Dari kisah tutur seorang muallaf, kami belajar bahwa mempertahankan iman terkadang membutuhkan air mata, keberanian, bahkan perjuangan berdarah-darah.
Atas izin Allah, benjolan ini tidak jadi dioperasi.
_”Ibu sangat bersyukur. Di satu sisi dokter memvonis Ibu harus dioperasi, namun di sisi yang lain, untuk makan esok hari pun kami harus meminjam uang,”_ tutur Ibu Evan dengan suara gemetar dan tangis yang ditahan.
Pagi itu, sebagai rombongan Program Safari Ilmu Yayasan Isa Bin Maryam (YIBM) bersama Kelas Kepakaran Kristologi Mahasiswi STID Mohammad Natsir, kami duduk bersama Ibu Evan dan sang suami, Bapak Iwan, di Masjid Ar-Rohman. Masjid ini berada di kompleks Ruhamah (Rumah Singgah Muallaf), Jalan Kalaparea RT 03 RW 02, Desa Cikembar, Kabupaten Sukabumi.
Diiringi hembusan angin pagi, Ibu Evan menceritakan kisah perjuangan kemuallafannya kepada kami. Kami datang bukan sekadar untuk bersilaturahmi melalui rangkaian Safari Ilmu, tetapi juga untuk belajar dari ruang nyata kehidupan—dari mereka yang pernah berada di persimpangan iman, kehilangan kenyamanan dunia, namun memilih tetap menggenggam Islam.
Dengan tatapan mata yang menyimpan jejak luka, beliau mulai mengisahkan perjalanan hidupnya.
Tahun 2009 menjadi langkah besar perubahan dalam hidupnya. Saat syahadat dilafadzkan sebagai ungkapan iman, sejak saat itu gelar sebagai seorang muslimah beliau emban.
Sebelumnya, beliau merupakan jemaat setia Gereja Kristen Pasundan (GKP). Namun setelah masuk Islam, tidak disangka, jalan perjuangan itu ternyata begitu sulit.
Beliau dan sang suami harus angkat kaki dari tanah milik gereja yang telah bertahun-tahun menopang hidup mereka. Pergi menjadi satu-satunya jalan untuk menjaga benteng keimanan.
Cemoohan dan desakan yang menyakitkan, bahkan dari sanak keluarga sendiri, kerap menerpa mereka.
_”Ah, kamu Muslim juga ujung-ujungnya minta makan sama saya!”_
Tekanan mental yang meluluhkan jiwa itu kian menghimpit. Belum lagi rasa cemas dan sengsara ketika harus bertahan di tengah lingkungan keluarga non-Muslim dan berhadapan dengan makanan yang tidak lagi sesuai dengan keyakinan mereka.
Namun, kepedihan justru melahirkan kepedulian.
Pada tahun 2012, Ibu Evan mulai bergerak mendata para muallaf yang berada di Desa Cikembar. Beliau menemukan fakta bahwa dari 53 KK muallaf, sebagian besar tinggal di tanah gereja dan memiliki nasib yang serupa.
Beliau kemudian mengajukan kepada BAZNAS setempat agar tanah milik Bapak Ishak Zakariya dapat dibeli. Di atas tanah itulah akhirnya dibangun 12 rumah singgah sederhana bagi para muallaf.
Empat KK yang sebelumnya terusir dari tanah gereja akhirnya memiliki tempat untuk berteduh. Salah satunya adalah Ibu Evan dan suaminya.
Kini, sekitar 30 muallaf masih bertahan dan aktif mengikuti kajian serta berbagai kegiatan di sana. Sebagian lainnya telah memiliki tempat tinggal baru.
Namun ketika tempat bernaung baru saja didapat dan kebahagiaan mulai kembali menembus jiwa, ujian dari Allah kembali datang.
Ibu Evan diuji dengan benjolan di kakinya. Rasa sakit dan pembengkakan membuatnya harus menjalani operasi.
Di tengah rasa sakit yang menggerogoti tubuh, beliau juga sadar bahwa operasi membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Sang suami hanyalah seorang tukang bangunan serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu. Sementara Ibu Evan mengandalkan penghasilan dari menjual kue dan menjadi buruh pembuat keripik singkong dengan upah yang sangat kecil, sekitar Rp75.000 per bulan.
Untuk biaya berobat, sungguh tidak terbayangkan.
