Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PERSIS), Dr. Jeje Zaenudin memberikan orasi ilmiah dalam wisuda sarjana strata satu ke-14 dan tasyakur 25 tahun Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Mohammad Natsir (STID M. Natsir), Selasa (20/8/24).
Dalam acara yang dihelat di di Aula Masjid Al-Furqan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Jalan Kramat Raya 45, Jakarta Pusat, ia berharap STID M. Natsir dapat makin meningkatkan kompetensi kader-kader dai guna menghadapi tantangan dakwah yang semakin besar.
“Selain tentunya kompetensi ilmu-ilmu syariah, penting sekali memperkuat wawasan dakwah nasional Indonesia yang meliputi aspek historis, sosiologis, yuridis, politis, dan ekonomis, ” kata dia.
Menurutnya, wawasan historis bagi para dai menjadi bekal untuk kesinambungan perjuangan dakwah lampau dengan perubahan yang baru.
“Tidak lepas dari aspek historis, pemahaman sosiologis menjadi penting untuk pembentukan umat. Sebab, masyarakat memiliki adat dan budaya yang berbeda-beda,” ujarnya.
Selanjutnya, aspek yuridis menjadi penting sebagai bekal sebab proses dakwah berhadapan dengan sistem hukum dan pemerintahan yang berlaku. Ilmu hukum yang terkait dengan pelaksanaan dakwah berguna untuk menjaga kerukunan antar umat beragama.
Di samping itu, wawasan politik nasional menjadi pelancar proses dakwah. Karena, mau tidak mau para dai berkontribusi menyiapkan pemimpin yang paham bernegara dan ajaran agama. Dengan lahirnya pemimpin seperti itu, maka terjadilah keselarasan antara urusan negara dan dakwah.
Terakhir, aspek ekonomi dalam berdakwah menjadi perwujudan dari perintah Allah, yaitu berjihadlah di jalan Allah dengan diri dan harta kalian. Sebab, dakwah adalah jihad yang juga membutuhkan sarana dan logistik.
“InsyaAllah dengan usianya yang sudah seperempat abad ini, kita yakin STID Mohammad Natsir kedepan semakin matang dan semakin mapan, juga semakin kokoh dalam memberikan nilai-nilai juang kepada kader yang dididiknya,” pungkasnya.

