Seminar Kristologi dan Missiologi STID Mohammad Natsir Bekali Mahasiswa dengan Analisis Teologis dan Strategi Dakwah Kontemporer

(STID) Mohammad Natsir Jakarta, 5 Juli 2026 dalam rangka meningkatkan pemahaman mahasiswa dan masyarakat mengenai kajian kristologi serta strategi dakwah menghadapi perkembangan misi modern, kelas kepakaran kristologi Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir bekerja sama dengan Yayasan Isa bin Maryam menyelenggarakan Seminar Kristologi dan Missiologi. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Ahad, 5 Juli 2026, bertempat di Aula Sakinah STID Mohammad Natsir, mulai pukul 08.30 hingga 12.00 WIB. Seminar dihadiri oleh lebih dari 90 peserta yang terdiri atas mahasiswa dan mahasiswi STID Mohammad Natsir, ibu-ibu majelis taklim binaan, serta beberapa tamu undangan.

Atas rahmat dan karunia Allah sehingga acara pada saat itu dapat berlangsung dengan tertib dan interaktif. Acara dipandu oleh moderator Ustadz Sayyid Sabiq, S.Sos., seorang mahasiswa kelas kepakaran kristologi STID Mohammad Natsir yang telah menyelesaikan skripsinya dengan sangat baik. sedangkan tugas kepanitiaan dilaksanakan oleh mahasiswi kelas kepakaran kristologi STID Mohammad Natsir.

Materi seminar pertama disampaikan oleh Dr. Muhammad Nurrosyid Huda Setiawan, S.Th.I., beliau menyampaikan materi dengan judul “Analisis Kritis Terhadap Dogma Gereja dan Sharing Pengalaman Materi Kristologi di UNIDA Gontor.” Dalam pemaparannya, beliau mengulas sejumlah dogma utama dalam ajaran gereja, antara lain dogma dosa asal, dogma penebusan dosa, dogma trinitas, dogma Yesus anak Tuhan, serta dogma Yesus sebagai Tuhan dan manusia.

Pada pembahasan mengenai Dogma Dosa Asal, beliau menjelaskan bahwa dalam doktrin gereja, seluruh manusia dianggap mewarisi dosa Adam dan Hawa sejak lahir. Dogma tersebut umumnya didasarkan pada Kitab Kejadian 2:15–17 dan Kejadian 3:22–23. Namun, beliau mengajak peserta untuk menelaah kembali ayat-ayat tersebut secara kritis karena tidak ditemukan pernyataan yang secara eksplisit menyebut adanya “dosa warisan”. Sebagai bahan perbandingan, beliau mengutip Yehezkiel 18:20, Ulangan 24:16, dan Matius 16:27 yang menunjukkan bahwa setiap manusia bertanggung jawab atas dosanya masing-masing.

Dalam perspektif Islam, beliau menjelaskan bahwa konsep dosa warisan tidak dikenal. Hal tersebut diperkuat dengan firman Allah di dalam Al-Qur’an surat Fatir ayat 18 dan surat Al-Isra’ ayat 15 yang menegaskan bahwa seseorang tidak akan memikul dosa orang lain. Beliau menyimpulkan bahwa konsep dosa asal merupakan hasil penafsiran teologis dalam tradisi gereja, bukan ajaran yang dinyatakan secara eksplisit oleh Tuhan ataupun Yesus sebagai utusan-Nya menurut sudut pandang yang dipaparkan dalam seminar.

Selain membahas aspek teologis, pemateri juga berbagi pengalaman ketika menyampaikan materi kristologi di Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor. Beliau menekankan pentingnya penguasaan sumber-sumber primer, kemampuan berpikir kritis, serta penyampaian dakwah yang dilakukan secara ilmiah, santun, dan argumentatif.

Pada sesi seminar yang kedua, materi disampaikan oleh ustadzah Nevy Amaliyah Nanlohy, S.Th., S.Sos.I dengan tema “Memahami Strategi Misi Modern dan Membangun Dakwah Kontemporer.” Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa misi modern tidak hanya dipahami sebagai upaya mengajak seseorang berpindah agama, tetapi diawali dengan membangun kepercayaan, membangun relasi, menciptakan ketergantungan melalui berbagai bentuk pelayanan, kemudian membangun komunitas sebelum akhirnya menyampaikan keyakinan yang dianut.

Sebagai bentuk respons terhadap strategi tersebut, beliau menawarkan konsep counter mission melalui penguatan dakwah yang adaptif dan solutif. Dakwah perlu dibangun melalui pendekatan relasi seperti pendampingan mualaf, mentoring pemuda masjid, serta program sahabat belajar. Selain itu, dakwah juga harus memanfaatkan media digital melalui konten edukatif, podcast, YouTube, maupun TikTok agar mampu menjangkau masyarakat secara lebih luas. Tidak kalah penting, dakwah berbasis pemberdayaan juga perlu dikembangkan melalui pelatihan keterampilan, pemberian beasiswa, dan penguatan ekonomi umat sehingga dakwah tidak berhenti pada ceramah semata, tetapi benar-benar hadir sebagai solusi di tengah masyarakat.

Dalam penutup materinya, ustadzah Nevy Amaliyah Nanlohy menegaskan bahwa tantangan misi modern tidak seharusnya direspons dengan emosi, melainkan dengan ilmu, strategi, serta dakwah yang membawa rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin). Pesan tersebut menjadi penekanan penting agar para peserta mampu mempersiapkan diri sebagai da’i dan da’iyah yang memiliki kompetensi keilmuan sekaligus kebijaksanaan dalam berdakwah.

Seminar berlangsung dengan antusiasme tinggi. Para peserta aktif mengikuti pemaparan materi dan memanfaatkan sesi diskusi untuk mengajukan berbagai pertanyaan seputar kristologi, missiologi, serta strategi dakwah kontemporer. Melalui kegiatan ini, diharapkan wawasan peserta semakin bertambah sehingga mampu memperkuat kesiapan intelektual, spiritual, dan metodologis dalam menghadapi tantangan dakwah di tengah masyarakat yang semakin kompleks.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *