Alumni Akhwat STID Mohammad Natsir Kampus Putri kembali menyelenggarakan Kajian Ramadhan ke-3 dengan tema “Mafhum Ibadah: Makna dan Porosnya.”
Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 21 Februari 2026, pukul 10.00–11.15 WIB secara daring melalui Zoom dan diikuti oleh 27 alumni lintas generasi.
Kajian menghadirkan pemateri ustadz Aan Abdurrahman, M.Ag yang merupakan WAKET III Bid. Kemahasiswaan dan Alumni, beliau memaparkan secara sistematis hakikat ibadah dalam perspektif bahasa, syariat, serta dimensi ruhiyah yang menjadi poros kehidupan seorang Muslim.
Dalam pemaparannya, Ustadz Aan menjelaskan keterkaitan erat antara mafhum ibadah dan shaum (puasa). Berbeda dengan ibadah lain seperti shalat atau tilawah yang secara lahir dapat terlihat, shaum memiliki dimensi keikhlasan yang sangat tinggi karena tidak diketahui kecuali oleh Allah.
Beliau mengingatkan sabda Nabi ﷺ dalam hadits qudsi bahwa Allah berfirman tentang puasa: “Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” Hal ini menunjukkan keistimewaan shaum sebagai ibadah yang sangat kuat unsur keikhlasannya.
Disebutkan pula adanya penelitian akademik di dunia Arab yang menganalisis kondisi hati orang yang sedang berpuasa, menunjukkan bahwa ibadah ini memiliki dampak spiritual yang sangat mendalam terhadap pembinaan jiwa.
Pemateri mengajak peserta untuk menganalisis makna ibadah secara mendasar. Secara bahasa, ibadah bermakna at-tadzallul wal khudhu’ (hina dan tunduk). Adapun secara syar’i, ibadah menuntut adanya unsur perendahan diri di hadapan Allah.
Beliau menegaskan bahwa dalam gerakan rukuk dan sujud, seorang hamba memadukan rasa tunduk dan hina dengan puncak kecintaan kepada Allah. Di sinilah letak keseimbangan antara kehinaan seorang hamba dan kemuliaan Rabb yang disembah.
Definisi ibadah yang paling populer, sebagaimana dirumuskan oleh Ibnu Taimiyah, adalah: “ _Ismun jami’un likulli ma yuhibbullahu wa yardhahu minal aqwali wal a’mali adh-dhahirah wal bathinah._ ”
(Suatu istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah, baik berupa ucapan maupun perbuatan, lahir maupun batin).
Dengan definisi ini, ibadah tidak terbatas pada ritual formal, melainkan mencakup seluruh aspek kehidupan yang diniatkan dan dilakukan sesuai dengan tuntunan syariat.
Ustadz Aan juga menjelaskan bahwa ibadah memiliki beragam bentuk, di antaranya:
Ibadah qalbiyah (hati)
Ibadah lisaniyah (lisan)
Ibadah badaniyah (anggota tubuh)
Namun seluruh bentuk tersebut tidak dapat dipisahkan dari peran hati. Tidak mungkin seseorang mengucapkan kalimat pengagungan kepada Allah tanpa adanya pengagungan di dalam hatinya.
Dalam kajian Kitab Tauhid, dijelaskan bahwa ibadah memiliki tiga poros utama:
1. Hubbu (cinta)
2. Khauf (takut)
3. Raja’ (harap)
Ketiga unsur ini harus terkumpul secara seimbang dalam setiap ibadah. Pemateri menekankan bahwa unsur yang sering kali lemah adalah hubbu (kecintaan kepada Allah), sehingga hal ini perlu dilatih dan ditumbuhkan secara sadar dalam kehidupan seorang Muslim.
Dalam pemaparan kritisnya, Ustadz Aan menjelaskan adanya penyimpangan dalam memahami ibadah. Seseorang yang merasa dekat dengan Allah tetapi meninggalkan kewajiban seperti shalat berjamaah dapat termasuk dalam penyimpangan pemikiran.
Demikian pula, orang yang beribadah semata-mata karena harapan terhadap surga tanpa amal yang nyata dapat menyerupai pola pikir kelompok Murji’ah. Sebaliknya, beribadah hanya karena rasa takut semata tanpa keseimbangan cinta dan harap juga dapat menyerupai pola kelompok Haruriyah yang cenderung mudah mengkafirkan.
Melalui penjelasan ini, peserta diajak memahami pentingnya keseimbangan antara cinta, takut, dan harap dalam menjaga kemurnian ibadah dan menghindari sikap ekstrem.
Pada bagian akhir, pemateri menekankan bahwa rahasia terbesar ibadah Rasulullah ﷺ adalah rasa syukur. Meskipun telah dijamin ampunan, beliau tetap memperbanyak ibadah sebagai wujud syukur kepada Allah.
Kajian ini menegaskan bahwa ibadah bukan sekadar aktivitas ritual, melainkan poros kehidupan yang menuntut keseimbangan hati, ketundukan total, serta kecintaan mendalam kepada Allah.
Melalui penguatan mafhum ibadah, para Alumni Akhwat STID Mohammad Natsir diharapkan semakin kokoh menjadikan tauhid sebagai pusat orientasi hidup, terutama dalam momentum Ramadhan yang penuh keberkahan.

