunjungan audiensi dan silaturahmi ke STID Mohammad Natsir pada Senin, 13 April 2026. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Rapat Lantai 2 Kampus STID Mohammad Natsir dan dipandu oleh Ketua Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Dr. Madeni, M.Pd.I.
Audiensi ini menjadi bagian dari upaya mempererat hubungan antar lembaga serta membuka peluang kolaborasi dalam penguatan program dakwah, khususnya di wilayah pelosok Indonesia.
Dalam sambutannya, Ketua STID Mohammad Natsir, Dr. Dwi Budiman Assiroji, M.Pd.I, menegaskan komitmen kampus dalam mencetak kader da’i yang siap terjun ke medan dakwah.
“Sejak awal, kampus ini memang didirikan untuk fokus pada kaderisasi da’i. Karena itu, sistem pendidikan kami dirancang berbasis tahapan—mulai dari pembinaan di asrama, pengabdian di masjid, hingga penugasan langsung ke masyarakat di pelosok.”

Ia juga menjelaskan bahwa mahasiswa tidak hanya dibekali teori, tetapi langsung dilibatkan dalam aktivitas dakwah di tengah masyarakat.
“Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga diwajibkan terjun langsung. Mereka tinggal di masjid, berinteraksi dengan masyarakat, menjadi imam, khatib, hingga menghidupkan kegiatan keumatan.”
Lebih lanjut, ia menyoroti besarnya kebutuhan da’i di berbagai daerah di Indonesia.
“Kebutuhan da’i di pelosok sangat besar. Banyak wilayah yang masih kekurangan pembinaan, bahkan ada daerah yang dalam satu kecamatan hampir tidak ada da’i yang menetap.”

Menutup sambutannya, beliau menegaskan arah dan visi kampus ke depan.
“Kami ingin tetap fokus sebagai kampus dakwah. Tidak sekadar berkembang menjadi universitas, tetapi benar-benar melahirkan kader yang siap terjun dan mengabdi di lapangan.”
Sementara itu, perwakilan Yayasan Mimbar Al-Tauhid, Ustadz Nasrin, S.Pd, menyampaikan bahwa kunjungan ini merupakan langkah awal untuk membangun sinergi yang lebih kuat.
“Kunjungan ini bertujuan untuk mempererat hubungan kelembagaan sekaligus membuka peluang kerja sama dalam penguatan program dakwah, khususnya di wilayah pelosok.”

Ia juga menilai STID Mohammad Natsir sebagai institusi yang memiliki konsistensi dalam kaderisasi dan pengiriman da’i.
“Kami melihat STID Mohammad Natsir sebagai institusi yang konsisten dalam mencetak dan mengirim da’i ke berbagai daerah, bahkan hingga penugasan jangka panjang.”
Ke depan, pihaknya berharap adanya kolaborasi konkret yang dapat menjawab kebutuhan dakwah di lapangan.
“Ke depan, kami berharap bisa berkolaborasi, baik dalam dukungan program maupun distribusi da’i, agar kebutuhan dakwah di lapangan bisa lebih terjangkau dan terarah.”
Audiensi berlangsung dalam suasana hangat dan penuh semangat kebersamaan. Diskusi yang terbangun mencerminkan kesamaan visi kedua lembaga dalam memperkuat dakwah Islam, khususnya di daerah-daerah yang masih membutuhkan perhatian lebih.
Diharapkan, pertemuan ini menjadi langkah awal dari kerja sama strategis yang berkelanjutan dalam mendukung penguatan kaderisasi da’i dan perluasan jangkauan dakwah di seluruh Indonesia.(Humas STID Mohammad Natsir)


