Jakarta, mediadakwah.id- Mahasiswa STID Mohammad Natsir, Fatih Madini, mendapat penghargaan dari Islamic Book Fair (IBF) 2024 di Jakarta. Bukunya yang berjudul “Solusi Kekacauan Ilmu”masuk nominasi 10 buku terbaik kategori buku ilmiah (non fiksi).
Ada pun pemenang IBF 2024 untuk kategori tersebut adalah buku berjudul “Membangun Negara Islam Modern di Indonesia” karya Prof. Dr. KH Abu Yazid.
Sembilan buku lainnya adalah: “Konsep Adab Syed Muhammad Naquib al-Attas” karya Dr. Muhammad Ardiansyah, “Rahmah El-Yunusiyyah dalam Arus Sejarah Indonesia” karya Hendra Sugiantoro, “Muhammad Sang Negarawan”, karya Tohir Bawazir, “Maryam dan Keluarga Imran” karya Wisnu T. Prabowo “Solusi Kekacauan Ilmu” karya Fatih Madini, “Nasrani di Sekeliling Rasulullah” Wisnu T. Prabowo, “Ismael dalam Alkitab dan Manuskrip Qumran” karya Prof. Menachem Ali, “Ayat-ayat Kebahagiaan” karya Didi Junaedi, “Zulkarnain Agung” karya Wisnu T. Prabowo.
Buku “Solusi Kekacauan Ilmu” ini telah dibedah dan didiskusikan beberapa kali, baik secara luring maupun daring. Misalnya, buku ini pernah didiskusikan di Kota Padang, Sumatera Barat. (https://mediadakwah.id/diskusi-buku-solusi-kekacauan-ilmu-di-padang-ini-makanan-mahasiswa-s3/).
Fatih Madini lahir di Depok, 9 September 2002. Sejak di tingkat Sekolah Dasar, ia menempuh pendidikan di SD At-Taqwa Depok. Sejak SD ia telah mengkaji beberapa kitab-kitab adab berbahasa Arab-Melayu, seperti Adabul Insan dan Risalah Dua Ilmu.
Ia melanjutkan pendidikan SMP dan SMA-nya juga di Pesantren At-Taqwa Depok. Di tingkat inilah, ia banyak mengkaji kitab-kitab klasik berbahasa Arab, buku-buku kontemporer berbahasa Inggris, dan juga kitab-kitab berbahasa Arab Melayu.
Saat berumur 16 tahun, ia menerbitkan buku pertamanyaberjudul: Mewujudkan Insan dan Peradaban Mulia (Depok: YPI At-Taqwa, 2018). Buku ini – atas permintaan Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud – secara singkat pernah dipresentasikan Fatih Madini di Forum Internasional, Saturday Night Lecture, di CASIS-Universiti Teknologi Malaysia Kuala Lumpur.
Buku kedua Fatih Madini yang berjudul Reformasi Pemikiran Pendidikan Kita (Depok: YPI At-Taqwa, 2020), ketika ia berumur 17 tahun. Buku ini merupakan kumpulan gagasannya di berbagai tulisannya, baik artikel maupun makalah.
Dan tahun 2021, terbit buku ketiganya, yang berjudul: Solusi Kekacauan Ilmu. Buku ini merupakan karya skripsinya di Pesantren At-Taqwa, yang ditulis secara utuh, setebal 434 halaman. Disebutkan dalam buku ini, bahwa untuk mewujudkan kebangkitan peradaban Islam, maka harus ditumbuhkan budaya ilmu yang benar. Hal ini sulit ditubuhkan, selama masih terjadi kekacauan ilmu.
Untuk mengatasi kekacauan ilmu, diperlukan empat langkah sebagai solusinya, yaitu: (1) Penanaman adab sebelum pengajaran ilmu (2) Ilmu Nafi’ sebagai landasan dan jawaban (3) Pengakuan klasifikasi ilmu berupa fardhu Ain dan fardhu kifayah (4) Pengakuan terhadap adanya otoritas dalam setiap bidang ilmu.
Demikian gagasan besar dari Fatih Madini yang merupakan penjabaran dari pemikiran Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, dan kemudian diuraikan dan dikembangkan oleh Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud.
Kini, sehari-hari, Fatih Madini aktif menjadi guru di Pesantren At-Taqwa Depok dan menjalani kuliah tingkat S1 di Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Mohammad Natsir kelas khusus Jurnalistik dan Pemikiran Islam – kampus Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia yang berkomitmen melahirkan para dai unggul, meneladani Bapak Mohammad Natsir.
Ia mengajar beberapa mata pelajaran, seperti kajian Kitab Ta’limul Muta’allim, Islamic Worldview, Peradaban Barat dan Pengaruhnya, dan menjadi editor karya tulis para santri. Dalam dunia olah raga, ia pernah menjadi pelatih Taekwondo untuk anak-anak di Brimob Taekwondo Training Center (BTTC) dan kini menjadi pelatih silat di pesantren At-Taqwa Depok. [MediaDakwah]

