Kajian Menarik Mengenai Konsep Pendidikan Tinggi Islam Menurut Mohammad Natsir

Oleh : Dwi Budiman Assiroji
Pagi ini, program Tadarus Pemikiran Mohammad Natsir yang dilaksanakan oleh STID Mohammad Natsir kembali dilaksanakan dengan pemateri Dr. Askar Patahuddin. Wakil Direktur Akademi Da’wah Indonesia (ADI) Dewan Da’wah Sulawesi Selatan ini memaparkan tema mengenai Konsep Pendidikan Tinggi Mohammad Natsir dan Implementasinya di Indonesia. Tema ini diambil dari kajian disertasinya di Universitas Islam Ibn Khaldun Bogor.
Kajian Doktor Askar ini menarik di tengah fenomena terjadinya sekularisasi dan masuknya faham materialisme di dunia pendidikan tinggi. Akibatnya alumni pendidikan tinggi tidak memiliki moral yang kuat. Tujuan hidupnya setelah lulus adalah mencari pekerjaan dan memang mereka dibentuk untuk hanya mampu menjadi pekerja. Satu fenomena yang sudah terjadi sejak masa Pak Natsir dulu.
Dalam presentasinya Doktor Askar menjelaskan bahwa perhatian Pak Natsir terhadap pendidikan tinggi sudah muncul sejak awal. Terbukti dari keterlibatan Pak Natsir dalam pendirian Sekolah Tinggi Islam (STI) pertama di Indonesia. STI ini didirikan pada bulan Juli 1945, satu bulan sebelum Indonesia merdeka. Kini STI sudah berkembang menjadi Universitas Islam Indonesia (UII) di Jogjakarta.
Ia kemudian menjelaskan bahwa ciri khas konsep Pak Natsir mengenai pendidikan tinggi adalah Pak Natsir meyakini bahwa pendidikan tinggi Islam terbaik adalah pendidikan yang mengarahkan mahasiswa dan lulusannya berorientasi kepada da’wah serta mendorong kepada spesifikasi keilmuan (profesionalisme).
Dari ciri khas inilah, maka Pak Natsir berpendapat bahwa dasar dari pendidikan tinggi haruslah tauhid, sesuai dengan surat Adz-Dzariyat ayat 56. Dari dasar tauhid inilah diharapkan lahir manusia yang beriman, bertaqwa dan beradab, terutama kepada Allah dan rasul-Nya. Tujuan pendidikan tinggi juga sesuai dengan jiwa tauhid, yakni menjadikan mahasiswa sebagai hamba Allah yang beradab dan menjadi seorang muballigh. Disamping itu pendidikan tinggi harus menjadikan mahasiswa sebagai manusia yang mampu memandang kehidupan dunia dan akhirat secara proporsional, secara integral, tidak memisahkan keduanya sebagaimana faham sekular.
Doktor Askar juga menjelaskan mengenai perhatian Pak Natsir terhadap desekularisasi ilmu. Sebab kini memang sedang terjadi sekularisasi dalam ilmu. Maka pendidikan tinggi harus melakukan proses desekularisasi. Konsep yang ditawarkan Pak Natsir adalah konsep integral, menyatukan metafisika dalam dunia ilmiah.
Yang juga menarik, Doktor Askar menjelaskan bahwa Pak Natsir berpendapat bahwa seorang dosen harus memiliki jiwa muballigh. Artinya dalam memberikan kuliah dosen harus juga menggunakan metode hikmah, mau’idzah hasanah dan mujadalah yang ihsan. Ini artinya penanaman nilai-nilai da’wah tidak hanya menjadi tanggungjawab dosen ilmu da’wah tapi juga menjadi tanggungjawab seluruh dosen, apapun mata kuliah yang diampu.
Konsep pendidikan tinggi Islam Pak Natsir ini menarik dan penting, karena itu perlu terus dikaji agar dapat menjadi panduan kita hari ini dalam mengelola lembaga pendidikan tinggi. Di STID Mohammad Natsir, sejak awal kami terus berusaha agar konsep yang dijalankan sesuai dengan konsep yang digagas Pak Natsir ini. Semoga dengan kajian-kajian semacam Tadarus Pemikiran Mohammad Natsir ini semakin meneguhkan tertanamnya konsep Pak Natsir di kampus STID Mohammad Natsir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *