JAKARTA – Sebagai langkah strategis mempersiapkan pembekalan keterampilan (skill) lapangan bagi para mahasiswi yang akan diterjunkan dalam program Kafilah Da’wah—yang merupakan program pengabdian masyarakat setara dengan Kuliah Kerja Nyata (KKN)—Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STID Mohammad Natsir sukses menyelenggarakan agenda Dauroh dan Pelatihan Ruqyah Syar’iyyah. Pelaksanaan operasional dan lapangan program ini didukung penuh secara sinergis oleh Biro Kemahasiswaan.
Kegiatan ini berpusat di Aula Sakinah Muslimat Center, Cipayung, Jakarta Timur, dan berlangsung intensif dalam tiga pertemuan (29 Maret, 2 Mei, dan 4 Mei 2026). Diikuti oleh 71 mahasiswi semester IV dari Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) serta Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), pelatihan ini menghadirkan Ustadz Sudarmoko Suroso, Lc., dosen pakar STID Mohammad Natsir, sebagai pemateri utama.
Empat Tahapan Utama Pembekalan Skill Ruqyah
- Asesmen Awal (pre-test): Digunakan untuk mengukur tingkat pengetahuan dasar peserta mengenai konsep, hukum, dan praktik ruqyah secara objektif sebelum pematerian dimulai.
- Teori Dasar dan Regulasi Syariat: Mengupas tuntas pemahaman komprehensif mulai dari definisi, syarat-syarat mutlak ruqyah syar’iyyah, hukum meminta ruqyah, hingga tata cara baku yang selaras dengan tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
- Manajemen dan Diagnosis Pasien: Pendalaman aspek klinis-spiritual yang mengajarkan metodologi diagnosis, analisis respons atau reaksi pasien selama proses ruqyah, serta identifikasi indikasi gangguan spiritual atau psikologis di lapangan.
- Simulasi dan Praktik Mandiri: Sesi krusial saat mahasiswi melakukan simulasi tata cara meruqyah secara langsung guna mematangkan kesiapan mental, teknis, dan rasa percaya diri sebelum terjun ke masyarakat.
Evaluasi Akhir dan Sertifikasi Kualifikasi
Pada akhir rangkaian program, seluruh peserta wajib menempuh ujian evaluasi formal. Langkah ini diambil sebagai parameter valid untuk mengukur tingkat penyerapan ilmu sekaligus membandingkan grafik peningkatan kompetensi dari hasil pre-test sebelumnya. Sebagai bentuk standardisasi keahlian, mahasiswi yang dinyatakan memenuhi syarat dan ketentuan berhak mendapatkan sertifikat resmi dari lembaga.
| Antusiasme tinggi dan kelancaran agenda ini mencerminkan komitmen kuat STID Mohammad Natsir. Melalui sinergi LPPM dan Biro Kemahasiswaan, institusi terus berfokus melahirkan kader da’wah yang tidak hanya matang secara akademis-spiritual, tetapi juga responsif, adaptif, serta dibekali keterampilan taktis yang siap menjawab tantangan riil di tengah-tengah umat. |
Editor/Penulis: Biro Kemahasiswaan & LPPM STID Mohammad Natsir

