Tabligh Akbar KPMT STID Mohammad Natsir: Membentengi Keluarga di Tengah Badai Fitnah

Suasana Masjid Nauroh Abdurrahman pada Sabtu, 15 Agustus 2026, tampak lebih ramai dari biasanya. Sejak pagi, para ibu dari majelis ta’lim binaan mahasiswi bersama para mahasiswi dan panitia mulai memenuhi masjid untuk mengikuti Tabligh Akbar yang diselenggarakan oleh Komunitas Pecinta Majelis Ta’lim Mahasiswi STID Mohammad Natsir (KPMT). Kegiatan yang dimulai pukul 08.40 WIB ini mengangkat tema “Investasi Akhirat, Membentengi Keluarga di Tengah Badai Fitnah.”

Kegiatan dipandu oleh Dina Meriza dan Rafika sebagai MC. Sebanyak 99 ibu-ibu dari majelis ta’lim binaan mahasiswi serta 77 mahasiswi beserta panitia turut hadir dalam kegiatan tersebut. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Khayrani.

Dalam sambutannya, Ketua Pelaksana, Nurul Aeni, menyoroti besarnya peran seorang ibu dalam menjaga keluarga. Menurutnya, ibu merupakan salah satu benteng utama bagi anak-anak dalam menghadapi berbagai pengaruh negatif di tengah perkembangan zaman. Menjaga dan mendidik keluarga bukan hanya untuk memperoleh keberhasilan di dunia, tetapi juga merupakan investasi yang diharapkan menjadi penyelamat di akhirat.

Agar suasana lebih semangat, panitia menyisipkan penayangan video yang berisi kumpulan kegiatan KPMT. Para peserta juga diajak mengikuti kuis berhadiah menarik. Sesi ini mendapat sambutan antusias dari para ibu-ibu.

Memasuki materi pertama, Ustadz Musmardi Afit Badrisyah, M.Ag. menyampaikan materi bertema “Orang Tua dan Pendidikan Keluarga”, pada pukul 09.00–09.40 WIB. Beliau menjadikan QS. At-Tahrim ayat 6 sebagai salah satu landasan dalam menjelaskan tanggung jawab orang tua terhadap keluarga. Dalam penyampaiannya, beliau menggambarkan ibu sebagai sekolah pertama bagi anak, sementara suami sebagai kepala sekolahnya. Namun, pendidikan keluarga tidak cukup hanya dengan memberikan nasihat kepada anak. Orang tua harus terlebih dahulu menjaga dirinya dengan menaati perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya, kemudian berusaha menjaga keluarganya dari berbagai hal yang dapat menjauhkan mereka dari ketaatan. Anak juga dipandang sebagai bagian dari investasi akhirat. Pendidikan yang baik kepada anak dapat menjadi amal yang terus memberikan manfaat bagi orang tua, sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi mengenai amal yang tidak terputus setelah seseorang meninggal dunia, salah satunya adalah anak saleh yang mendoakannya.

Selanjutnya, materi kedua disampaikan oleh Ustadz Ali Hasan Bawazir, M.A. pada pukul 09.45–10.45 WIB. Beliau membahas berbagai bentuk fitnah di akhir zaman, khususnya yang berkembang melalui media digital.

Menurut beliau, di antara ciri fitnah akhir zaman adalah semakin dekatnya pasar, hilangnya keberkahan waktu, serta semakin merebaknya kebodohan hingga seseorang bahkan tidak mengenal dirinya sendiri. Di era digital, fitnah dapat menyebar dengan cepat dan berpotensi memengaruhi keimanan apabila media tidak digunakan dengan benar.

Ustadz Ali menjelaskan beberapa karakter fitnah di era digital, di antaranya: banyaknya syubhat pemikiran yang dilemparkan, berbagai ideologi menyimpang yang ditawarkan secara besar-besaran, sasaran fitnah yang menyentuh perasaan, serangannya yang melintasi generasi, munculnya keterasingan dalam keluarga, serta hilangnya rujukan dalam menyelesaikan persoalan.

Beliau juga mengajak peserta melakukan evaluasi terhadap diri sendiri. Salah satu cara mendeteksi pengaruh fitnah adalah dengan melihat perubahan dalam diri: apakah sesuatu yang dahulu kita haramkan masih kita anggap haram? Apakah sesuatu yang dahulu kita benci kini justru menjadi kebiasaan? Pertanyaan tersebut menjadi bahan renungan bagi peserta agar lebih waspada terhadap perubahan nilai yang terjadi secara perlahan.

Antusiasme peserta terlihat pada sesi tanya jawab. Sejumlah pertanyaan diajukan kepada pemateri, menunjukkan bahwa pembahasan mengenai fitnah di era digital cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari para peserta.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi bersama Tim Hudaya Safari bersama Ustadz Edi Heriyanto. Dalam sesi tersebut disampaikan tentang salah satu jalan pintas menuju surga Allah adalah melalui Rukun Islam yang ke lima, yaitu haji. Beliau menekankan bahwa haji dan umrah dapat diwujudkan ketika seseorang memiliki tekad dan kesungguhan, karena sejatinha haji dan umroh itu Mudah dan murah.

Setelah seluruh materi dan rangkaian kegiatan selesai, acara ditutup sekitar pukul 11.40 WIB dengan sesi foto bersama. Tabligh Akbar ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi pengingat bagi para ibu dan mahasiswi untuk bersama-sama memperkuat keluarga, menjaga keimanan, serta membekali generasi agar mampu menghadapi derasnya fitnah di tengah perkembangan zaman.
(Yesma Yeni/MARWAH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *