Jakarta — Perjalanan dakwah pedalaman Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia tidak dapat dilepaskan dari kisah para kader yang sejak generasi awal telah ditempa untuk siap mengabdi di berbagai daerah. Salah satunya adalah Ustadz Abu Nida, yang dalam momentum Tasyakur 55 Tahun Dakwah Pedalaman dan Pelepasan Da’i Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia membagikan pengalaman ketika mengikuti kaderisasi di Pesantren Darul Falah hingga menjalankan tugas dakwah di Kalimantan Barat.
Ustadz Abu Nida mengisahkan bahwa dirinya bergabung dengan Dewan Dakwah pada 1971. Ia kemudian mengikuti proses pembinaan di Darul Falah bersama generasi awal kader dakwah. Dalam proses tersebut, ia menyebut bahwa Mohammad Natsir turut mengawal langsung pembinaan para kader.
Bagi Ustadz Abu Nida, proses pembinaan tersebut tidak hanya memberikan bekal keilmuan dan keterampilan, tetapi juga menanamkan cara pandang dalam berinteraksi dengan masyarakat. Salah satu hal yang paling membekas baginya adalah pembelajaran mengenai hubungan seorang da’i dengan masyarakat.

Bekal Memahami Masyarakat
Setelah menjalani pembinaan di Darul Falah, Ustadz Abu Nida mendapat amanah untuk berdakwah ke Kalimantan Barat. Ia menjadi salah satu alumni yang dikirim ke daerah tersebut atas komunikasi Mohammad Natsir dengan pihak setempat.
Di wilayah pengabdian, ia merasakan langsung pentingnya memahami kondisi masyarakat sebelum menjalankan aktivitas dakwah. Ia mengenang bahwa dalam waktu sekitar satu bulan dirinya sudah mulai mampu memetakan kondisi masyarakat di tempat tugasnya.
Bekal tersebut terus ia gunakan dalam perjalanan dakwahnya. Ia juga mengingat pesan Mohammad Natsir agar seorang da’i membangun hubungan yang baik dengan tokoh-tokoh masyarakat dan pejabat.
“Tokoh dan pemuka, di antaranya pejabat dan orang tua, harus didekati dengan baik,” tutur Ustadz Abu Nida saat mengenang pesan Mohammad Natsir.
Prinsip tersebut kemudian ia praktikkan dalam menjalankan tugasnya. Ia berusaha mengenal masyarakat dan membangun komunikasi sebelum bergerak lebih jauh dalam aktivitas dakwah.
Menurutnya, kemampuan bergaul dengan masyarakat dengan tetap menjaga prinsip keislaman merupakan bagian penting dari perjalanan seorang da’i.
Menjalankan Dakwah di Tengah Keterbatasan
Pengabdian Ustadz Abu Nida di Kalimantan Barat berlangsung pada masa ketika sarana komunikasi dan transportasi masih sangat terbatas. Ia menceritakan bagaimana perjalanan menuju wilayah penugasannya harus ditempuh dengan kondisi jalan yang belum memadai.
Ketika dikirim ke wilayah Sintang, ia kemudian melanjutkan perjalanan hingga Kecamatan Dedai. Dari sana, terdapat daerah-daerah yang masih harus ditempuh melalui jalan setapak.
Kondisi tersebut menjadi bagian dari pengalaman dakwahnya. Pada masa itu, telepon genggam belum tersedia dan perjalanan di berbagai wilayah masih dilakukan dengan berjalan kaki.
Di tengah keterbatasan tersebut, Ustadz Abu Nida mengenang salah satu pesan Mohammad Natsir yang hingga kini masih membekas.
Ketika Ustadz Abu Nida menyampaikan bahwa dirinya juga membawa aktivitas perdagangan ke Pontianak, Mohammad Natsir tidak mempermasalahkannya selama ia tetap berada di daerah pengabdian.
“Enggak apa-apa dagang di sana, asal jangan pulang,” demikian pesan Mohammad Natsir yang ia kenang.
Kemudian Mohammad Natsir menegaskan:
“Yang penting antum di sana itu sudah pahala.”
Pesan tersebut menjadi gambaran kuat tentang semangat pengabdian yang ditanamkan kepada para kader pada masa itu. Kehadiran seorang da’i di daerah bukan semata-mata tentang fasilitas atau kenyamanan, tetapi tentang kesediaan untuk bertahan dan menjalankan amanah dakwah.

Dari Generasi Awal untuk Kader Masa Kini
Ustadz Abu Nida menjadi salah satu gambaran tentang bagaimana kader-kader pada masa awal Dewan Dakwah dipersiapkan untuk menghadapi medan pengabdian.
Apa yang dahulu dijalani dengan keterbatasan sarana, kini terus diteruskan melalui lembaga kaderisasi STID Mohammad Natsir. Para mahasiswa dipersiapkan untuk memiliki bekal keilmuan sekaligus kesiapan hidup dan berdakwah di tengah masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Abu Nida juga menekankan pentingnya membangun masyarakat melalui pembinaan akidah yang sahih dan akhlak. Menurutnya, seorang da’i perlu terus meningkatkan keilmuan sekaligus memiliki sikap tawadhu.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga hubungan dengan berbagai unsur masyarakat. Seorang da’i harus memiliki prinsip dalam beragama, tetapi tetap mampu berkomunikasi dan membangun ukhuwah dengan baik.
Pesan tersebut sejalan dengan pengalaman yang ia jalani sejak masa kaderisasi bersama Mohammad Natsir: memahami masyarakat, membangun komunikasi, menjaga hubungan dengan berbagai pihak, dan tetap teguh dalam prinsip dakwah.
Estafet yang Terus Berlanjut
Di penghujung, Usatdz Abu Nida mengajak generasi muda untuk tidak melupakan jasa para perintis dakwah, khususnya Mohammad Natsir yang telah meletakkan dasar perjuangan dakwah melalui Dewan Dakwah.
Baginya, salah satu bentuk penghormatan kepada para pendahulu adalah dengan melanjutkan perjuangan yang telah mereka rintis.
Kini, setelah 55 tahun perjalanan dakwah pedalaman, semangat tersebut kembali diteruskan oleh generasi muda. Para kader STID Mohammad Natsir yang dilepas untuk mengabdi di berbagai daerah menjadi bagian dari estafet panjang tersebut.
Medan dakwah boleh berubah, sarana boleh semakin berkembang, tetapi nilai yang diwariskan tetap sama: siap mengabdi, memahami masyarakat, menjaga ukhuwah, dan bersedia hadir di tempat yang membutuhkan dakwah.


