Bekasi, 27 Juni 2025 — Pesantren Mahasiswa (PESMA) STID Mohammad Natsir kembali menyelenggarakan program rutinnya, Lailatul Qur’an, pada Jum’at, 27 Juni 2025 di Masjid Wadhah Abdurrahman Al-Bahr. Kegiatan ini merupakan bagian dari pembinaan berkelanjutan yang memadukan aspek keilmuan, dan dakwah yang menjadi karakter pendidikan kampus STID Mohammad Natsir.
Acara dibuka dengan pembacaan Al-Qur’an oleh mahasiswa, dipandu secara dwibahasa oleh dua mahasiswa dengan bahasa Arab dan Indonesia. Dalam sambutannya, Ustadz Zacky Widiyanto, S.Sos., selaku Manajer Bidang Tahfiz PESMA, menyampaikan pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber kekuatan pribadi, serta sebagai pondasi dalam membangun masa depan dakwah.

Puncak acara diisi oleh tausiyah ilmiah dari Syaikh Ahmad Nafi’ al-Misry, seorang ulama asal Mesir. Beliau membuka ceramahnya dengan muqaddimah dan salam penghormatan, lalu menyapa para mahasiswa dengan penuh kehangatan.
Dalam pesannya, beliau menekankan bahwa menuntut ilmu dan membaca adalah dua perintah utama dalam Islam yang menjadi penopang keselamatan individu dan stabilitas suatu negeri.
“Keamanan suatu negeri dapat terwujud karena adanya para penuntut ilmu yang bersungguh-sungguh. Mereka bukan hanya belajar untuk diri sendiri, tetapi menjadi penjaga nilai dan moral di tengah masyarakat,” tegas beliau.
Syaikh Ahmad Nafi’ juga mengingatkan bahwa jika suatu wilayah dihuni oleh para pencari ilmu, maka kebaikan dan keberkahan akan tersebar. Sebaliknya, jika kebodohan dibiarkan, maka kejahatan dan kerusakan akan tumbuh. Oleh karena itu, beliau mendorong mahasiswa agar serius dalam menuntut ilmu, karena hal itu bukan hanya menyelamatkan diri sendiri, tapi juga negeri dan agama.

Wasiat Ilmu dan Keikhlasan
Dalam bagian lain ceramahnya, Syaikh Ahmad Nafi’ mengisahkan wasiat dari guru beliau, Syaikh Shalah bin Muhammad Sa’ad Badran ad-Dimyathi, sebagai bentuk ijazah ilmiah:
“Ayahku berkata kepadaku: Barangsiapa menuntut ilmu tanpa menghafal matan, maka dia seperti berdagang dengan harta orang lain.”
Beliau menjelaskan bahwa penuntut ilmu yang hanya bergantung pada catatan dan buku, tanpa menghafal dasar-dasar ilmu, pada hakikatnya tidak memiliki bekal pribadi yang kuat. Jika sumber-sumber itu hilang, maka ilmunya ikut hilang bersamanya.
Tak kalah penting, Syaikh Ahmad Nafi’ menutup dengan pesan keikhlasan dalam menyampaikan ilmu:
“Sebarkan ilmumu agar Allah membenarkanmu, bukan agar manusia membenarkanmu.”
Menurut beliau, keberkahan ilmu tidak terletak pada pujian manusia, tetapi pada keikhlasan niat dan keridhaan Allah. Seorang dai atau penuntut ilmu harus berorientasi kepada nilai-nilai akhirat, bukan popularitas dunia.

Menjaga Agama Lewat Ilmu dan Amal
Beliau menegaskan bahwa agama tidak mungkin terjaga kecuali dengan ilmu, dan ilmu tidak mungkin hidup tanpa penuntutnya. Oleh sebab itu, para mahasiswa STID diingatkan untuk menjadikan proses belajar mereka sebagai bagian dari peran strategis dalam menjaga agama dan masa depan umat.
“Kalian—dengan kesungguhan dan ilmu—adalah bagian dari penjaga agama. Ini tugas mulia, jika kalian menyadarinya,” pungkas beliau.
Setelah tausiyah, kegiatan dilanjutkan dengan murojaah Al-Qur’an bersama hingga tengah malam, ditutup dengan shalat tahajud berjamaah, menutup malam dengan kekhusyukan dan semangat pembaruan diri. (MZ)


