Jakarta – Empat Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir menjadi pembicara Islamic Book Fair (IBF) 2024. Sebagai penulis muda yang produktif, mereka berbagi pengalaman dalam menulis buku.
Mahasiswa STID yang menjadi pembicara pada kesempatan itu ada Azzam Habibullah, Fatih Madini, Nabil Abdurrahman dan Reisya Callista. Keempatnya merupakan mahasiswa STID dari program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) kelas kepakaran Jurnalistik dan Pemikiran Islam.
Dalam acara tersebut, para mahasiswa berbagi motivasi yang menjadi sumber semangat mereka hingga mampu menerbitkan buku. Tema buku yang ditulis mereka beragam, antara lain sejarah, pendidikan, literasi dan pemikiran Islam.
“Menulis adalah cara mengekspresikan diri. Menulis dapat membuat pengetahuan kita rapi dan terstruktur. Selain itu dengan menulis maka kita akan punya karya abadi,” kata Azzam ketika berbicara terkait motivasinya menulis.
Serupa dengan Azzam, bagi Nabil, menulis adalah cara yang baik untuk menjaga pengetahuan serta membuatnya terstruktur. Selain itu, menurutnya, pemuda muslim yang memiliki wawasan yang luas serta cara berpikir yang baik dan benar harus ikut menyumbangkan pengetahuannya di dunia literasi.
“Menulis membuat pemahaman kita menjadi rapi dan sistematis. Kalau kita sebagai mahasiswa muslim tidak menulis, maka nanti (dikhawatirkan) dunia literasi akan dipenuhi dengan tulisan dari orang-orang yang tidak benar,” ungkapnya.
Tidak jauh berbeda dengan Azzam dan Nabil, Fatih mengatakan bahwa motivasi menulisnya tumbuh karena ia selalu ingin memahami ilmu dengan baik. Fatih mengatakan bahwa dirinya “tidak suka tidak paham” sehingga menulis merupakan jalannya dalam memahami ilmu.
“Saya itu orangnya tidak suka tidak paham. Jadi supaya paham, saya susun pemahaman dari ilmu yang saya pelajari dengan menulis. Selain itu, ustaz Adian Husaini juga pernah bilang, menulis itu merangkai ide,” kata dia.
Sementara bagi Reisya (satu-satunya mahasiswi yang menjadi pembicara pada kesempatan itu) mengatakan, motivasi yang melatarbelakangi dirinya bisa menerbitkan buku dan suka dengan dunia literasi tidaklah berbeda dengan ketiga temannya. Namun ia menambahkan, selain manfaat menulis yang berguna untuk menyusun pemahaman, motivasinya berkecimpung di dunia literasi didorong oleh niatnya untuk mengamalkan ilmu dan meneruskan tradisi guru-gurunya.
“Motivasi saya menulis adalah untuk mengamalkan ilmu. Ini juga menjadi satu usaha untuk melanjutkan tradisi para guru. Kalau mereka sudah tiada, maka siapa yang akan melanjutkan tradisi mereka selain kita sebagai muridnya,” terangnya kepada para pengunjung IBF yang ikut menyimak.
Acara ditutup dengan epilog yang disampaikan oleh ustaz Hadi Nur Ramadhan selaku Alumni STID Mohammad Natsir sekaligus Founder Rumah Sejarah Indonesia.
“Kita perlu menyemarakan dunia literasi dengan tulisan-tulisan yang berkualitas seperti yang telah dilakukan oleh para mahasiswa STID ini, sehingga kedepannya kita memiliki pemimpin-pemimpin yang hebat dan berkualitas,” ucap Hadi. [Dzikri/ MediaDakwah]