Bahkan untuk sekadar membeli sesuap nasi keesokan hari, Ibu Evan harus menahan malu mengetuk pintu tetangga demi meminjam uang.
Dalam ketidakberdayaan dan keputusasaan sebagai manusia, setiap salat Ibu Evan diiringi air mata. Beliau memohon agar Allah membukakan jalan keluar dari segala cobaan.
Hingga pada suatu malam, saat salat Isya, Ibu Evan membaca Surah Ar-Rahman berulang-ulang. Beliau memeluk erat keyakinannya bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk dan penawar, serta meyakini bahwa janji Allah tidak pernah ingkar.
Kemudian datanglah sebuah peristiwa yang hingga kini begitu membekas dalam ingatan beliau.
Ba’da salat Asar, ketika sedang menyantap makanan, tiba-tiba benjolan di kakinya terlepas. Seolah keluar dengan sendirinya.
Ibu Evan menatap kebingungan. Dengan tangan gemetar, beliau mengambil bagian benjolan yang telah terlepas itu.
Pertanyaan memenuhi ruang kepalanya.
Hingga akhirnya tiba jadwal operasi yang selama ini begitu ditakutkan.
Dengan hati bimbang, Ibu Evan membawa bagian benjolan tersebut kepada dokter.
Sesaat sebelum proses operasi dimulai, beliau memberitahukan apa yang telah terjadi.
Tak disangka, dokter yang memeriksa justru berkata,
_”Lho, kalau begini mah sudah selesai, Bu… Tidak perlu dioperasi lagi. Ibu sudah boleh pulang.”_
Tangis haru pecah seketika.
Operasi tidak jadi dilakukan.
Beban berat yang selama ini menghimpit dada seakan diangkat dalam satu waktu.
Sering kali, masalah yang terasa maha berat dan menguras air mata manusia, diselesaikan Allah dengan cara yang begitu sederhana dan tidak pernah kita duga.
Mendengar penuturan itu, kami hanya bisa menggelengkan kepala dalam ketakjuban. Napas seolah tertahan. Rasa haru dan syahdu bercampur di dalam dada.
Hari itu, hati kami seperti terhujam sembilu yang sangat tajam. Sakit membayangkan betapa berat derita yang harus mereka lalui.
Namun bersamaan dengan itu, kami juga merasa tertampar.
Kami belajar tentang hakikat keikhlasan. Tentang keteguhan iman. Tentang bagaimana seseorang yang baru menemukan Islam justru harus berjuang mempertahankan sesuatu yang bagi kita, yang sejak lahir mengenal Islam, terkadang terasa begitu biasa.
Dari kisah tutur seorang muallaf bernama Ibu Evan, yang tinggal di kompleks perumahan Ruhamah (Rumah Singgah Muallaf) Cikembar, kami kembali diingatkan bahwa hidayah bukan sekadar tentang menemukan Islam, tetapi juga tentang bagaimana mempertahankan iman setelah menemukannya.
Inilah salah satu catatan perjalanan kami dalam Program Safari Ilmu Yayasan Isa Bin Maryam bersama Kelas Kepakaran Kristologi Mahasiswi STID Mohammad Natsir.
Kami datang untuk berbagi ilmu, tetapi ternyata kami pulang membawa pelajaran yang jauh lebih dalam.
Kami datang untuk belajar tentang Kristologi dan missiologi, tetapi Allah mempertemukan kami dengan sebuah pelajaran tentang iman yang hidup di tengah ujian nyata.
Inilah catatan kami di Rumah Singgah Muallaf.
Sebuah catatan yang menjadi tamparan nyata dan membuka mata hati kami bahwa di luar sana masih banyak saudara semuslim kita, khususnya para muallaf, yang berdarah-darah mempertahankan keimanan.
Mereka tidak hanya membutuhkan dakwah.
Mereka membutuhkan kita untuk hadir.
Mendengar kisah mereka.
Mendampingi perjalanan mereka.
Menguatkan iman mereka.
Dan ketika kehidupan terasa terlalu berat untuk dipikul sendiri, menjadi saudara yang mengulurkan tangan.
Sebab barangkali, bagi kita, bantuan yang kecil adalah sesuatu yang biasa.
Namun bagi seorang muallaf yang sedang berjuang mempertahankan iman, uluran tangan itu bisa menjadi sebab hadirnya kembali harapan.
Catatan Safari Ilmu — Ruhamah, Cikembar, Sukabumi.

