“Dakwah: Benih Cinta yang Tumbuh Sejak Dalam Tulang Sulbi” Bersama Ustadz Dr. Ahmad Misbahul Anam, MA

Alumni Akhwat STID Mohammad Natsir Kampus Putri kembali melaksanakan rangkaian Kajian Ramadhan ke-4 dengan tema “Dakwah: Benih Cinta yang Tumbuh Sejak Dalam Tulang Sulbi.”

Kegiatan ini dilaksanakan pada Ahad, 22 Februari 2026 pukul 10.00-11.30 WIB, yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom dan diikuti oleh 29 alumni lintas generasi.

Kajian ini menghadirkan pemateri ustadz Dr. Ahmad Misbahul Anam, MA yang merupakan Wakil Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, dalam pemaparannya beliau menekankan bahwa dakwah sejatinya berakar pada cinta (al-hubb).

Dakwah bukan sekadar aktivitas penyampaian ajaran, melainkan proses menanamkan nilai tauhid dengan kelembutan hati dan ketulusan niat.

Pemateri mengawali kajian dengan mengangkat peristiwa dakwah Rasulullah ﷺ di Thaif. Ketika diusir dan disakiti oleh penduduk Thaif, Rasulullah ﷺ tidak membalas dengan kebencian. Sebaliknya, beliau justru mendoakan agar dari keturunan mereka lahir generasi yang menyembah Allah dan meninggalkan kemaksiatan.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa dakwah Rasulullah ﷺ dibangun di atas fondasi cinta dan optimisme kepada Allah. Bahkan dari lafaz Bismillah, dakwah dimulai dari sebuah kalimat sederhana yang akan bernilai besar apabila dilafazkan dengan ketulusan, “Dakwah itu benih cinta. Ia tumbuh ketika hati dipenuhi keikhlasan dan keyakinan kepada Allah,” ungkap pemateri.

Disampaikan pula bahwa dalam perjalanan dakwah, setiap da’i pasti mengalami fase futur (penurunan semangat). Namun, dakwah yang dilandasi cinta akan mampu melewati fase tersebut “Ujian dakwah itu berat. Tetapi jika ada cinta di dalam hati, maka ujian itu akan terasa ringan,” jelasnya.

Cinta kepada Allah, kepada Rasul-Nya, dan kepada objek dakwah (mad’u) menjadi energi ruhiyah yang menjaga konsistensi seorang dai. Tanpa cinta, dakwah berisiko berubah menjadi rutinitas yang kering dan mudah melelahkan.

Pemateri juga mengulas pola dakwah Nabi Muhammad ﷺ di Madinah yang sangat humanis dan membumi, di antaranya:

1. Menyebarkan salam.
2. Memberikan makanan.
3. Menjalin silaturahmi.
4. Menghidupkan shalat malam.

Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa dakwah dibangun melalui penguatan hubungan sosial sekaligus spiritual. Dakwah bukan hanya ceramah, tetapi pembinaan karakter dan penguatan ukhuwah.

Rasulullah ﷺ tetap optimis kepada Allah meskipun dakwahnya tidak selalu diterima. Optimisme tersebut lahir dari keyakinan bahwa benih cinta yang ditanamkan suatu saat akan tumbuh dan berbuah.

Kajian ini menjadi pengingat bahwa dakwah harus berporos pada cinta dan keikhlasan, bukan sekadar target atau hasil. Benih cinta yang ditanam hari ini mungkin tidak langsung terlihat hasilnya, tetapi akan tumbuh pada waktu yang Allah tentukan.

Melalui kajian ini, Alumni Akhwat STID Mohammad Natsir diharapkan semakin meneguhkan komitmen dakwah dengan hati yang lembut, optimis, dan penuh cinta, sebagaimana teladan Rasulullah ﷺ dalam setiap fase perjuangannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *