Jakarta, 15 Agustus 2026 — Para Da’i Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) yang merupakan alumni Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah (STID) Mohammad Natsir mengikuti serah terima amanah dakwah untuk melanjutkan pengabdian di berbagai daerah di Indonesia. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Masjid Al-Furqan, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Kramat Raya, Jakarta, Sabtu (15/8/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian agenda Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dalam memperingati 55 tahun dakwah pedalaman, sekaligus menjadi momentum penyerahan amanah kepada para Da’i Dewan Dakwah alumni STID Mohammad Natsir untuk melanjutkan tugas dakwah dan pengabdian di tengah masyarakat.

Ketua Bidang Penempatan dan Pembinaan Dai Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Ustadz Mohammad Firdaus, menyampaikan bahwa kebutuhan dai di berbagai daerah masih sangat besar. Dewan Dakwah menerima ratusan permintaan dai dari berbagai wilayah, sementara jumlah dai yang tersedia masih terbatas.
Karena itu, penempatan dai dilakukan dengan mempertimbangkan pemerataan kebutuhan dakwah di berbagai daerah. Para dai diharapkan mampu menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab serta kembali berkontribusi bersama Dewan Dakwah di wilayah penugasan masing-masing.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum II Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Ustadz Ahmad Misbahul Anam, berpesan kepada para Da’i Dewan Dakwah alumni STID Mohammad Natsir untuk senantiasa menjaga niat, nama baik, dan marwah lembaga selama menjalankan tugas dakwah.
Ia menilai, proses kaderisasi yang telah dijalani selama empat tahun di STID Mohammad Natsir menjadi salah satu bekal penting bagi para dai dalam menghadapi medan dakwah. Meski demikian, para dai tetap membutuhkan bimbingan dan pendampingan dari Dewan Dakwah Daerah maupun lembaga mitra di tempat penugasan.
“Anggaplah dai-dai itu sebagai anak-anak Anda. Jika masih ada kekurangan, bantu tambahkan ilmunya dan keterampilannya,” pesannya kepada para pimpinan Dewan Dakwah Daerah dan lembaga mitra.
Ia juga mengingatkan para alumni untuk tetap menjaga hubungan dan kebersamaan dengan Dewan Dakwah. Menurutnya, Dewan Dakwah dan STID Mohammad Natsir merupakan rumah perjuangan yang perlu dijaga marwah dan namanya oleh setiap kader yang telah menyelesaikan proses pendidikan dan kaderisasi.
Dalam kesempatan tersebut, para dai dan daiyah juga menerima sejumlah buku sebagai bekal penunjang dakwah, di antaranya 105 Tema Khotbah Jumat, Mohammad Natsir: Negarawan, Guru, dan Dai Teladan, serta Konsep Toleransi dalam Dakwah Mohammad Natsir.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Dewan Dakwah dan sejumlah lembaga mitra yang menjadi bagian dari penempatan dai. Kerja sama tersebut menjadi salah satu bentuk sinergi dalam mendukung pelaksanaan dakwah dan pembinaan masyarakat di berbagai daerah.
Bagi STID Mohammad Natsir, keberangkatan para alumni sebagai Da’i Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia merupakan bagian dari kesinambungan proses kaderisasi yang berlangsung di kampus. Para alumni tidak hanya diharapkan menjadi lulusan secara akademik, tetapi juga mampu melanjutkan pengabdian di tengah masyarakat melalui dakwah.
Dengan bekal pendidikan, pembinaan, dan pengalaman dakwah yang telah diperoleh selama menjalani proses kaderisasi di STID Mohammad Natsir, para dai dan daiyah diharapkan mampu menjalankan amanah dengan penuh keikhlasan, menjaga nama baik lembaga, serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat di wilayah pengabdian masing-masing.


