Bekasi — Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah Mohammad Natsir, Dr. Dwi Budiman Assiroji, M.Pd.I., mengisi kajian kitab At-Tarbiyah ‘ala Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah karya Syaikh Ahmad Farid dalam kegiatan Kajian Rutin yang diselenggarakan oleh DKM Masjid Wadhhah Abdurrahman Al-Bahr, Ahad (25 Januari 2026), ba’da salat Subuh, bertempat di Pusdiklat Dewan Dakwah Tambun, Bekasi.
Pada pertemuan perdana ini, Dr. Dwi Budiman Assiroji menjelaskan latar belakang pentingnya kitab tersebut untuk dikaji, khususnya dalam memahami sisi tarbiyah sebagai bagian integral dari dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Menurutnya, Syaikh Ahmad Farid menyoroti aspek dakwah Nabi yang kerap kurang mendapat perhatian dalam kajian sirah, yakni dimensi pendidikan (ajanib at-tarbawi) yang menjadi fondasi pembinaan umat.
Beliau menjelaskan bahwa Syaikh Ahmad Farid berpandangan tarbiyah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari dakwah. Keberhasilan dakwah Rasulullah, baik di Makkah maupun Madinah, tidak hanya ditentukan oleh penyampaian risalah, tetapi oleh proses pendidikan yang terstruktur dan berkelanjutan dalam membentuk keimanan, akhlak, serta kesiapan jiwa para sahabat.
Dalam pemaparannya, Dr. Dwi Budiman menegaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berperan sebagai al-murabbi al-awwal (pendidik pertama). Berkembangnya agama Islam, menurut Syaikh Ahmad Farid, tidak terlepas dari proses tarbiyah yang dilakukan Rasulullah kepada para sahabat secara langsung, sehingga lahir generasi unggul yang memiliki keteguhan iman dan ketaatan penuh terhadap perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Lebih lanjut, dijelaskan bahwa pada fase awal dakwah di Makkah, Rasulullah memprioritaskan pembinaan melalui majelis-majelis ilmu, di antaranya yang berlangsung di rumah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam. Program dakwah pada masa tersebut pada hakikatnya merupakan proses pendidikan intensif yang mempersiapkan para sahabat secara ruhani dan mental.
Dr. Dwi Budiman juga menguraikan materi tarbiyah awal yang diajarkan Rasulullah kepada para sahabat, yaitu qiyamul lail, puasa, dan tilawah Al-Qur’an. Qiyamul lail menjadi amalan pertama yang ditekankan karena berfungsi sebagai sarana pembinaan jiwa dalam mempersiapkan umat menerima syariat-syariat yang lebih berat pada fase berikutnya. Melalui proses tarbiyah tersebut, para sahabat memiliki kesiapan untuk melaksanakan setiap perintah Allah dengan penuh ketaatan. (Humas STID Mohammad Natsir)

