Jakarta, 20 Juni 2025 — Di tengah gegap gempita Islamic Book Fair (IBF) ke-23 yang digelar di Jakarta International Convention Center (JICC), lima mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah (STID) Mohammad Natsir tampil memukau dalam sesi spesial bertajuk STID TALK: “Santri Bicara Literasi”. Mengusung semangat dakwah intelektual, para santri ini menyuarakan pemikiran-pemikiran mendalam tentang pentingnya literasi dalam Islam dari berbagai sudut pandang yang segar dan aktual.
Kegiatan yang berlangsung di Panggung Kreasi IBF 2025 ini menjadi ajang pembuktian bahwa mahasiswa STID Mohammad Natsir bukan sekadar aktivis dakwah lapangan, tetapi juga pemikir yang siap tampil di forum-forum intelektual.

Lima Pembicara, Lima Perspektif Literasi Islam
Acara dimoderatori secara ringan namun mendalam, mempertemukan lima narasi kuat dari lima mahasiswa lintas konsentrasi di STID Mohammad Natsir:

- Raihan – Kelas Khusus Kepakaran Jurnalistik dan Pemikiran Islam
Tema: “Islam: Agama Literasi”
Raihan membuka talk show dengan mengingatkan kembali momen monumental dalam sejarah Islam: turunnya wahyu pertama berupa surat Al-‘Alaq ayat 1–5 yang dimulai dengan kata “Iqra”. Ia bertanya kepada audiens, “Mengapa Allah memulai wahyu pertama dengan perintah membaca?” Pertanyaan ini dijawab dengan refleksi mendalam: bahwa Islam adalah agama ilmu sejak awal. Iman tanpa ilmu hanyalah dogma, sementara ilmu tanpa iman berujung pada kesombongan, seperti yang ditunjukkan oleh iblis.Raihan juga menekankan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi mencakup budaya ilmu—yakni proses belajar, memahami, dan menghidupkan ilmu dalam kehidupan. Ia mengingatkan pentingnya adab berguru, karena pemahaman tanpa bimbingan akan melahirkan kesesatan. Mengutip Ibnu Mubarak, ia menutup dengan pesan: “Sanad adalah bagian dari agama.”
- Ali Sina – Kelas Khusus Kepakaran Jurnalistik dan Pemikiran Islam
Tema: “Peradaban Islam dan Literasi”
Ali Sina mengajak hadirin menyelami masa kejayaan Islam di era Abbasiyah, ketika ilmu dihargai setara emas, dan buku-buku ilmiah menjadi tolok ukur peradaban. Ia mengungkap bagaimana literasi dalam Islam bukan sekadar lokal, tapi berpengaruh global. “Ilmu kedokteran dari ulama Islam bahkan dijadikan rujukan oleh dunia Barat selama berabad-abad,” ujarnya.Secara nasional, ia menyoroti bahwa peradaban Islam di Nusantara lebih memilih membangun keilmuan, bukan hanya bangunan fisik. Ia mencontohkan lahirnya Arab Melayu dan Arab Pegon, serta masuknya nilai-nilai Islam seperti “adab”, “hikmah”, dan “musyawarah” dalam budaya masyarakat. Islam, menurutnya, meletakkan literasi sebagai sarana perubahan yang hakiki.
- Sukma Wijaya Kusuma – Kelas Khusus Kepakaran Kristologi
Tema: “Literasi Dakwah Pedalaman”
Sukma membagikan kisah pengabdiannya sebagai da’i di pedalaman Sulawesi Tengah, tempat listrik, jalan, dan sinyal internet nyaris tidak tersedia. “Masuk ke sana rasanya seperti masuk ke dunia lain,” ungkapnya. Ia menolak menyempitkan makna literasi sebatas aktivitas akademik—baginya, literasi adalah bentuk dakwah yang membumi: dari berkebun bersama warga hingga mengajarkan hidup bersih melalui Thibbun Nabawi.“Dakwah bukan hanya ceramah, tapi bagaimana kita hadir dalam kehidupan mereka, membawa ilmu dengan kasih sayang,” tegasnya.
- Nailufar – Kelas Khusus Kepakaran Jurnalistik dan Pemikiran Islam
Tema: “Darurat Literasi Pemuda”
Nailufar mengangkat keresahan generasi muda yang terjebak dalam budaya instan dan short attention span. “Kita dinobatkan sebagai negara dengan minat baca terendah kedua versi UNESCO—dari bawah!” katanya tajam.Ia mengajak pemuda untuk kembali membuka mata terhadap dunia sekitar. Literasi, menurutnya, adalah kemampuan untuk menalar, memahami, dan membedakan hak dan batil. Ia menutup dengan pertanyaan reflektif: “Apakah kita ini hanya pembaca? Atau benar-benar seorang yang literat?”
- Sepiyana Rahayu – Mahasiswi Semester 8
Tema: “Islam, Perempuan, dan Literasi”
Sepiyana menegaskan bahwa Islam, perempuan, dan literasi adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Ia mengangkat peran perempuan dalam sejarah Islam yang mulia—bukan sebagai pihak tertindas, tetapi ibu dari peradaban. Ia menyuarakan pentingnya perempuan untuk meningkatkan literasi demi menjalankan peran strategis mereka dalam dakwah, terutama sebagai madrasah pertama dalam keluarga.“Jangan hanya menjadi penonton dalam kemenangan umat. Kita perempuan punya porsi dakwah—dengan pena, pikiran, dan keteladanan,” ujarnya penuh semangat.
Bukan Sekadar Talk Show, Tapi Dakwah Intelektual
“Santri Bicara Literasi” bukan hanya menjadi ajang tampil di panggung nasional, tapi manifestasi nyata tridharma perguruan tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Mahasiswa STID Mohammad Natsir membuktikan bahwa mereka mampu berdakwah lewat pemikiran yang tajam, narasi yang menggugah, dan akhlak yang memikat.
Acara ini juga menjadi representasi misi kampus: mencetak da’i intelektual yang siap memimpin perubahan, baik di pedalaman maupun di panggung global. Melalui pena dan gagasan, mahasiswa STID Mohammad Natsir terus membuktikan bahwa literasi adalah jalan juang yang tak kalah mulia dari mimbar dakwah. (Saksikan Vidio Lengkapnya di Youtube: STID Natsir Official)


