Apel Siaga Da’wah STID Mohammad Natsir: Menguatkan Komitmen Kader Da’i dalam Melanjutkan Risalah Perubahan Peradaban

Bekasi, 13 Mei 2025 – Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) STID Mohammad Natsir sukses menyelenggarakan kegiatan Apel Siaga Da’wah pada Selasa, 13 Mei 2025 bertempat di Lapangan Kampus STID Mohammad Natsir. Acara ini dimulai pukul 16.00 WIB hingga selesai, dengan dihadiri oleh seluruh mahasiswa serta jajaran pengurus DEMA.

Kegiatan ini mengangkat tema besar:
“Risalah Merintis, Da’wah Melanjutkan, Meneguhkan Identitas Kader Da’i sebagai Pelopor Perubahan Peradaban”, yang menjadi refleksi mendalam terhadap tanggung jawab kader da’i dalam meneruskan estafet perjuangan dakwah.

Dalam sambutannya, Ketua DEMA STID Mohammad Natsir Kabinet Restorasi Masa Jabatan 2024/2025 menegaskan bahwa tema yang diangkat memiliki makna yang sangat dalam. Beliau menyinggung warisan pemikiran Bapak Mohammad Natsir dalam konsep tiga pilar utama perjuangan: masjid, kampus, dan pesantren — yang ketiganya telah dijalani secara nyata di STID Mohammad Natsir dan terbukti mampu melahirkan ribuan da’i yang kini tersebar di berbagai pelosok Indonesia.

Lebih lanjut, beliau menyampaikan bahwa masa jabatan DEMA periode 2024/2025 kini berada di ujung akhir perjalanan. Ia menuturkan bahwa perjalanan dakwah akan terus berlanjut, dan takdir akan mempertemukan risalah ini dengan orang-orang terpilih yang kelak akan mengemban amanah DEMA STID Mohammad Natsir selanjutnya.

Acara dilanjutkan dengan penyampaian orasi ilmiah oleh Ketua STID Mohammad Natsir, Dr. Dwi Budiman Assiroji, M.Pd.I, yang mengangkat tema utama acara. Dalam orasinya, beliau mengajak seluruh peserta apel untuk merenungkan kembali tujuan mereka menuntut ilmu di kampus dakwah ini. Beliau mengutip nasihat KH Syuhad Bahri dalam bukunya, bahwa di atas panggung kehidupan ini selalu ada dua kekuatan besar yang saling berhadapan.

“Keputusan antum untuk bergabung di kampus dakwah ini bukanlah untuk sekadar memperoleh ijazah atau mencari peluang duniawi, tapi untuk melanjutkan risalah para Nabi dan Rasul. Inilah komitmen kita,” ujar beliau.

Lebih lanjut, Ustadz Dwi menegaskan bahwa dakwah tidak memerlukan kita, tapi kitalah yang membutuhkan dakwah. Dakwah akan terus hidup, karena akan selalu ada hamba-hamba Allah yang diberi hidayah untuk memikul amanahnya.

Dalam orasinya, beliau juga menyampaikan isi dari buku karya Ustadz Syuhada Bahri yang berjudul “Selamatkan Indonesia dengan Dakwah.” Dalam buku tersebut, disebutkan bahwa ada empat langkah yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam untuk menggugurkan para kader da’i dari jalan dakwah.

“Salah satunya,” kata beliau, “adalah menyebarkan virus cinta dunia. Inilah al-hawan — kecintaan terhadap dunia dan ketakutan terhadap kematian. Musuh-musuh Islam tahu, selama umat ini mencintai dunia dan takut mati, maka mereka akan lemah dan mudah dipatahkan.”

Orasi ilmiah ini menjadi pengingat dan penguat bagi seluruh kader da’i, bahwa perjuangan dakwah bukan sekadar agenda kegiatan, tetapi adalah misi besar peradaban. Apel Siaga Da’wah kali ini menjadi momentum penting dalam mengokohkan niat dan menguatkan komitmen seluruh kader da’i untuk terus melanjutkan risalah mulia ini, kapan pun dan di mana pun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *