Perjalanan Da’wah NTT dan Timor Leste 2026, Ketua STID Mohammad Natsir (Bagian Satu)

(Pendampingan Program Kafilah Da’wah STID Mohammad Natsir, Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Tahun 2026 M / 1447 H)
Bagian Satu

Tulisan ini disampaikan langsung oleh Ketua STID Mohammad Natsir, Dr. Dwi Budiman Assiroji, M.Pd.I, sebagai catatan perjalanan beliau bersama rombongan Kafilah Da’wah STID Mohammad Natsir dalam agenda pendampingan dan pengantaran para da’i ke wilayah Nusa Tenggara Timur dan Timor Leste.


Bismillah…

Sepekan ke depan saya akan mengantar peserta Kafilah Da’wah ke beberapa titik di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Negara Timor Leste.

Mengirimkan da’i peserta Kafilah Da’wah ke dua lokasi ini melanjutkan jejak da’wah para pendahulu: membina kaum muslimin di pedalaman dan perbatasan, juga para muallaf yang banyak tersebar di berbagai daerah.

Semoga para pelanjut diberikan kesabaran dan keistiqamahan dalam mengemban amanah da’wah ini.


Jumat, 13 Februari 2026

Alhamdulillah, hari Jumat (13/02) pukul 10.00 WITA kami mendarat di Bandara El Tari Kupang. Kami dijemput oleh Ustadz Saleh Balafif, Bendahara Dewan Da’wah Provinsi NTT. Disambut hujan, kami kemudian menuju Universitas Muhammadiyah Kupang (UMK).

Sesampainya di UMK, saya langsung bergabung dengan Ustadz M. Ramli, Ketua Dewan Da’wah Provinsi NTT, dan Prof. Mokmin bin Basri, dosen Universitas Islam Selangor (UIS) Malaysia, yang sedang mengadakan pertemuan dengan Pimpinan UMK.

Prof. Mokmin bergabung untuk sama-sama ikut mengantar peserta Kafilah Da’wah di beberapa lokasi di NTT dan Timor Leste. Beliau juga membawa bantuan untuk saudara muslim di lokasi tersebut.

Tak lama kami pamit karena waktu Jumat semakin dekat. Saya dijadwalkan memberikan khutbah Jumat di Masjid Raya Nurussa’adah.

Memanfaatkan momentum akhir bulan Sya’ban, dalam khutbah saya mengingatkan para jamaah untuk segera bersiap menghadapi bulan Ramadhan. Terutama dengan membersihkan hati agar siap melaksanakan seluruh perintah Allah Ta’ala di sepanjang bulan Ramadhan. Dengan hati yang bersih diharapkan dapat meraih ketakwaan dan ampunan dari Allah Ta’ala.

Lebih jauh, bersihnya hati akan menjadi tiket keselamatan ketika kita menghadap Allah Ta’ala kelak.

Semoga kita semua diberikan kemudahan dalam mempersiapkan diri menghadapi Ramadhan.

Sore harinya, seluruh peserta Kafilah Da’wah berkumpul di kampus ADI NTT. Kami mengadakan acara pembekalan dan pelepasan yang dihadiri Ustadz M. Ramli, Ustadz Saefullah Zaein (Direktur ADI NTT), Prof. Mokmin Basri, serta para da’i alumni STID Mohammad Natsir yang bertugas di NTT.

Ustadz Ramli mengingatkan pentingnya keikhlasan dan keteladanan dalam berdakwah. Ustadz Saefullah menjelaskan jejak da’wah Dewan Da’wah di NTT dan Timor Leste.

“Jejak da’wah Dewan Da’wah sangat terasa, baik di NTT maupun di Timor Leste,” ujarnya.

Sementara itu, Prof. Mokmin sangat mengapresiasi program Kafilah Da’wah sebagai program pembinaan da’i sekaligus pembinaan umat. Karena itu beliau sangat senang dapat ikut serta dalam kegiatan ini.

Saya menambahkan bahwa da’wah pasti menghadapi tantangan dan rintangan. Sebagian sudah dirasakan peserta sebelum keberangkatan: ada yang jatuh dari motor, ada yang kesulitan mendapatkan tiket kapal laut karena gelombang besar. Ke depan, selama melaksanakan Kafilah Da’wah, tantangan dan rintangan itu akan terus datang secara bergantian—dihiasi pula dengan kenikmatan yang Allah Ta’ala pasti berikan.

Selesai acara, kami segera kembali ke penginapan untuk beristirahat. Esok hari setelah salat Subuh kami akan langsung bergerak mengantar para da’i ke lokasi tugas masing-masing.


Sabtu, 14 Februari 2026

Sebelum Subuh kami sudah bersiap, merapikan barang bawaan dan mandi. Selepas Subuh, mobil yang akan mengantar datang—satu pickup dan satu minibus. Hujan turun sangat deras. Barang dinaikkan, dan kami segera berangkat menuju Terminal Bus Internasional Bimoku Kupang.

Peserta Kafilah Da’wah yang bertugas di Timor Leste akan berangkat menggunakan bus pukul 06.30 WITA. Selesai proses check-in, mereka dipanggil untuk menaiki bus—Bagong nama busnya. Lama perjalanan menuju Dili sekitar 12 jam.

Setelah melepas keberangkatan mereka, kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi Kafilah Da’wah di Oe Ue, Kabupaten Amanuban Timur, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).

Pukul 11.00 WITA kami sampai di Kota Soe, TTS. Kami diajak mampir ke rumah Haji Abdurrahman dan Hajjah Mardiyah, pasangan pedagang asal Bugis yang masih memiliki ikatan saudara dengan Ustadz Ramli. Kami dijamu makan dan kopi—nikmatnya bersaudara dalam dakwah.

Setelah makan dan rehat, kami melanjutkan perjalanan menuju Dusun Oe Ue. Perjalanan cukup menantang: jalan berkelok, naik turun, disuguhi hamparan hutan hijau, pegunungan menjulang, dan sungai yang lebar berliku.

Satu jam perjalanan dari Soe, kami berbelok ke jalan kampung yang menyempit dan berbatu. Semakin masuk, semakin terjal. Hujan turun deras. Kami harus melewati turunan dan tanjakan licin. Mobil sempat terjebak lumpur dan harus didorong agar bisa keluar.

Alhamdulillah mobil dapat melanjutkan perjalanan. Namun tak lama ban mobil pecah di tengah hujan deras. Kami mengganti ban dalam keadaan basah kuyup.

Belum lama berjalan, mobil kembali mengalami slip cukup dalam. Kami kembali turun, mendorong bahkan mengangkat mobil. Alhamdulillah banyak masyarakat membantu, muslim maupun nonmuslim. Setelah berjuang berkali-kali, mobil berhasil keluar dari kubangan lumpur.

Tantangan berikutnya adalah melewati sungai yang sangat lebar. Arusnya kecil saat itu—jika besar, mobil tak bisa lewat dan harus memutar melewati jembatan. Setelah itu, kami menghadapi tanjakan sangat curam. Berkali-kali dicoba sopir tidak berhasil.

Seorang warga lokal datang menawarkan bantuan. Ia menyupiri mobil, sementara penumpang turun. Mobil digas kuat menaiki tanjakan. Beberapa koper di belakang jatuh berhamburan. Namun Alhamdulillah mobil berhasil mencapai puncak.

Pukul 15.30 WITA kami tiba di Dusun Oe Ue, tepatnya di Masjid An-Nur.

Maa syaa Allah, masyarakat sudah berkumpul menyambut kami—anak-anak, remaja hingga orangtua. Kami diarahkan ke lapangan belakang masjid untuk mengikuti upacara adat penyambutan.

Seorang pemuka agama membuka acara dan menyampaikan ucapan selamat datang. Seorang tokoh adat membacakan sambutan dalam bahasa daerah. Satu per satu kami dikalungi kain khas timur sebagai tanda penghormatan.

Lelah yang sangat langsung menguap melihat penyambutan yang hangat.

“Kami sangat senang dengan kedatangan da’i dari Dewan Da’wah,” ujar salah seorang tokoh.

Ustadz Ramli menyampaikan bahwa beberapa hari sebelumnya Kepala Suku, Bapak Arifin Nobisa, meninggal dunia dan masyarakat masih dalam suasana berkabung.

“Kalau tidak, penyambutan bisa lebih meriah lagi,” ujarnya.

Setelah itu kami salat Zuhur dan Asar dijamak qashar, lalu menikmati hidangan sambil berbincang dengan masyarakat.

“Kami sudah sangat dekat dengan Dewan Da’wah, karena itu tolong jangan berhenti mengirimkan da’i ke tempat kami,” ujar Bapak Zulkarnain Nobisa, putra kepala suku yang baru wafat.

Acara dilanjutkan dengan penyerahan bantuan sembako kepada masyarakat.

Pukul 17.00 WITA kami melanjutkan perjalanan menuju Atambua, kota perbatasan dengan Timor Leste. Tiga peserta Kafilah Da’wah kami tinggalkan untuk bertugas di Oe Ue.

Perjalanan keluar dusun relatif lebih mudah karena jalan menurun, meski beberapa kali mobil tetap mengalami slip. Alhamdulillah kami dapat keluar dengan lancar.

Tepat pukul 24.00 kami sampai di Masjid Al Mujahidin Atambua. Kami langsung merebahkan diri di atas karpet masjid dan tertidur pulas karena lelah yang sangat.


Ahad, 15 Februari 2026

Menjelang azan Subuh kami bangun dan bersiap salat berjamaah. Ustadz Akhwan, da’i senior Dewan Da’wah, datang menyambut. Beliau imam di Masjid Al Mujahidin.

Setelah salat Subuh saya diminta memberikan Kuliah Subuh. Saya menyampaikan tentang keutamaan Ramadhan dan keharusan umat Islam memaksimalkannya. Namun banyak umat Islam belum bisa memaksimalkan Ramadhan dengan ibadah dan amal shalih karena tidak ada da’i yang membimbing mereka—terutama di daerah perbatasan, pedalaman, dan pulau terluar.

Itulah salah satu tujuan Kafilah Da’wah: menyebar da’i untuk membersamai umat Islam memaksimalkan bulan Ramadhan.

Selepas kajian, kami berbincang dengan jamaah. Saya sampaikan rencana masuk ke Timor Leste menggunakan travel bersama Prof. Mokmin. Tiba-tiba seorang jamaah, Pak Abdul, menyampaikan bahwa hari itu ia juga akan masuk ke Timor Leste menggunakan mobil pribadi.

Kami diajak masuk bersama.

Alhamdulillah, satu kenikmatan datang dari arah yang tidak pernah kami sangka.

(Bersambung ke Bagian Dua)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *