Alhamdulillah, pada pagi hari ini, Rabu, 12 Maret 2025, STID Mohammad Natsir kembali melaksanakan kajian luar biasa yang mengupas pemikiran seorang pahlawan nasional sekaligus tokoh pemersatu bangsa dalam kajian bertajuk “Tadarus Pemikiran Mohammad Natsir”. Kajian ini menghadirkan Ustadz Dr. Ir. Naufal Mahfudz, MM, Kepala Lembaga Kepemimpinan dan Pendidikan Eksekutif IPB University, sebagai pemateri utama.

Dalam kajian ini, Dr. Ir. Naufal Mahfudz, MM membahas tema besar tentang Mohammad Natsir sebagai pemersatu bangsa. Pemikiran beliau begitu menarik untuk dikaji lebih dalam. Allah Yarham Mohammad Natsir dikenal sebagai seorang pendidik, jurnalis, penulis, politisi, ulama, dai, serta tokoh internasional. Sosoknya bagaikan berlian dengan banyak sisi yang memancarkan cahaya ilmu dan perjuangan. Beliau adalah seorang negarawan yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanan politik Indonesia, terutama dalam memperjuangkan negara kesatuan melalui konsep Mosi Integral yang ia gagas.
Perjalanan Karir Politik Mohammad Natsir
Karir politik Mohammad Natsir dimulai pada tahun 1938, ketika ia bergabung dengan Partai Islam Indonesia (PII) di usia 30 tahun. Pada tahun 1940-1942, beliau menjadi ketua Jong Islamieten Bond di Bandung, dan kemudian aktif dalam Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI), yang kemudian berubah menjadi Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi). Pada puncaknya, Masyumi menjadi partai Islam terbesar di Indonesia, bersanding dengan Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai tiga partai terbesar di era 1950-an. Natsir memimpin Masyumi sebagai ketua umum selama kurang lebih 10 tahun.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan, Mohammad Natsir diangkat menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) pada 30 Oktober 1945. Kisahnya dalam dunia politik semakin menarik ketika ia secara tak terduga didaftarkan sebagai anggota KNIP oleh sahabatnya, Abdul Kahar Muzakkar. Dalam buku Natsir: Politik Santun di Antara Dua Rezim yang diterbitkan oleh Tempo, diceritakan bagaimana pemikiran politiknya turut mewarnai kehidupan bernegara Indonesia pada masa awal kemerdekaan.
Mosi Integral: Tonggak Kembalinya Negara Kesatuan Republik Indonesia
Setelah Konferensi Meja Bundar (KMB) pada Agustus-November 1949, Indonesia disepakati menjadi negara federal dengan nama Republik Indonesia Serikat (RIS). Namun, kondisi ini justru menimbulkan ketidakstabilan, di mana Indonesia terpecah menjadi 16 negara bagian. Situasi ini semakin memperburuk keadaan, mengingat banyak negara bagian merupakan ciptaan Belanda untuk melemahkan Indonesia.
Melihat kondisi ini, Mohammad Natsir menggagas Mosi Integral, yang mengusulkan pembubaran negara-negara bagian dan pengembalian Indonesia ke bentuk negara kesatuan. Dalam pandangannya, negara kepulauan seperti Indonesia tidak cocok dengan sistem federal. Sebaliknya, konsep negara kesatuan lebih sesuai untuk menjaga persatuan dan kedaulatan bangsa.

Pada 3 April 1950, Mohammad Natsir menyampaikan pidato bersejarahnya di sidang parlemen DPRS-RIS. Pidato ini berhasil meyakinkan berbagai fraksi di parlemen, termasuk tokoh-tokoh dari berbagai partai seperti Sjaifuddin Abbas (Perti), I.J. Kasimo (Partai Katolik), A.M. Tambunan (Parkindo), Amelz (PSI), dan Sukirman (PKI). Pidato ini akhirnya menghasilkan kesepakatan politik yang menjadi dasar bagi pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Pada 19 Mei 1950, hasil dari Mosi Integral ini diwujudkan dalam bentuk Piagam Persetujuan yang menyepakati pembentukan negara kesatuan. Kemudian, pada 17 Agustus 1950, Indonesia secara resmi kembali ke bentuk NKRI, yang sering disebut sebagai “Proklamasi Kedua” setelah proklamasi kemerdekaan 1945.
Warisan Pemikiran dan Perjuangan Mohammad Natsir
Keberhasilan Mohammad Natsir dalam menyatukan Indonesia melalui Mosi Integral membuktikan bahwa beliau adalah seorang pemimpin visioner dengan pemikiran politik yang tajam. Bung Karno sendiri mengakui kehebatan Natsir dengan menyebutnya sebagai “He is the man”, sosok yang mampu mengatasi perpecahan dan menyatukan bangsa.
Peran Mohammad Natsir tidak hanya terbatas dalam dunia politik. Sebagai pendidik, ia turut membangun lembaga pendidikan Islam, serta sebagai jurnalis, ia aktif menulis untuk menyebarkan pemikirannya. Sebagai ulama dan dai, ia berkontribusi dalam penyebaran dakwah Islam di Indonesia dan dunia.
Hingga kini, pemikiran dan perjuangan Mohammad Natsir tetap relevan sebagai inspirasi bagi generasi penerus. Nilai-nilai perjuangannya dalam mempertahankan persatuan bangsa dan memperjuangkan Islam di tengah kehidupan bernegara harus terus diwarisi dan dipelajari.

Kajian “Tadarus Pemikiran Mohammad Natsir” yang diselenggarakan oleh STID Mohammad Natsir ini menjadi momentum penting untuk menggali lebih dalam warisan intelektual dan perjuangan beliau. Semoga semangat dan pemikiran Mohammad Natsir tetap hidup dalam sanubari generasi bangsa, menginspirasi persatuan, dan membangun Indonesia yang lebih baik.
Oleh: Humas STID Mohammad Natsir

