“Kerja atau Kuliah?” di Kampus Akhwat STID Mohammad Natsir

Pada pagi yang cerah, Sabtu, 24 Mei 2025, Kampus Akhwat STID Mohammad Natsir mengadakan acara bertema “Kerja atau Kuliah?”. Acara ini diadakan di Masjid Nauroh Abdurrahman dan wajib diikuti oleh seluruh mahasiswi. Kegiatan kali ini terasa istimewa karena dihadiri oleh seorang public figure, Temmy Rahadi, yang juga memberikan sambutan di awal acara.

Tepat pukul 10.00 WIB, acara dibuka oleh MC dengan bacaan basmalah, sebagai harapan agar kegiatan ini mendapatkan keberkahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh salah satu mahasiswi STID Mohammad Natsir semester 8.

Sambutan pertama disampaikan oleh Temmy Rahadi. Beliau membuka sambutannya dengan semangat dan antusias, sambil berbagi pengalaman dalam dunia public speaking. Suasana semakin menarik ketika beberapa mahasiswi diajak langsung untuk praktik berbicara di depan umum. Di akhir sambutannya, Temmy menyampaikan, “Salah satu kunci sukses dalam public speaking adalah briefing yang baik, latihan terus-menerus, dan tidak menyepelekan materi. Karena dengan latihan yang serius, seorang pembicara akan lebih siap saat tampil di depan audiens.”

Setelah sambutan dari Temmy Rahadi, acara dilanjutkan dengan penyampaian materi inti oleh Ustadz Zamroji, salah satu dosen senior di STID Mohammad Natsir. Beliau memulai dengan menceritakan pertemuannya dengan Temmy Rahadi di Makkah Al-Mukarramah, sekitar satu tahun yang lalu. Saat itu, Ustadz Zamroji mengajak Temmy agar suatu hari dapat berkunjung dan berbagi ilmu di STID. “Alhamdulillah, pagi ini Allah mengabulkan harapan tersebut,” ujar beliau penuh syukur.

Dalam penyampaiannya, Ustadz Zamroji menjelaskan betapa mulianya profesi sebagai da’i. Beliau berkata, “Begitu indahnya menjadi seorang da’i, yang ganjarannya langsung diberikan oleh Allah, dan pahalanya akan terus mengalir terutama ketika ilmu yang disampaikan diamalkan oleh orang lain.” Suasana pun menjadi hangat dan penuh perhatian.

Beliau juga menegaskan, “Kuliah itu juga bekerja. Bekerja untuk dunianya, sekaligus untuk akhiratnya.” Ucapan tersebut memberikan pemahaman baru bagi para mahasiswi bahwa menuntut ilmu adalah bagian dari ibadah dan kontribusi nyata untuk masa depan umat.

Tidak hanya itu, Ustadz Zamroji juga menyampaikan nasihat penting kepada para orang tua  dan menjadi bekal bagi mahasiswi yang akan menjadi orang tua nantinya. “Anak adalah investasi yang sangat berharga. Maka jadikanlah anak itu menjadi anak yang sholeh, bahkan muslih, yakni anak yang tidak hanya baik untuk dirinya sendiri, tapi juga mengajak orang lain untuk menjadi lebih baik. Dan salah satu solusi  untuk investasi ini adalah STID Mohammad Natsir, yang menjadi salah satu tempat terbaik untuk melahirkan generasi yang sholeh dan muslih.” Ujar Ustadz Zamroji dengan penuh semangat.

Menjelang akhir materi, Ustadz Zamroji menutup materinya dengan kisah inspiratif tentang seorang mahasiswi yang beliau temui dahulu. Diawal pertemuan itu mahasiswi ini belum memahami islam secara utuh dan masih memakai pakaian terbuka. “Waktu itu hati saya sedih, melihat bagaimana pakaiannya belum menutup aurat, terlebih ketika mengetahui saat diasrama ia suka bernyayi, namun saya tetap berdoa, semoga suatu hari nanti Allah jadikan lisannya melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an. Beberapa tahun kemudian, saya bertemu dengan  seorang perempuan yang berpakaian syar’i dan aktif mengisi majelis ilmu. Ternyata itu adalah mahasiswi yang dulu saya doakan. Rasa lelah dalam berdakwah seketika hilang ketika melihat hidayah Allah turun kepadanya,” ujar beliau, mengakhiri penyampaiannya dengan penuh haru, membuat mahaiswi semakin termotivasi.

Sebelum acara berakhir, Ustadz Dwi Budiman menyampaikan nasihat singkat namun menyentuh. Beliau berkata, “Kali ini saya tak memperpanjang kata. Nasihat saya kepada para da’iyah, tetaplah semangat dalam berdakwah. Semoga dari dakwah ini, Allah memberikan kebaikan untuk kita, baik di dunia maupun di akhirat. Semoga Allah mengistiqomahkan kita di jalan-Nya. Dan untuk Mas Temmy, semoga Allah juga istiqomahkan beliau dalam kebaikan.”

Tepat pukul 11.50 WIB, sebelum adzan Zuhur berkumandang, acara ditutup oleh MC dengan melafazkan hamdalah bersama seluruh mahasiswi. Acara berjalan dengan lancar, penuh kehangatan, dan memberikan banyak pelajaran berharga. Tema yang diangkat sangat relevan dan memberikan wawasan baru bagi mahasiswi dalam melanjutkan dakwah di masa mendatang. (Sufianti)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *