Kuliah Umum STID Mohammad Natsir Bahas Wawasan Geostrategis dalam Gerakan Dakwah

Tambun — STID Mohammad Natsir kembali menggelar kuliah umum sebagai bagian dari penguatan akademik dan kaderisasi pada Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026. Kegiatan ini berlangsung di Masjid Wadhhah Abdurrahman Al Bahr, Pusdiklat Dewan Dakwah Tambun, pada Selasa (21/4), dengan menghadirkan pemateri Dzikrullah W. Pramudya.

Mengusung tema “Pengantar Wawasan Geostrategis dan Penerapannya pada Gerakan Dakwah”, kuliah umum ini diikuti oleh seluruh mahasiswa sebagai bagian dari upaya memperluas perspektif dakwah di tingkat global.

Dalam sambutannya, Ketua STID Mohammad Natsir, Dr. Dwi Budiman Assiroji,M.Pd.I menegaskan pentingnya momentum kuliah umum sebagai awal kembali aktifnya proses kaderisasi setelah jeda Ramadhan.

Ia menyampaikan bahwa mahasiswa STID merupakan kader da’i dan da’iyah yang dipersiapkan untuk menjawab kebutuhan umat, tidak hanya dalam lingkup nasional, tetapi juga internasional.

“Kuliah umum ini menjadi penanda bahwa proses kaderisasi kita kembali dimulai. Tema geostrategis yang diangkat sangat relevan, karena dakwah tidak boleh dibatasi oleh sekat-sekat wilayah. Dakwah harus melampaui batas negara dan menjadi rahmat bagi seluruh alam,”.

Beliau juga mengaitkan semangat dakwah dengan pesan Rasulullah ﷺ dalam khutbah wada’, yang mendorong umat Islam untuk menyampaikan risalah kepada yang belum mengetahuinya. Prinsip ini, menurutnya, menjadi landasan gerakan dakwah lintas negara sebagaimana dicontohkan oleh tokoh nasional Mohammad Natsir.

Lebih lanjut, Ketua STID menyampaikan bahwa kampus terus mendorong ekspansi dakwah ke luar negeri, termasuk pengiriman dai ke kawasan Asia Tenggara seperti Timor Leste.

Dalam pemaparannya, Ustaz Dzikrullah menekankan bahwa dakwah tidak bisa dilepaskan dari pemahaman terhadap kondisi global, termasuk aspek geopolitik dan geostrategis.

Ia mengajak mahasiswa untuk melihat dakwah sebagai bagian dari solusi peradaban, bukan sekadar aktivitas lokal.

“Kalau negeri ini berhenti melahirkan kader dakwah, maka masa depan bangsa akan suram. Antum semua adalah harapan yang menjaga perjalanan bangsa ini tetap menuju cahaya,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti pentingnya membaca potensi wilayah strategis, seperti kawasan Selat Malaka, yang memiliki nilai ekonomi dan geopolitik tinggi, namun belum sepenuhnya dimanfaatkan dalam kerangka pembangunan sumber daya manusia, termasuk kader dakwah.

Menurutnya, da’i masa depan perlu memiliki cara berpikir strategis, mampu membaca peta kekuatan dunia, serta memahami bagaimana dakwah dapat hadir sebagai solusi di tengah dinamika global.

Pada bagian penutup, pemateri menegaskan bahwa materi geostrategis bukan sekadar pengetahuan teoritis, melainkan alat untuk membentuk pola pikir.

“Yang terpenting bukan hanya informasi, tetapi cara berpikir. Bagaimana melihat persoalan, memahami realitas, dan menerapkannya dalam medan dakwah di mana pun berada,” jelasnya.

Ia juga mendorong mahasiswa untuk memiliki cita-cita besar dalam dakwah, dengan menjadikan Rasulullah ﷺ dan para sahabat sebagai standar tertinggi dalam perjuangan, bukan hanya berhenti pada tokoh-tokoh setelahnya.

Kegiatan ini diharapkan mampu memperluas wawasan mahasiswa serta memperkuat kesiapan mereka dalam menghadapi tantangan dakwah global. STID Mohammad Natsir terus berkomitmen mencetak kader dai yang tidak hanya kuat secara keilmuan tetapi juga memiliki visi strategis dalam membangun peradaban Islam di tingkat dunia.

Dengan terselenggaranya kuliah umum ini, diharapkan semangat dakwah mahasiswa semakin tumbuh, seiring dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya peran strategis dai dalam menjawab tantangan umat di era global. (Humas STID Mohammad Natsir)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *