LTQ LPPM STID Mohammad Natsir Gelar Kuliah Iftitah Bertema “Mari Menjadi Penjaga Al-Qur’an”

Bekasi, 5 Oktober 2025 — Lembaga Tahsin dan Tahfizh Al-Qur’an (LTQ) LPPM STID Mohammad Natsir menggelar kegiatan Kuliah Iftitah Semester Genap 1446–1447 H dengan tema “Mari Menjadi Penjaga Al-Qur’an”. Acara ini menghadirkan narasumber Drs. KH. Mustafa Kamal R., Ketua Tim Nasional Peningkatan Mutu Pendidikan Al-Qur’an (PMPAI).

Kegiatan berlangsung pada Ahad, 5 Oktober 2025 bertempat di Masjid Wadhah Abdurahman Al-Bahr ,Pusdiklat Dewan Dakwah Tambun, dimulai pukul 07.30 hingga 10.00 WIB. Acara diikuti oleh para pengurus LTQ, guru tahsin-tahfizh,  dan tamu undangan, termasuk rombongan dari Komunitas Guru Ngaji Sukabumi yang hadir dalam rangka studi tiru ke LTQ LPPM STID Mohammad Natsir.

Dalam sambutannya, Mudir LTQ LPPM STID Mohammad Natsir, Ustadz Eri Irawan, S.Sos, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan ini dan menyambut para tamu serta peserta dengan penuh kehormatan. Ustadz Eri juga menjelaskan program-program unggulan LTQ yang telah berjalan, di antaranya Program Tahlilah (Tahfid lil Aulad), Program Tahsin, Program Tahfizh, dan Program Bahasa Arab. Setiap program disusun dengan sistem level dan target capaian yang terukur, guna meningkatkan kemampuan membaca, menghafal, dan memahami Al-Qur’an dengan baik dan benar.

Sementara itu, Dewan Pakar LTQ, Ustadz Dr. H. Ahmad Annuri, M.A., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi terhadap kehadiran KH. Mustafa Kamal R. yang merupakan tokoh penting dalam gerakan pemberantasan buta huruf Al-Qur’an di Indonesia sejak tahun 1990-an melalui Tim Tadarus AMM Yogyakarta. Beliau juga menegaskan bahwa pemateri kali ini merupakan bagian dari keluarga besar Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia.

Dalam penyampaian materi, Ustadz KH. Mustafa Kamal R. mengingatkan pentingnya peran guru ngaji sebagai garda terdepan penjaga Al-Qur’an. Menurut beliau, guru ngaji adalah sosok yang tetap istiqamah mengajarkan huruf demi huruf Al-Qur’an, meski tanpa banyak perhatian atau penghargaan. “Guru ngaji adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya,” ungkapnya.

Beliau juga menegaskan bahwa menjadi penjaga Al-Qur’an bukan hanya berarti menghafalnya, tetapi juga membelanya dan menegakkan nilai-nilainya dalam kehidupan. KH. Mustafa mengajak para peserta untuk menghidupkan kembali semangat keilmuan yang integral antara ilmu agama dan ilmu umum. “Dalam pandangan Islam, ilmu bukan hanya terbagi menjadi agama dan umum, melainkan ada yang fardhu ‘ain dan ada yang fardhu kifayah. Keduanya saling melengkapi untuk membangun peradaban,” tuturnya.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan harapan agar seluruh peserta terus bersemangat menjadi penjaga Al-Qur’an, baik melalui pengajaran, pengamalan, maupun pembelaan terhadap kalamullah. (Humas STID Mohammad Natsir)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *