“STID Mohammad Natsir Gelar Seminar Internasional Indonesia–Malaysia: Bahas Kisah Inspiratif Muallaf dan Hinduisme”

Bekasi, 18 Oktober 2025 — Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir kembali menggelar kegiatan akademik bertaraf internasional dengan menghadirkan dua narasumber dari Malaysia dalam seminar bertema “Kisah Inspiratif Muallaf dan Hinduisme.” Kegiatan ini berlangsung di Aula Lantai 1 Kampus STID Mohammad Natsir, Tambun Selatan, Bekasi, dan dihadiri oleh civitas akademika serta seluruh mahasiswa.

Acara dibuka dengan sambutan dari Rektor STID Mohammad Natsir, Ustadz Dr.Dwi Budiman Assiroji, M.Pd.I, yang menekankan pentingnya memperluas wawasan keagamaan dan memahami dinamika keberagamaan lintas budaya. Beliau menyampaikan bahwa kegiatan semacam ini tidak hanya menambah khazanah keilmuan mahasiswa, tetapi juga memperkuat semangat dakwah lintas negara.

“Kedua pemateri yang hadir hari ini merupakan pakar yang memiliki pengalaman luar biasa di bidangnya. Ilmu yang mereka sampaikan diharapkan menjadi bekal berharga bagi mahasiswa STID Mohammad Natsir, serta membuka jalan bagi pengembangan dakwah di wilayah yang lebih luas,” tutur beliau.

Sebagai pemateri pertama, Ustadz Muhammad Fitri bin Abdullah, seorang mantan penganut Hindu yang kini menjadi muallaf, memaparkan perjalanannya menuju agama Islam. Ia menjelaskan bahwa dalam ajaran Hindu tidak terdapat lembaga formal untuk mempelajari agama, melainkan melalui guru-guru secara langsung.

Beliau juga mengungkapkan bahwa dalam keyakinan Hindu dikenal banyak dewa — sekitar 330 juta — namun pencarian terhadap kebenaran hakiki membawanya menelusuri ajaran Kristen, hingga akhirnya menemukan ketenangan dalam agama Islam.

“Ketika saya melihat umat Islam shalat berjamaah, saya merasa kagum dengan keseragaman dan kedisiplinannya, seperti tentara dalam satu komando. Dari situlah hati saya terpanggil untuk memeluk Islam,” ungkapnya.

Dalam pemaparannya, Ustadz Muhammad Fitri menjelaskan lima fase perjalanan seorang muallaf: ketenangan, konflik batin, pendalaman Islam, ketenangan kembali, dan keteguhan dalam amal.

Pemateri kedua, Ustadz Dr. Abdul Razak, menyoroti pentingnya dakwah yang berlandaskan hikmah dan etika. Ia mengutip QS. An-Nahl ayat 125 sebagai dasar dalam menjalankan dakwah yang santun, bijak, dan sesuai kemampuan mad’u.

“Dakwah adalah panggilan hidup yang membawa kemuliaan di sisi Allah SWT. Bukan pangkat atau harta yang membuat seseorang mulia, melainkan kesungguhannya dalam menyebarkan kebenaran,” ujar Dr. Abdul Razak.

Beliau juga menekankan lima etika hikmah dalam berdakwah: memberikan kabar gembira tanpa menakuti mad’u, menyampaikan dakwah secara mudah, mempertimbangkan dampak terhadap mad’u, mengutamakan pokok ajaran sebelum cabang, serta memahami kondisi mad’u agar dakwah lebih efektif.

Salah satu peserta, Darwin, mahasiswa semester 7 Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, mengaku mendapatkan banyak pelajaran berharga dari seminar tersebut.

“Dari kisah Ustadz Muhammad Fitri, saya semakin yakin bahwa kebenaran hanya ada pada ajaran Islam. Bahkan seorang mantan penganut Hindu pun mengakui keesaan Tuhan. Sementara dari Ustadz Dr. Abdul Razak, saya belajar bahwa berdakwah harus disertai etika agar pesan dapat tersampaikan dengan baik,” ujarnya.

Acara ditutup dengan penyerahan cinderamata oleh Rektor STID Mohammad Natsir kepada kedua pemateri sebagai bentuk apresiasi atas ilmu dan pengalaman yang telah dibagikan. (Aditya Muhamad Afni)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *