stidnatsir.ac.id- Alumni Akhwat STID Mohammad Natsir Kampus Putri menyelenggarakan kajian ilmiah bertajuk “Jihad Peradaban di Bulan Ramadhan” sebagai bagian dari rangkaian kegiatan pembinaan ruhiyah dan intelektual di bulan suci Ramadhan.
Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom pada hari Kamis, 19 Februari 2026 bertepatan dengan 1 Ramadhan 1447, pukul 08.30 sampai 09.45 WIB dan diikuti oleh 25 peserta dari kalangan alumni lintas generasi.
Kajian menghadirkan narasumber, Dr. Adian Husaini, M.Si Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia sebagai pemateri kajian pertama yang menyampaikan pemaparan komprehensif mengenai urgensi pembangunan peradaban Islam melalui penguatan aspek spiritual, intelektual, dan moral individu Muslim.
Dalam pemaparannya, Dr. Adian Husaini menegaskan bahwa kebangkitan peradaban Islam tidak dapat dilepaskan dari kualitas generasi yang dibentuk. Beliau merujuk pada keutamaan tiga generasi terbaik dalam sejarah Islam dari kalangan para Sahabat, Tabi’in, dan Tabi’ut Tabi’in, yakni sebagai model ideal generasi pembangun peradaban.
Menurut beliau, ibadah Ramadhan seyogianya tidak dipahami secara ritualistik semata, melainkan harus mencakup tiga dimensi fundamental:
Tilawah – Penguatan hubungan dengan Al-Qur’an sebagai sumber nilai dan pedoman hidup.
Tazkiyah – Proses penyucian jiwa dan pembinaan akhlak.
Ta’lim. Ketiga aspek tersebut merupakan satu kesatuan integral dalam membentuk individu bertakwa yang menjadi fondasi kebangkitan umat.
Lebih lanjut, Dr. Adian Husaini menekankan bahwa hakikat kurikulum pendidikan Islam adalah tazkiyah, yakni upaya sistematis membersihkan hati dari berbagai penyakit seperti kemalasan, hasad, dengki, serta rendahnya etos kerja. Tanpa proses tazkiyah, pendidikan berpotensi melahirkan individu berilmu tetapi tidak berkarakter.
Dalam perspektif Islam, standar kemuliaan manusia tidak diukur dari kedudukan sosial, penampilan fisik, maupun kepemilikan materi, melainkan dari tingkat ketakwaan dan kontribusi kemaslahatan yang diberikan kepada masyarakat.
Dalam kajian tersebut, disampaikan pula bahwa secara global dikenal delapan peradaban besar, yaitu: Peradaban Barat, Islam, Cina, Afrika, Jepang, Hindu, Ortodoks, dan Amerika Latin.
Dr. Adian Husaini menjelaskan bahwa peradaban modern cenderung menempatkan manusia sebagai pusat (antroposentris) dan memisahkan kehidupan dari aturan Ilahi. Dalam paradigma tersebut, kemuliaan sering kali diukur dari parameter materialistik. Sebaliknya, peradaban Islam bersifat teosentris, menjadikan tauhid sebagai fondasi utama kehidupan, serta menempatkan ketaatan kepada Allah sebagai orientasi tertinggi dalam seluruh aspek kehidupan. Perbedaan mendasar ini, menurut beliau, menjadi titik tolak penting dalam merumuskan kembali strategi jihad peradaban, yakni upaya sungguh-sungguh membangun peradaban berbasis tauhid, ilmu, dan akhlak.
Kegiatan ini menjadi momentum reflektif bagi Alumni Akhwat STID Mohammad Natsir untuk meneguhkan kembali peran strategisnya dalam medan dakwah dan pendidikan. Ramadhan diposisikan sebagai bulan pembinaan karakter sekaligus penguatan visi perjuangan.

