Ahad, 15 Februari 2026
Siang selepas Dzuhur kami pun berangkat menuju perbatasan. Sementara Ustadz Ramli dan rombongan lain kembali ke Kupang.
Sebagaimana layaknya perbatasan, proses imigrasi di kedua negara harus kami lalui. Kami masuk melalui Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Motaain NTT. Alhamdulillah atas bantuan Pak Abdul dan istri, proses kami masuk Timor Leste menjadi lebih mudah. Tepat pukul 16.00 waktu Timor Leste kami menginjakan kaki di tanah Loro Sae untuk pertama kalinya.
Dari perbatasan menuju Dili kami tempuh selama tiga jam. Sebelum masuk Dili kami diajak mampir ke masjid Al Hamud di daerah Liquica untuk shalat Maghrib dan isya.
Adzan Maghrib berkumandang, ada nada yang khas pada iramanya. Setiap akhir kalimat adzan dinaikturunkan secara mendayu. Kami pun melaksanakan shalat Maghrib dan isya di masjid ini.
Kami melanjutkan perjalanan, menyusuri jalan pinggir pantai hingga masuk ke jalan utama Kota Dili. Tak lama mobil berbelok ke kiri, ada tulisan di pinggir jalan Kampung Alor. Nampak menara berwarna hijau, itulah menara masjid An Nur. Mobil masuk ke pekarangan masjid, Ustadz Anwar Dacosta, Ketua Yayasan Masjid An Nur, sudah menunggu di pelataran. Ia adalah kontak kami di Timor Leste. Alhamdulillah setelah perjalanan selama 6 jam kami sampai di tujuan.
Ustadz Anwar menyambut dengan senyum mengembang.
Selepas menurunkan barang, Pak Abdul pamit. Kami mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya atas kebaikan Pak Abdul mengantar sampai ke masjid An Nur.
Kami langsung diajak makan oleh Ustadz Anwar. Nasi Goreng samping masjid. Memang di depan dan sekitar masjid banyak penjual makanan, “Kebanyakan mereka muslim”, ujar Ustadz Anwar. Dari wajahnya, chef yang bertugas sepertinya dari Jawa. Nasi Goreng terhidang dengan porsi besar, “Ini porsi orang Timor,” ujarnya sambil tersenyum. Nasi goreng ini dibayar menggunakan dollar Amerika, sebagai mata uang yang berlaku. Kecuali untuk pecahan kecil dibawah lima dollar, pemerintah sudah mengeluarkan uang koin sendiri bernama Centavo.
Selepas makan kami diantar ke asrama sebagai tempat tinggal kami selama di Timor Leste. Asrama terletak di belakang masjid An Nur. Setelah bersih-bersih kami pun tertidur.

Senin, 16 Februari 2026
Esok hari selepas shalat subuh berjamaah, kami menyaksikan prosesi pensyahadatan seorang wanita. Dipimpin oleh Imam masjid An Nur, Ustadz Julio Muslim Dacosta, alumni Universitas Islam Madinah. “Hampir tiap pekan ada yang masuk Islam,” terang Ustadz Anwar Dacosta.
Masjid An Nur dikelola oleh Fundasaun (Yayasan) An Nur. Terletak di Kampung Alor, disebut demikian karena dulu banyak pendatang dari Kepulauan Alor NTT tinggal di tempat ini. Selain masjid, Fundasaun An Nur juga melaksanakan program belajar ngaji untuk anak-anak dan pendidikan formal tingkat SD dan SMP.
Masjid An Nur dibangun pertama kali tahun 1955. Kemudian direnovasi tahun 1963. Bangunan bertingkat dua. Lantai bawah untuk sholat, lantai atas untuk kantor dan kelas. Dicat hijau muda, dengan kubah berwarna hijau tua di bagian tengah dan dua menara di sebelah kanan dan kiri. Di bagian belakang masjid ada atap terbuka seperti di masjid Nabawi. Jamaah yang datang beragam dari berbagai negara. Karena Masjid An Nur adalah masjid Raya dan terletak dekat dengan kawasan Kedutaan Besar.
Di depan dan samping kanan-kiri masjid banyak orang berjualan, baik di toko maupun di tenda. Kebanyakan mereka muslim. Di seberang jalan ada taman dan pedestarian, namanya Taman Toleransi.
Selasa, 17 Februari 2026
Tahun 1447 H ini shaum Ramadhan di Timor Leste dimulai hari Rabu, mengikuti Muhammadiyah. “Karena kami harus menyetorkan tanggal hari-hari besar dalam Islam ke pemerintah sejak akhir tahun lalu untuk bahan mereka menyusun kalender negara”, terang Ustadz Anwar. Masjid An Nur memang menjadi Pusat kegiatan umat Islam di Timor Leste, termasuk dalam hal penentuan awal Ramadhan. Semua umat Islam di Timor Leste mengikuti keputusan masjid An Nur.
Alhamdulillah saya berkesempatan mengikuti shalat tarawih dan buka puasa hari pertama di Masjid An Nur. Jamaah shalat tarawih memenuhi ruang masjid. Sangat beragam, ada orang Arab, Eropa, Afrika, Cina dan tentu saja Indonesia. Ustadz Julio Muslim Dacosta bertindak sebagai imam.
Adapun untuk berbuka, tidak berbeda jauh dengan kebiasaan di Indonesia. Menu utamanya gorengan dan teh manis. Jamaah duduk berhadapan. Gorengan dan berbagai macam kue disajikan di atas piring plastik kecil, ditemani segelas teh dan sebotol air mineral.
Jumlah kaum muslimin di Timor Leste kurang dari 1% dari 1,5 juta orang penduduk. Sebagian besar tinggal di kota Dili. Sisanya tersebar di semua distrik; Same, Baucau, Los Palos, Uatulari, Marina dan tempat lainnya.
Da’wah di Timor Leste perlu terus ditingkatkan untuk memperkuat aqidah dan ketaatan umat Islam terhadap ajaran Islam. Karena ujian yang dihadapi sangat berat. Minuman keras dan perjudian dibebaskan peredarannya. Tak jauh dari masjid An Nur, terdapat kios penjual nomor judi dan minimarket yang menjual minuman keras. Sementara di sisi lain pemahaman terhadap Islam masih minim.
Ustadz Anwar menjelaskan bahwa mereka masih sangat kekurangan da’i, “Kader da’i yang dulu dikirim belajar ke Jawa banyak yang tidak mau kembali ke Timor Leste. Sementara sekarang mencari calon kader da’i susah sekali,” ujarnya. Karena itu ia berharap ada bantuan tenaga da’i dari Indonesia.
Maka tahun ini STID Mohammad Natsir mengirimkan lima orang peserta Kafilah Da’wah ke lima titik di Timor Leste, yakni di Masjid Al Hidayah Same, Masjid Al Amal Baucau, Masjid At Taqwa Los Palos, Masjid Al Fatah Afabubo dan Masjid Al Huda Uatulari.
Dari lima titik tersebut, saya hanya berkesempatan mendatangi satu titik saja, Masjid Al Amal Baucau. Terletak di sebelah timur Dili. Perjalanan sekitar 4 jam menuju lokasi. Menyusuri pinggir pantai yang sangat indah.
Kami sampai di Masjid Al Amal siang sebelum Dzuhur, disambut tiga orang; Bapak Carlos da Soares (Direktur Yayasan An Nur Baucau), Ustadz Ibrahim (Penasehat) dan Ustadz Faisal Saleh (Imam Masjid). Yayasan An Nur Baucau ini adalah cabang dari Yayasan An Nur Dili. Mereka menyambut kami dengan suka cita, “Senang rasanya kembali didatangi da’i Dewan Da’wah. Kami ini adalah anak-anak didik da’i Dewan Da’wah yang dulu bertugas di sini, ada Ustadz Abdul Kholiq, Ustadz Mustofa dan pernah juga dikunjungi Ustadz Syuhada Bahri,” ujar Ustadz Faisal.
Mereka bertiga muallaf. Diislamkan oleh tentara dari Indonesia dan kemudian dibina oleh para da’i Dewan Da’wah yang dulu ditugaskan di Timor Timur (nama sebagai provinsi sebelum merdeka).
Perkataan Ustadz Abdullah Zein ketika pembekalan di Kupang terbukti. Jejak da’wah Dewan Da’wah di Timor Leste masih sangat terasa. Semoga dapat terus dilanjutkan oleh generasi berikutnya.
Lima hari sudah saya di Timor Leste. Para mahasiswa Kafilah Da’wah sudah berangkat ke tempat mereka masing-masing. Saatnya kembali ke Atambua NTT melanjutkan perjalanan Da’wah ini.
Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberkahi para da’i. (bersambung ke bagian tiga)


